
Overall seluruh kejadian seputar Natal di tahun 2007 ini sangat membekas di hati. Thank You God for all the messages you want me to understand, thank you for still loving me after all I’ve done to You in year 2007 and thank you for the renewal relationship with You.
Orphans Place – HOPE
Kunjungan Natal 2 kelompok FA kami – lebih dari 10 keluarga bersama anak-anak ke Panti Asuhan HOPE di Sentul. Wajah 11 anak yang penuh sukacita ketika kami berkunjung ke sana. Doa tulus salah seorang anak perempuan “Terima kasih Tuhan untuk hari ini …. Tuhan yang tolong supaya hari ini kami mendapatkan hadiah …. “. Semua nya sangat menyentuh hati.
Mereka jauh dari persiapan Natal berbelanja heboh di Metro Pondok Indah … jauh sekali dari kehebohan memilih lebih dari 60 jenis kue di Harvest … jauh sekali dari kehebohan mengubah tema pohon Natal dari sebelumnya berwarna emas, menjadi berwarna merah, dan tahun ini berwarna orange ….
Kehadiran kami dan lagu-lagu yang dinyanyikan bersama sudah menjadi ucapan Syukur tak terhingga … kamar-kamar yang kosong namun sangat bersih, menjadi keseharian yang tak habisnya mereka syukuri … kehadiran bayi-bayi yang terbuang dan tertidur dengan nyaman di siang hari itu merupakan berkat yang luar biasa karena mereka bisa saling menolong dan saling mengasihi … pohon natal yang sangat sederhana sudah menjadi keistimewaan yang luar biasa … apalagi aneka rasa roti unyil, pudding jelly ibu Zelly dan makan siang Mc D menjadi keistimewaan Natal tak terhingga buat mereka.
Natal ada di hati mereka … Natal ada dalam ungkapan Syukur yang terus menerus atas apa pun yang sudah Tuhan berikan buat mereka … tidak ada tuntutan dan tidak ada standard khusus … semua mengalir karena mereka percaya Tuhan selalu pelihara mereka ...
Belajar lagi hal yang baru di tempat ini. Tuhan sudah begitu baik memelihara kami semua ... seringkali terlalu banyak hal dalam daftar kebutuhan hidup yang terus menerus ditambahkan dan lupa melihat ke baris-baris sebelumnya betapa semua sudah dipenuhi dengan luar biasa oleh Dia bahkan tanpa kita minta.
Bersyukur untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan buat kami, sehat, pintar, terpelihara baik dan memiliki masa depan yang masih bisa direncanakan.
Bersyukur untuk 10 keluarga teman dekat yang selalu ada di sekitar kami dan saling mendukung Kel P. Posma, Kel P. Deddy, Kel P. Daniel, Kel. P. Ferry, Kel P. Jimmy, Kel. P. Edi, Dr. Edison, Anton, Kel. P. Purba, Kel. P. Herry, Kel P. Miming, dan juga Butet.
Thanks to You ...
O Holy Night – sung by Veda
Tahun ini vibra pada suara Veda semakin kentara. Dan seperti kesibukan di Natal sebelumnya, maka Veda harus mempersiapkan dirinya untuk berlatih karena harus menyanyi di berbagai tempat.
Tidak mudah untuk melatih Veda bernyanyi dengan hati dan mengingatkan dia bahwa Tuhan yang memberikan dia talenta indah untuk bernyanyi .. semua harus dikembalikan untuk memuliakan nama Nya ... yang Veda ingin lakukan adalah bernyanyi secukup-cukupnya saja dan sesuai dengan pesanan .... tidak perlu gaya macam-macam, tidak perlu tersenyum, tidak juga perlu dilengkapi dengan dandanan tipis dan apalagi lipstick. Well ... thats her ....
Malam itu tanggal 23, Veda tampil di atas Altar sebelum khotbah dan bernyanyi diiringi oleh Anak-anak Musik ... lagunya O Holy Night .... suaranya sangat indah, bening dan nyaring ... pronounciation nya sangat jelas dan cukup native ... semua terdiam dan mendengarkan suara Veda dengan takjub ... Veda menepati janjinya .. bernyanyi dengan hati nya .....
Sementara aku ... rasanya semakin tertegur .... Tuhan baik sekali mempercayakan anak perempuan seperti dia buat aku dan Mono pelihara di kehidupan kami. Anak perempuan dengan talenta yang luar biasa, anak perempuan yang bisa jadi berkat buat banyak orang, anak perempuan yang kepadanya ternyata kami masih terus menuntut hal-hal lain sesuai standard dunia yang harus dia penuhi. Seharusnya kembali bersyukur karena di sinilah kelebihan Veda yang paling terlihat ... semua dia persembahkan untuk memuliakan Dia, semuanya sudah sangat lebih dari cukup.
Kembali bersyukur untuk kesadaran yang timbul di hati ... Veda adalah anugerah indah yang sudah boleh kami miliki ...
Thanks to You ...
Tante Madke
Natal tahun ini Tante Madke kembali menyempatkan diri datang dari Makasar ke Bogor dan menginap di rumah kami untuk hanya 1 malam. Rindu pada cucu, demikian alasannya. Duduk dan mendengarkan Tante ku ini bercerita panjang lebar tentang pekerjaan dan kesibukannya sungguh membuat takjub. Tante Madke tinggal seorang diri di Makasar ... di rumah yang cukup luas hanya ditemani sejumlah doggy yang disayanginya sepenuh hati. Tante berusia 60 tahunan ini pensiun sebagai Kepala salah satu Departemen yang bertanggung jawab atas pembangunan di negara ini.
Di usia setelah pensiun, pelayanannya tidak berakhir ... bahkan semakin lebih dan lebih lagi .... dia bekerja sebagai konsultan pembangunan daerah miskin di Indonesia Timur ... kerinduan hatinya adalah membangun area Wamena dan Papua untuk memperbaiki kehidupan rakyat di sana yang selama ini tidak tersentuh peradaban dan disia-sia kan oleh pemerintah daerahnya. Perjalanan Makasar – Wamena dan Papua dilakukannya sesering dan seolah sedekat jarak Jakarta-Bandung saja. Assesmentnya atas kebutuhan pembangunan jalan mulai terwujud dan terlaksana, perjuangannya untuk mendapatkan dukungan dana dari lembaga asing pun berjalan dengan baik. Kegembiraannya adalah bercerita tentang orang-orang berkoteka yang masih sangat primitif dan bergembira dengan hal-hal kecil seperti kue ”Biskuat” yang selalu Tante ku bawa karena itu yang mereka gemari.
Tante Madke tidak pernah merasa takut. Kesendiriannya (karena perkawinannya yang tidak berjalan baik) tidak membuat dia merasa perlu mendekat pada keluarga besarnya. Kesendiriannya mengalihkan waktu dan tenaga yang dimilikinya untuk melayani dan memperhatikan orang lain. Orang-orang yang masih berkoteka dan memakai celana daun, orang-orang yang masih sangat miskin dan terkebelakang ... mungkin Tante Madke seolah menggarami laut .... demikian banyak rakyat terkebelakang dan miskin di negara ini ... namun apa yang diperbuatnya berarti sungguh luar biasa untuk banyak orang di Wamena sana.
Kembali merenung .... setiap orang harus melakukan pelayanan yang berarti buat orang lain .....Tante Madke terus melakukan bagiannya dengan hatinya .... bersyukur sekali Tuhan terus memelihara dan menjaga dia dalam segala perjalanan yang harus ditempuhnya dengan pesawat terbang lokal dan seringkali kapal laut. Bersyukur untuk kesehatan dan sukacita yang dia miliki. Bersyukur karena penyakit kanker nya tidak timbul dan mengganggu dia lagi.
Bersyukur untuk belajar hal yang lain mengenai melayani sesama dalam bentuk yang lebih nyata ..... meletakkan hati kita di sana ... itu kunci utamanya.
Carolyn
Berita mengejutkan itu kami terima di malam Natal setelah beribadah di Gereja. Carolyn akhirnya meninggal dunia setelah bertempur melawan kanker payudara selama sekitar 2 tahun yang berlalu. Yang sangat mengejutkan adalah topic mengenai dirinya baru saja aku diskusikan dengan teman sehari sebelumnya, karena Gabi anak nya menjadi cover pada majalah gereja kami. Berita terakhir yang aku dengan sehari sebelumnya adalah, Carolyn sudah lebih sehat.
Tidak terlalu mengenalnya dengan sangat dekat. 2 tahun yang lalu berjumpa di Gedung Kesenian Jakarta. Gabby dan Veda sama-sama pentas balet dan Carolyn yang terlebih dahulu memperkenalkan dirinya. Ternyata dia bekerja di Kantor Gereja dan kami sama-sama melayani sekalipun di tempat yang berbeda. Selanjutnya kadang berjumpa dengan dia dalam acara doa dan dalam berbagai acara Gereja. Beberapa kali melihat Carolyn dalam keadaan kurang sehat, ternyata dia menderita kanker payudara dan terus menjalani pengobatannya.
Kadang berjumpa dengan dia menggunakan topi dan kadang menggunakan rambut palsu. Tubuhnya terlihat kurang fit tapi wajahnya selalu penuh dengan sukacita.
Tidak terlalu mengenalnya dengan sangat dekat. Tapi 3 kali mengunjungi jazadnya di Sinar Kasih dalam 2 kali ibadah yang dilakukan cukup membuat aku dan setiap orang di sana memahami siapa Carolyn dalam hidupnya sampai akhir hayatnya. Seorang wanita yang sangat luar biasa. Ibu yang baik dari anak perempuannya Gaby yang seusia Veda, Istri yang setia mendampingi suaminya hampir 20 tahun (dengan usia perkawinannya yang baru 8 tahun), Pelayan Tuhan yang luar biasa. Dia tetap bersukacita dan punya pengharapan sampai akhir hidupnya bahwa suatu saat ida akan sehat kembali. Ternyata dia tidak pernah mengeluh sekalipun kesakitan dari penyakitnya sangat luar biasa. Ternyata juga dia selalu berusaha untuk tetap bekerja (sebagai pegawai di Kantor Gereja) sekalipun sakit dan badannya lemah. Tak ada yang dapat menghalanginya untuk terus melayani dan hebatnya dengan tetap bersukacita. Ketika akhirnya dia dipanggil pulang di Malam Natal, semua orang di sana mengenangnya dengan sangat indah. Sebagai perempuan yang sempurna.
Kembali merenung .... ketika suatu hari nanti kita pergi ... buku seperti apakah yang ditinggalkan bagi orang-orang di sekitar, paling tidak bagi anak-anak dan suami tercinta ... apakah buku yang memuat cerita yang baik tentang bunda? Atau buku yang hanya memuat bunda yang tanpa kesan berarti bagi mereka (bunda yang tidak punya banyak waktu, terlalu banyak aturan, dan terlalu banyak menuntuntut kesempurnaan).
Kembali bersyukur untuk pelajaran baru dari kehidupan Carolyn ... terutama kesetiaannya pada keluarga dan pada Tuhan
Thanks to You ...
Alma
Keluarga yang sangat dekat dengan kami, Kel P. Posma dan Kak Larissa dengan 3 anak mereka Zefa, Kiel & Alma. Malam Natal kemarin dan sampai hari ini Alma di rumah sakit. Panas tinggi karena didiagnosa campak membawa dia harus diinfus supaya tidak kekurangan cairang tubuh, ternyata setelah waktu berjalan, trombositnya menunjukkan penurunan dan diindikasikan DB, namun kemudian semoga penyakitnya hanya thypus saja, karena tidak semakin memburuk kadar trombositnya. Kami memberikan waktu di Malam Natal untuk mengunjungi Alma ... malam natal mereka di Rumah Sakit, tanpa Gereja, tanpa Christmas Dinner seperti yang baru kami lakukan.
Coba di jabarkan hal-hal apa saja yang sudah dialami keluarga ini .... 3 minggu yang lalu Opung Oma yang memang agak sakit terjatuh dan harus di operasi pinggangnya, proses penyembuhan mentalnya dari ”sakit akibat kekhawatiran” sudah berjalan beberapa tahun ini ... rumah sakit perawatan, metode pengobatan, suster dan tenaga perawat dan berbagai kehebohan lainnya menjadi cerita yang disharingkan pada kami supaya doa dan doa teman-teman bisa terus dinaikkan bersama.
Anak-anak kadang bergantian sakit dan berbagai hal laiinya yang berat terus dialami keluarga ini. Bukan detail mengenai hal ini yang aku mau bahas dalam tulisan ini. Tapi ... lihat wajah mereka semua. Kedekatan dengan berbagai persoalan (seringkali kejadian dengan keluarga ini membuat setiap teman bereaksi ”Wah ... ada apalagi dengan mereka? Aduuh kasian sekali ... adaaaa terus persoalan yang terjadi ... ”) tidak membuat wajah mereka murung dan bersedih. Mukanya terus bergembira dan bersukacita. Ini lah yang disebut ”pengharapan”. Iman mereka membuat mereka tahu kalau ada kuasa yang lebih besar yang mampu mengatasi apa pun persoalan yang diijinkan untuk terjadi pada mereka. Iman mereka membuat mereka mampu terus bersyukur ketika keadaan keluarga mereka ada di titik paling bawah.
Kembali mendapat teguran dalam hati .... sebesar apa rasa syukur dan sukacita ku dalam berbagai keadaan yang buruk dan tidak menyenangkan? Bukankan hal-hal kecil (di kantor misalnya) yang tidak sesuai keinginan hati bisa membuat aku uring-uringan? Bukankah hal kecil seperti polah dan tingkah para asisten di rumah bisa memicu aku untuk langsung naik pitam? Belum lagi ulah Veda dan Ravind yang jungkir balik dan pukul-pukulan bisa membuat kepala sakit dan omelan panjang lebar dikirimkan. Semua dilakukan sebagai ”REAKSI” karena segalanya tidak sesuai dengan yang direncakan ( seharusnya direnungkan ... direncanakan oleh siapa? Oleh aku sendiri? ), selalu ”LUPA” kalau Tuhan sendiri yang merencanakan segala sesuatu sesuai kehendakNya .. sesuai waktuNya .. sesuai saatNya. Semua selalu sempurna dan terbaik ... kalau ternyata tidak sesuai dengan rencanaku .. berarti memang rencanaku belum sesuai dengan rencanaNya ......
Kembali bersyukur untuk pelajaran baru ... menerima dan terus bersyukur untuk segala hal yang terjadi dalam hidupku sekalipun belum sesuai dengan rencanaku ......
Oma Tombokan
Teman Oikumene di dekat rumah ... tinggalnya kira-kira 20 meter dari rumah kami. Oma yang sudah cukup tua dan tinggal berdua dengan putra nya. Terakhir berjumpa ... keadaannya masih baik dan gembira. Setiap teman di sekitar kami sudah beberapa kali menganjurkan untuk mengunjungi Oma. Karena keadaannya memburuk ... tiba-tiba menjadi pikun dan tidak menyadari banyak hal sekalipun tubuhnya tetap sehat.
Alasan kesibukan yang luar biasa menjadi tameng kami berdua. Mengunjungi Oma yang rumahnya terlihat mata baru kemudian kami lakukan setelah 2 bulan menerima berita tersebut.
Oma sedang duduk di kursi membaca Alkitab ketika kami tiba. ”Siapa ya? ... kalian tinggal di mana? Oooh ... kalian tinggal dekat sini .... Oma nih sudah sangat pelupa ... tidak ingat .... nama kalian siapa? Tinggal di mana? Ooooh dekat di sini ya .... ” percakapan yang terus berulang dan tidak berujung ketika sore itu kami ke sana. Sedih melihatnya .....
Memory nya seakan-akan hilang .... tidak ada cerita tentang kami dan teman-teman Oikumene yang diingatnya sekecil apa pun itu. Yang diingatnya (dan banyak salah) adalah memorynya ketika tinggal di Bandung ... itupun ceritanya melompat-lompat tidak beraturan. Kami tidak lama di sana .... berdoa dan kemudian berjanji untuk lebih sering datang dan menemani kesendiriannya.
Kembali diingatkan .... sudah sejauh mana aku melayani orang di sekitarku? Waktu yang kurang selalu jadi alasan yang paling enak untuk tidak memperhatikan banyak orang di sekitar. Urutan perhatian yang kami buat sebagai prioritas pembagian waktu selalu begini : diri sendiri dan pekerjaan, sekolah, anak-anak, keluarga dekat, keluarga jauh, baru terakhir teman-teman. Padahal Tuhan sudah begitu baik pada aku dan keluargaku. Kalau Tuhan memberikan perhatiannya dengan urutan skala prioritas juga ... tak terbayangkan kapan perhatian dan berkat untuk aku dan keluargaku akan tiba, karena jumlah orang yang milyaran banyaknya di dunia.
Tuhan tidak begitu .... Dia ada terus untuk aku dan keluargaku di sepanjang tahun 2007 ini tanpa skala prioritas .... hal ini lah juga yang seharusnya aku bisa berikan untuk orang-orang yang membutuhkan perhatian dan bantuanku .... menjadi saluran berkatNya .....
Kembali bersyukur karena diingatkan hakekat pelayanan dan komitmenku pada Dia ...
Thanks to You for all the Christmas Messages .......
Orphans Place – HOPE
Kunjungan Natal 2 kelompok FA kami – lebih dari 10 keluarga bersama anak-anak ke Panti Asuhan HOPE di Sentul. Wajah 11 anak yang penuh sukacita ketika kami berkunjung ke sana. Doa tulus salah seorang anak perempuan “Terima kasih Tuhan untuk hari ini …. Tuhan yang tolong supaya hari ini kami mendapatkan hadiah …. “. Semua nya sangat menyentuh hati.
Mereka jauh dari persiapan Natal berbelanja heboh di Metro Pondok Indah … jauh sekali dari kehebohan memilih lebih dari 60 jenis kue di Harvest … jauh sekali dari kehebohan mengubah tema pohon Natal dari sebelumnya berwarna emas, menjadi berwarna merah, dan tahun ini berwarna orange ….
Kehadiran kami dan lagu-lagu yang dinyanyikan bersama sudah menjadi ucapan Syukur tak terhingga … kamar-kamar yang kosong namun sangat bersih, menjadi keseharian yang tak habisnya mereka syukuri … kehadiran bayi-bayi yang terbuang dan tertidur dengan nyaman di siang hari itu merupakan berkat yang luar biasa karena mereka bisa saling menolong dan saling mengasihi … pohon natal yang sangat sederhana sudah menjadi keistimewaan yang luar biasa … apalagi aneka rasa roti unyil, pudding jelly ibu Zelly dan makan siang Mc D menjadi keistimewaan Natal tak terhingga buat mereka.
Natal ada di hati mereka … Natal ada dalam ungkapan Syukur yang terus menerus atas apa pun yang sudah Tuhan berikan buat mereka … tidak ada tuntutan dan tidak ada standard khusus … semua mengalir karena mereka percaya Tuhan selalu pelihara mereka ...
Belajar lagi hal yang baru di tempat ini. Tuhan sudah begitu baik memelihara kami semua ... seringkali terlalu banyak hal dalam daftar kebutuhan hidup yang terus menerus ditambahkan dan lupa melihat ke baris-baris sebelumnya betapa semua sudah dipenuhi dengan luar biasa oleh Dia bahkan tanpa kita minta.
Bersyukur untuk anak-anak yang dipercayakan Tuhan buat kami, sehat, pintar, terpelihara baik dan memiliki masa depan yang masih bisa direncanakan.
Bersyukur untuk 10 keluarga teman dekat yang selalu ada di sekitar kami dan saling mendukung Kel P. Posma, Kel P. Deddy, Kel P. Daniel, Kel. P. Ferry, Kel P. Jimmy, Kel. P. Edi, Dr. Edison, Anton, Kel. P. Purba, Kel. P. Herry, Kel P. Miming, dan juga Butet.
Thanks to You ...
O Holy Night – sung by Veda
Tahun ini vibra pada suara Veda semakin kentara. Dan seperti kesibukan di Natal sebelumnya, maka Veda harus mempersiapkan dirinya untuk berlatih karena harus menyanyi di berbagai tempat.
Tidak mudah untuk melatih Veda bernyanyi dengan hati dan mengingatkan dia bahwa Tuhan yang memberikan dia talenta indah untuk bernyanyi .. semua harus dikembalikan untuk memuliakan nama Nya ... yang Veda ingin lakukan adalah bernyanyi secukup-cukupnya saja dan sesuai dengan pesanan .... tidak perlu gaya macam-macam, tidak perlu tersenyum, tidak juga perlu dilengkapi dengan dandanan tipis dan apalagi lipstick. Well ... thats her ....
Malam itu tanggal 23, Veda tampil di atas Altar sebelum khotbah dan bernyanyi diiringi oleh Anak-anak Musik ... lagunya O Holy Night .... suaranya sangat indah, bening dan nyaring ... pronounciation nya sangat jelas dan cukup native ... semua terdiam dan mendengarkan suara Veda dengan takjub ... Veda menepati janjinya .. bernyanyi dengan hati nya .....
Sementara aku ... rasanya semakin tertegur .... Tuhan baik sekali mempercayakan anak perempuan seperti dia buat aku dan Mono pelihara di kehidupan kami. Anak perempuan dengan talenta yang luar biasa, anak perempuan yang bisa jadi berkat buat banyak orang, anak perempuan yang kepadanya ternyata kami masih terus menuntut hal-hal lain sesuai standard dunia yang harus dia penuhi. Seharusnya kembali bersyukur karena di sinilah kelebihan Veda yang paling terlihat ... semua dia persembahkan untuk memuliakan Dia, semuanya sudah sangat lebih dari cukup.
Kembali bersyukur untuk kesadaran yang timbul di hati ... Veda adalah anugerah indah yang sudah boleh kami miliki ...
Thanks to You ...
Tante Madke
Natal tahun ini Tante Madke kembali menyempatkan diri datang dari Makasar ke Bogor dan menginap di rumah kami untuk hanya 1 malam. Rindu pada cucu, demikian alasannya. Duduk dan mendengarkan Tante ku ini bercerita panjang lebar tentang pekerjaan dan kesibukannya sungguh membuat takjub. Tante Madke tinggal seorang diri di Makasar ... di rumah yang cukup luas hanya ditemani sejumlah doggy yang disayanginya sepenuh hati. Tante berusia 60 tahunan ini pensiun sebagai Kepala salah satu Departemen yang bertanggung jawab atas pembangunan di negara ini.
Di usia setelah pensiun, pelayanannya tidak berakhir ... bahkan semakin lebih dan lebih lagi .... dia bekerja sebagai konsultan pembangunan daerah miskin di Indonesia Timur ... kerinduan hatinya adalah membangun area Wamena dan Papua untuk memperbaiki kehidupan rakyat di sana yang selama ini tidak tersentuh peradaban dan disia-sia kan oleh pemerintah daerahnya. Perjalanan Makasar – Wamena dan Papua dilakukannya sesering dan seolah sedekat jarak Jakarta-Bandung saja. Assesmentnya atas kebutuhan pembangunan jalan mulai terwujud dan terlaksana, perjuangannya untuk mendapatkan dukungan dana dari lembaga asing pun berjalan dengan baik. Kegembiraannya adalah bercerita tentang orang-orang berkoteka yang masih sangat primitif dan bergembira dengan hal-hal kecil seperti kue ”Biskuat” yang selalu Tante ku bawa karena itu yang mereka gemari.
Tante Madke tidak pernah merasa takut. Kesendiriannya (karena perkawinannya yang tidak berjalan baik) tidak membuat dia merasa perlu mendekat pada keluarga besarnya. Kesendiriannya mengalihkan waktu dan tenaga yang dimilikinya untuk melayani dan memperhatikan orang lain. Orang-orang yang masih berkoteka dan memakai celana daun, orang-orang yang masih sangat miskin dan terkebelakang ... mungkin Tante Madke seolah menggarami laut .... demikian banyak rakyat terkebelakang dan miskin di negara ini ... namun apa yang diperbuatnya berarti sungguh luar biasa untuk banyak orang di Wamena sana.
Kembali merenung .... setiap orang harus melakukan pelayanan yang berarti buat orang lain .....Tante Madke terus melakukan bagiannya dengan hatinya .... bersyukur sekali Tuhan terus memelihara dan menjaga dia dalam segala perjalanan yang harus ditempuhnya dengan pesawat terbang lokal dan seringkali kapal laut. Bersyukur untuk kesehatan dan sukacita yang dia miliki. Bersyukur karena penyakit kanker nya tidak timbul dan mengganggu dia lagi.
Bersyukur untuk belajar hal yang lain mengenai melayani sesama dalam bentuk yang lebih nyata ..... meletakkan hati kita di sana ... itu kunci utamanya.
Carolyn
Berita mengejutkan itu kami terima di malam Natal setelah beribadah di Gereja. Carolyn akhirnya meninggal dunia setelah bertempur melawan kanker payudara selama sekitar 2 tahun yang berlalu. Yang sangat mengejutkan adalah topic mengenai dirinya baru saja aku diskusikan dengan teman sehari sebelumnya, karena Gabi anak nya menjadi cover pada majalah gereja kami. Berita terakhir yang aku dengan sehari sebelumnya adalah, Carolyn sudah lebih sehat.
Tidak terlalu mengenalnya dengan sangat dekat. 2 tahun yang lalu berjumpa di Gedung Kesenian Jakarta. Gabby dan Veda sama-sama pentas balet dan Carolyn yang terlebih dahulu memperkenalkan dirinya. Ternyata dia bekerja di Kantor Gereja dan kami sama-sama melayani sekalipun di tempat yang berbeda. Selanjutnya kadang berjumpa dengan dia dalam acara doa dan dalam berbagai acara Gereja. Beberapa kali melihat Carolyn dalam keadaan kurang sehat, ternyata dia menderita kanker payudara dan terus menjalani pengobatannya.
Kadang berjumpa dengan dia menggunakan topi dan kadang menggunakan rambut palsu. Tubuhnya terlihat kurang fit tapi wajahnya selalu penuh dengan sukacita.
Tidak terlalu mengenalnya dengan sangat dekat. Tapi 3 kali mengunjungi jazadnya di Sinar Kasih dalam 2 kali ibadah yang dilakukan cukup membuat aku dan setiap orang di sana memahami siapa Carolyn dalam hidupnya sampai akhir hayatnya. Seorang wanita yang sangat luar biasa. Ibu yang baik dari anak perempuannya Gaby yang seusia Veda, Istri yang setia mendampingi suaminya hampir 20 tahun (dengan usia perkawinannya yang baru 8 tahun), Pelayan Tuhan yang luar biasa. Dia tetap bersukacita dan punya pengharapan sampai akhir hidupnya bahwa suatu saat ida akan sehat kembali. Ternyata dia tidak pernah mengeluh sekalipun kesakitan dari penyakitnya sangat luar biasa. Ternyata juga dia selalu berusaha untuk tetap bekerja (sebagai pegawai di Kantor Gereja) sekalipun sakit dan badannya lemah. Tak ada yang dapat menghalanginya untuk terus melayani dan hebatnya dengan tetap bersukacita. Ketika akhirnya dia dipanggil pulang di Malam Natal, semua orang di sana mengenangnya dengan sangat indah. Sebagai perempuan yang sempurna.
Kembali merenung .... ketika suatu hari nanti kita pergi ... buku seperti apakah yang ditinggalkan bagi orang-orang di sekitar, paling tidak bagi anak-anak dan suami tercinta ... apakah buku yang memuat cerita yang baik tentang bunda? Atau buku yang hanya memuat bunda yang tanpa kesan berarti bagi mereka (bunda yang tidak punya banyak waktu, terlalu banyak aturan, dan terlalu banyak menuntuntut kesempurnaan).
Kembali bersyukur untuk pelajaran baru dari kehidupan Carolyn ... terutama kesetiaannya pada keluarga dan pada Tuhan
Thanks to You ...
Alma
Keluarga yang sangat dekat dengan kami, Kel P. Posma dan Kak Larissa dengan 3 anak mereka Zefa, Kiel & Alma. Malam Natal kemarin dan sampai hari ini Alma di rumah sakit. Panas tinggi karena didiagnosa campak membawa dia harus diinfus supaya tidak kekurangan cairang tubuh, ternyata setelah waktu berjalan, trombositnya menunjukkan penurunan dan diindikasikan DB, namun kemudian semoga penyakitnya hanya thypus saja, karena tidak semakin memburuk kadar trombositnya. Kami memberikan waktu di Malam Natal untuk mengunjungi Alma ... malam natal mereka di Rumah Sakit, tanpa Gereja, tanpa Christmas Dinner seperti yang baru kami lakukan.
Coba di jabarkan hal-hal apa saja yang sudah dialami keluarga ini .... 3 minggu yang lalu Opung Oma yang memang agak sakit terjatuh dan harus di operasi pinggangnya, proses penyembuhan mentalnya dari ”sakit akibat kekhawatiran” sudah berjalan beberapa tahun ini ... rumah sakit perawatan, metode pengobatan, suster dan tenaga perawat dan berbagai kehebohan lainnya menjadi cerita yang disharingkan pada kami supaya doa dan doa teman-teman bisa terus dinaikkan bersama.
Anak-anak kadang bergantian sakit dan berbagai hal laiinya yang berat terus dialami keluarga ini. Bukan detail mengenai hal ini yang aku mau bahas dalam tulisan ini. Tapi ... lihat wajah mereka semua. Kedekatan dengan berbagai persoalan (seringkali kejadian dengan keluarga ini membuat setiap teman bereaksi ”Wah ... ada apalagi dengan mereka? Aduuh kasian sekali ... adaaaa terus persoalan yang terjadi ... ”) tidak membuat wajah mereka murung dan bersedih. Mukanya terus bergembira dan bersukacita. Ini lah yang disebut ”pengharapan”. Iman mereka membuat mereka tahu kalau ada kuasa yang lebih besar yang mampu mengatasi apa pun persoalan yang diijinkan untuk terjadi pada mereka. Iman mereka membuat mereka mampu terus bersyukur ketika keadaan keluarga mereka ada di titik paling bawah.
Kembali mendapat teguran dalam hati .... sebesar apa rasa syukur dan sukacita ku dalam berbagai keadaan yang buruk dan tidak menyenangkan? Bukankan hal-hal kecil (di kantor misalnya) yang tidak sesuai keinginan hati bisa membuat aku uring-uringan? Bukankah hal kecil seperti polah dan tingkah para asisten di rumah bisa memicu aku untuk langsung naik pitam? Belum lagi ulah Veda dan Ravind yang jungkir balik dan pukul-pukulan bisa membuat kepala sakit dan omelan panjang lebar dikirimkan. Semua dilakukan sebagai ”REAKSI” karena segalanya tidak sesuai dengan yang direncakan ( seharusnya direnungkan ... direncanakan oleh siapa? Oleh aku sendiri? ), selalu ”LUPA” kalau Tuhan sendiri yang merencanakan segala sesuatu sesuai kehendakNya .. sesuai waktuNya .. sesuai saatNya. Semua selalu sempurna dan terbaik ... kalau ternyata tidak sesuai dengan rencanaku .. berarti memang rencanaku belum sesuai dengan rencanaNya ......
Kembali bersyukur untuk pelajaran baru ... menerima dan terus bersyukur untuk segala hal yang terjadi dalam hidupku sekalipun belum sesuai dengan rencanaku ......
Oma Tombokan
Teman Oikumene di dekat rumah ... tinggalnya kira-kira 20 meter dari rumah kami. Oma yang sudah cukup tua dan tinggal berdua dengan putra nya. Terakhir berjumpa ... keadaannya masih baik dan gembira. Setiap teman di sekitar kami sudah beberapa kali menganjurkan untuk mengunjungi Oma. Karena keadaannya memburuk ... tiba-tiba menjadi pikun dan tidak menyadari banyak hal sekalipun tubuhnya tetap sehat.
Alasan kesibukan yang luar biasa menjadi tameng kami berdua. Mengunjungi Oma yang rumahnya terlihat mata baru kemudian kami lakukan setelah 2 bulan menerima berita tersebut.
Oma sedang duduk di kursi membaca Alkitab ketika kami tiba. ”Siapa ya? ... kalian tinggal di mana? Oooh ... kalian tinggal dekat sini .... Oma nih sudah sangat pelupa ... tidak ingat .... nama kalian siapa? Tinggal di mana? Ooooh dekat di sini ya .... ” percakapan yang terus berulang dan tidak berujung ketika sore itu kami ke sana. Sedih melihatnya .....
Memory nya seakan-akan hilang .... tidak ada cerita tentang kami dan teman-teman Oikumene yang diingatnya sekecil apa pun itu. Yang diingatnya (dan banyak salah) adalah memorynya ketika tinggal di Bandung ... itupun ceritanya melompat-lompat tidak beraturan. Kami tidak lama di sana .... berdoa dan kemudian berjanji untuk lebih sering datang dan menemani kesendiriannya.
Kembali diingatkan .... sudah sejauh mana aku melayani orang di sekitarku? Waktu yang kurang selalu jadi alasan yang paling enak untuk tidak memperhatikan banyak orang di sekitar. Urutan perhatian yang kami buat sebagai prioritas pembagian waktu selalu begini : diri sendiri dan pekerjaan, sekolah, anak-anak, keluarga dekat, keluarga jauh, baru terakhir teman-teman. Padahal Tuhan sudah begitu baik pada aku dan keluargaku. Kalau Tuhan memberikan perhatiannya dengan urutan skala prioritas juga ... tak terbayangkan kapan perhatian dan berkat untuk aku dan keluargaku akan tiba, karena jumlah orang yang milyaran banyaknya di dunia.
Tuhan tidak begitu .... Dia ada terus untuk aku dan keluargaku di sepanjang tahun 2007 ini tanpa skala prioritas .... hal ini lah juga yang seharusnya aku bisa berikan untuk orang-orang yang membutuhkan perhatian dan bantuanku .... menjadi saluran berkatNya .....
Kembali bersyukur karena diingatkan hakekat pelayanan dan komitmenku pada Dia ...
Thanks to You for all the Christmas Messages .......