Minggu, 20 Maret 2011

Hadiah Istimewa di Awal Tahun 2011

Keluarga kami mengawali tahun 2011 dengan langkah penuh sukacita memasuki sebuah rumah baru yang bagus dan indah hadiah dari Tuhan. Tak terperikan kegembiraan hati kami memperoleh hadiah ini dan tak terucapkan dengan kata-kata, rasa syukur yang tiada henti kami sampaikan kepadanya.



Begitu banyak hal ajaib di luar logika bisa diceritakan tentang rumah bagus dan indah ini.



Dimulai dari kepemilikan tanah dengan sungguh tak terduga dengan harga special discount 30% karena Pak Haji tuan tanah di area kami sedang membutuhkan dana untuk ber Hari Raya. Langkah selanjutnya adalah menyelesaikan surat-surat kepemilikan rumah yang tentunya tidak pernah memiliki cerita menarik di ranah perijinan surat di Indonesia ini J Puji Syukur semua berjalan lancar sekalipun hampir mustahil untuk tetap bisa menjaga semangat untuk menyelesaikan administrasinya. Memulai langkah berikutnya dengan melakukan proses merapikan tanah dalam bentuk “menebang dan membersihkan” pohon besar yang tertanam bertahun-tahun di tempat ini. Pohon besar tersebut disebutkan banyak orang “berisi”, namun iman kami meyakini tidak ada makhluk apapun yang akan berani mengganggu kami.



Setelah menunggu dengan berdoa selama 3 tahun, Tuhan kemudian membantu kami menyediakan dana “sekedarnya” untuk mengawali pembangunan rumah impian ini, hanya bermodalkan “IMAN”. Iman?! … hehehe benar. Rumah kami seluas 275m2 dengan luas tanah 300m2, berlantai 2 dengan tempat barbeque di lantai 3, berdesign cantik ini dibangun hanya dengan bermodalkan “Iman”. Sampai hari ini kalau harus berhitung rasanya mustahil bisa memilikinya.



Selain itu Tuhan mempertemukan kami dengan orang-orang terbaik yang ada. Melalui mereka, seluruh mimpi kami dijadikan nyata.



Design rumah digambar oleh arsitek muda berpengalaman, teman masa kecil yang sering mengganggu aku dan kakak perempuannya bermain rumah-rumahan ketika kami masih duduk di bangku SDJ. Apa yang masih merupakan bayangan di benak kami, tertuang dengan cantik dalam konsep rumah bernuansa minimalis dengan sirkulasi udara yang sangat baik. Design rumah akhir mampu memenuhi setiap harapan kami berdua (aku dan Mono) atas sebentuk rumah nyaman, bisa dijadikan tempat berkumpul teman dan keluarga, memiliki privacy yang baik, mampu menampung timbunan buku kami dan dapat memenuhi kegemaran anak-anak bermain music sesuka hati. Semua terwujud dengan sungguh luar biasa. Campur tangan Sutan Adrin, merupakan hadiah Tuhan yang luar biasa bagi kami, menggambarkan setiap mimpi kami menjadi sebentuk konsep rumah yang begitu nyata. Terima Kasih Adrin atas sebentuk konsep rumah yang memenuhi fungsi dan design serta estetika yang begitu berimbang.



Pembangunan rumah diwujudkan dengan cara yang sungguh sempurna oleh seorang Kontraktor muda, sangat berpengalaman dan penuh dedikasi, serta merupakan salah satu teman dekat di area rumah tinggal kami. Pak Dede namanya. Kemampuannya sungguh menakjubkan dalam membaca setiap rancangan design ruang dalam bentuk gambar, membayangkannya dalam bentuk nyata, dan langsung dapat menyampaikan setiap kekurangan dan kelebihan bentuk ruang yang ada sebelum hal tersebut benar terjadi. Pengalaman dan jam terbangnya menghasilkan tembok-tembok kokoh menjulang berkualitas baik, pertemuan sudut tembok rumah tampak tajam, rata dan lurus dari atas sampai bawah, baluran kapur dan sapuan cat yang halus dan tidak bercacat pada setiap permukaan dinding. Setiap detail diselesaikan dengan penuh ketelitian, barisan batu alam terpasang berbaris dan tidak mentolerir kemiringan sedikitpun, tumpukan batu sikat kecil yang menghiasi teras garasi diselesaikan satu persatu tanpa menyisakan satu lubang pun yang tertinggal.



Jika metode pembayaran kami pada pembangunan rumah ini adalah presentasi dari biaya bangunan, maka Pak Dede senantiasa mengupayakan setiap bahan memiliki kualitas terbaik dengan harga paling efisien. Beliau bersedia mencari ke berbagai sudut kota, material bangunan yang memiliki harga paling bersaing. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk secara sengaja mencari keuntungan materi yang pastinya hampir selalu akan luput dari perhitungan kami yang super sibuk dengan urusan kami sehari-hari. Pembangunan rumah indah ini secara ajaib berakhir di bulan ke 10. Seluruh tukang yang dihadirkannya memiliki dedikasi yang sama baik dengan pimpinannya. Campur tangan Pak Dede merupakan hadiah Tuhan yang luar biasa bagi kami, ditunjukkan seorang yang paling tepat untuk membantu kami mewujudkan mimpi kami menjadi sebentuk nyata. Terima Kasih Pak Dede atas kesungguhan hatinya meletakkan batu demi batu yang kokoh untuk mendirikan rumah impian kami.



Kelengkapan furniture di seluruh rumah, tempat tidur dan lemari di setiap kamar, juga dapur dengan kitchen set nya yang cantik, serta lemari-lemari panjang dan besar tempat gudang perkakas diwujudkan melalui pekerjaan tangan seorang tukang kayu yang merupakan sahabat lama kami, Pak Subagio – Rancang Bersama. Beliau merupakan tukang kayu berlatar belakang interior designer yang sangat berpengalaman. Setiap kebutuhan ruang digambarkan beliau dalam bentuk yang sederhana melalui coretan sketsa tangannya. Perhitungannya simple, namun harapan kami dapat tertuang sangat nyata di atas kertas, setiap ukurannya super akurat dan yang lebih menakjubkan lagi wujud nyata nya selalu menakjubkan. Setiap lemari, tempat tidur, kitchen set, table set, dinner table, dan banyak lagi barang di rumah indah kami tampak sempurna. Anak buah Pak Subagio berjumlah lebih dari 15 orang. Ketika pekerjaan di rumah kami perlu diselesaikan, maka seluruh pekerjanya didedikasikan bagi penyelesaian project di rumah kami ini, tanpa berhitung untung dan rugi secara waktu. Pak Subagio memiliki sikap yang serupa dengan Pak Dede, orang yang sederhana dan apa adanya, tidak mengerjakan project hanya untuk mencari keuntungan semata.. Beliau cenderung menyarankan kami tetap me-utilisasi secara maksimal perabot kami yang lama sehingga biaya dapat ditekan se-efisien mungkin. Beberapa lemari di rumah lama kami dirombaknya dan dijadikan lemari baru sesuai kebutuhan kami di rumah baru. Tuhan mempertemukan kami dengan Pak Subagio agar rumah indah kami yang berawal dari mimpi, terwujud nyata dan dipenuhi dengan perabot serta furniture yang tepat dan sesuai serta berkualitas tinggi. Terima Kasih Pak Bagio atas dedikasinya.



Sentuhan akhir rumah kami berupa untaian tirai-tirai cantik berwarna coklat tua dipadukan coklat muda yang menutupi jendela minimalis diselesaikan oleh pekerjaan tangan Pak Ari beserta istrinya. Kedua orang ini dipertemukan Tuhan dengan cara “tak sengaja” di sebuah pameran furniture ternama. Pak Ari dan istrinya merupakan pengusaha tirai independen yang bersedia menyediakan telinga dan tenaganya untuk mendengarkan kebutuhan tirai yang kami sukai, memberikan jasa konsultasi dengan cermat dan memberikan saran-saran yang terbaik untuk sebuah tirai yang pantas untuk konsep rumah kami, membantu memilihkan bahan yang tepat dan warna yang paling sesuai serta membuat perhitungan anggarannya. Ketika besaran anggaran sangat menakjubkan hati (tak pernah terpikirkan menjahit tirai rumah dengan biaya sangat tinggi!), maka Pak Ari dan istrinya berkenan membantu memperhitungkan ulang bahan tirai yang lebih efisien namun tidak mengurangi harapan dan keinginan kami. Tuhan mempertemukan kami dengan Pak Ari dan istrinya pada sentuhan akhir dari mimpi kami. Lengkaplah sudah, sebuah rumah indah berdiri kokoh berawal dari mimpi, dipenuhi furniture berkualitas baik dan ditutupi dengan tirai bermutu tinggi dan istimewa, serta dirancang khusus untuk rumah indah kami. Terima Kasih Pak Ari dan istri atas kesungguhan hati dan ketelitiannya mewujudkan mimpi kami.



Memiliki mimpi, memperoleh kesempatan mewujudkannya dan dipertemukan dengan sejumlah “orang baik” yang membantu kami sepenuh hati berproses mewujudkan mimpi tesebut, benar-benar merupakan anugerah yang tak ternilai dari Tuhan.



Thank You Lord …. For the precious gift in early of this year 2011



Perpustakaan Ungu

Sebuah lemari buku yang sejak lama terbayang-bayang dan masuk dalam daftar 10 barang yang paling ingin aku miliki dalam hidup akhirnya hadir di rumah kami. Terjadi di awal January 2011 setelah menanti lebih kurang 10 bulan untuk menghadirkannya.



Badan lemari ini memenuhi dua sisi dinding yang membentuk sudut, tepat di sebelah kanan tangga kayu ketika naik ke lantai dua. Sang lemari terbuat dari kayu berwarna coklat natural dan dibangun dengan begitu banyak rak untuk ditempatkan buku. Ukuran raknya sengaja tidak dibuat sama, ada yang agak tinggi ke atas dan pendek kesamping dan ada pula yang pendek ke atas dan melebar ke samping. Perbedaan ukuran ini karena sejak awal kami merencanakan untuk menempatkan setumpuk buku koleksi kami dan anak-anak yang tidak standard ukurannya karena memiliki panjang, lebar, warna, dan ketebalan yang berbeda-beda.



Sang Lemari Impian ini digambar bentuk dan ukurannya oleh suamiku, sang lelaki segala bisa itu. Dengan demikian, semua kebutuhan dan harapan kami tertuang dengan sangat cantik dan terpenuhi dengan sempurna dalam desain lemari ini. Warna nya coklat natural mengikuti warna tangga menuju lantai dua (kesesuaian seluruh perabot dalam rumah menjadi salah satu perhatian kami). Yang membuat lemari ini unik adalah, sebagian rak yang direncanakan untuk buku anak-anak dibuat menonjol keluar, berwarna ungu dan diberi kaca penutup. Dengan demikian secara keseluruhan, tidak ada bentuk keteraturan yang terlihat di badan Lemari Impian ini. Warna perpaduan coklat natural dan ungu tua cukup unik. Sebagian raknya memiliki kaca penutup dan sebagian lainnya terbuka begitu saja. Permukaan rak tidak teratur, sebagian rak yang berwarna ungu menonjol keluar dan menjadi aksen yang tidak biasa-biasa saja, sebagian lagi tetap menjorok ke dalam dan berwarna coklat natural.



Sang Lemari Impian ini dibuat oleh salah seorang tukang kusen di rumah kami yang memiliki keahlian di bidang perkayuan dan cukup diakui kehebatannya. Beliau adalah seorang bapak tua, bertubuh kecil, berambut keriting dan berkacamata. Asap rokok tidak berhenti mengepul dari mulutnya ketika beliau bekerja. Sekalipun hasil karyanya tidak sekelas maestro papan atas dalam dunia per-meubel-an, namun sangat terlihat hasil karya sebuah pekerjaan tangan yang dilakukan dengan hati gembira. Kami puas dan yang lebih penting beliau bangga dengan hasil karyanya.



Sejak Sang Lemari Impian ini siap dipakai, berkardus-kardus buku mulai dimasukkan dan ditata ke dalamnya. Terdiri atas buku-buku sisa perkuliahan S1 dan S2 berbentuk lebar, tebal dan berat. Ada pula buku-buku rohani yang bisa jadi penguat iman dalam beragam bentuk kecil, mungil dan tebal-tebal. Tak ketinggalan sejumlah serial buku cerita dan pengetahuan anak-anak yang menjadi kebanggan kami karena serialnya yang lengkap. Dan yang tak tertinggal adalah sejumlah serial novel romantic, criminal, detektif sampai dengan hasil karya sastra berbagai sastrawan dan penulis Indonesia. Semua tertata rapi dan pada tempatnya.



Kecantikan Sang Lemari Impian ini semakin dilengkapi dengan dipasangnya sebuah lampu baca yang nyaman untuk menghasilkan cahaya yang cukup ketika membaca, kursi malas berwarna ungu yang bisa dipakai membenamkan tubuh di dalamnya sambil menikmati satu persatu buku cerita, serta karpet coklat keunguan yang dapat dipakai untuk berselanjar sambil terhanyut dalam setiap kata-kata yang berbaris dalam buku yang dibaca. Rasanya saat ini tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa mengalahkan sukacita hatiku (hati kami) atas hadiah indah berbentuk Sang Lemari Impian di awal tahun 2011.



….. January 2011 …….. masih terus berharap agar kegemaran membaca bisa menjadi kebiasaan yang baik bagi 2 anugerah tercinta yang sebetulnya lebih menggemari memahami pengetahuan secara audio visual.



Berjumpa Dia dalam Setiap Karcis Parkir

Apakah Anda sering mengalami kesulitan ketika mencari posisi parkir di gedung-gedung maupun pusat perbelanjaan dan pusat keramaian? Jika akhir minggu tiba, maka sudah dapat dipastikan bahwa gedung parkir (atau lapangan parkir) mobil akan sangat penuh dengan barisan mobil antri seperti semut dan berharap agar dewi keberuntungan yang berjaga di lapangan parkir sudi menyediakan satu saja tempat bagi dirinya. Semua menempatkan harapan yang sama di dalam hati. Dan jika keberuntungan itu sulit hadir setelah memutari berlantai-lantai gedung parkir, maka pasrah dan membatalkan niat berbelanja di gedung tersebut menjadi pilihan terakhir.



Dalam suatu khotbah singkat di Gereja tempat kami beribadah. Seorang pendeta muda berbicara mengenai kehidupan manusia yang berada di bawah naungan ”Kasih Karunia” dari Tuhan. Intinya adalah manusia seharusnya sadar kalau segala hal dalam hidupnya adalah hanya karena ”Anugerah dan Hadiah” dari Tuhan Yang Maha Esa dan bukan karena usahanya sendiri. Manusia seharusnya sadar bahwa dirinya tidak sedemikian ”berperan menentukan nasibnya” dan bukan seitik noktah pun di alam raya yang luas ini. Manusia seharusnya sadar bahwa ada kepintaran dan kekayaan sendiri yang bisa menjadikan dirinya seperti saat ini sehingga tidak mungkin ada alasan untuk bersombong diri juga. Jika pun hari ini mereka benar-benar pintar dan kaya, maka kembali lagi, harus disadari itu semua adalah kehendak Tuhan bagi dirinya. Pedoman hidup yang sangat mendasar dan sederhana.



Aku sendiri berpikir saat itu, betapa enaknya jadi manusia seperti itu. Memiliki Tuhan dan hidup dan memiliki keyakinan bahwa Dia mampu memenuhi segala sesuatu dengan nyata? Keraguan ini sempat ”parkir” sesaat dalam benakku.



Jawabannya ternyata langsung instan dan seketika dalam beberapa hari saja, pengalaman hidup yang semakin meyakinkan hati bahwa Tuhan benar-benar seperti lampu wasiat yang bahkan menyediakan karcis parkir kapanpun kami membutuhkannya. Di kota kami Bogor, terdapat sebuah mall yang berlokasi strategis dan selalu penuh – Botani Square namanya. Usaha menemukan parkir di mall ini memerlukan energi yang cukup banyak. Kesulitan ini terjadi terutama di hari Minggu dimana rasanya seluruh penduduk Bogor tumpah ruah di mall ini. Sayangnya seperti kebanyakan dari penduduk Bogor, kebutuhan untuk mengunjungi mall ini di hari Minggu pun selalu masuk dalam agenda kami, entah itu mengejar film di bioskop yang tentunya dengan waktu yang sangat terjepit (antara cari parkir dan antrian beli tiket), berbelanja dan makan bersama keluarga, sampai dengan kewajiban berolah raga di pusat kebugaran. Keseluruhan aktivitas tersebut berujung pada satu hal utama, pencarian lokasi parkir yang sulitnya tak terperikan.



Sore menuju malam itu kami berdua (saya dan suami) mencoba peruntungan kami dengan menguji apakah Tuhan benar terus memperhatikan kami tanpa henti. ”Tuhan kami ingin merasakan hidup dengan kasih karunia dan hadiah dari Tuhan, beri kami parkir”. Dan ajaibnya seketika hal itu terjadi ....... sekali lagi aku katakan, sejak malam itu sampai hari ini, hal ini SELALU terjadi. Begitu memasuki kemacetan antrian parkir di gerbang tiket, jika mobil kami berbelok sedikit ke arah parkiran mobil di lapangan luar, maka di sana, SELALU dan KAPAN, kami akan memperoleh 1 buah parkir yang ”disediakan” bagi kami karena baru saja ditinggalkan mobil sebelumnya dan bahkan seringkali karena ”sengaja” dibuka tempat baru oleh penjaga parkir karena melihat mobil kami. Benar-benar Anugerah Tuhan.



Kami mencatat bahwa mulai malam itu sampai saat ini, dimanapun dan kapanpun, bahkan di mall di seantero Jakarta, Bandung dan Bogor, kami yakin akan selalu dengan mudah dalam hitungan detik menemukan tempat parkir. Kami semua belajar untuk menyebutnya bukan sebagai ”kebetulan” beruntung memperoleh tempat parkir, tapi sebagai ”Kasih Karunia” Tuhan buat kami. Karena jika di Botani Square merupakan kebetulan, apakah ”kebetulan” semata juga namanya kalau keberuntungan ini berlaku juga di Mall Grand Indonesia, di Mall Plaza Indonesia, di Mall Pondok Indah, di Mall Ambasador, dan bahkan di Mall Gandaria City yang baru saja dibuka dan memiliki mekanisme parkirnya yang ”ajaib tidak teraturnya” sehingga menimbulkan antrian panjang semata? Di Gandaria City, saat itu parkir yang tersedia adalah tepat di belokan pertama ke kiri dan merupakan tempat ajaib yang khusus dibuka hanya bagi kami untuk memotong antrian mobil yang seolah tidak ada akhirnya. Senantiasa demikianlah peruntungannya. Untuk mengujinya, seringkali jika dalam satu hari kami mengunjungi lebih dari satu tempat, maka kemudahan parkir akan kami peroleh sesuai jumlah lokasi yang kami kunjungi. Semua serba ajaib. Semua serba tidak masuk dalam logika.



Sejak saat itu sampai hari ini, kami sekeluarga selalu membawa Tuhan seolah sebagai karcis parkir kami. Karcis yang dapat membawa kami memasuki kondisi apapun dan berhenti untuk parkir sejenak sambil merenungkan kebaikanNya yang diawali dari hal yang demikian sederhana.



Sungguh nyaman memang hidup dalam naungan ”Kasih Karunia” Tuhan, semoga anugerah ini tidak akan pernah berakhir dan meninggalkan kami. Jika hal yang kecil dan berada pada level ”kurang penting” dibandingkan hal lain-lain diperhatikanNya, tak perlu diragukan lagi campur tangan Nya dalam hal yang paling berat dan paling penting? Sangat mustahil wajahNya dipalingkan dari kami semua.




Thank you God ....... :D for all the parking tickets.



Botol Air Jahe Hangat penuh Kasih

Malam itu semua berkumpul di rumah besar putih beratap tinggi yang terasa agak sesak karena banyak sanak saudara dan teman berkumpul. Rasa sedih dan sendu karena kehilangan masih mendominasi tapi mulai diwarnai perasaan rela untuk membiarkan sang kesedihan dan kesenduan ini untuk perlahan pergi. Semua yang hadir terpekur sambil menyenandungkan doa dan puji-pujian kepada Tuhan disertai kata-kata dan kesaksian penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.



Tidak berapa lama, sebagai bagian dari rangkaian acara Penghiburan Keluarga malam itu, MC memberikan kesempatan bagi teman-teman dan keluarga untuk memberikan pesan dan kesan tentang almarhumah (sang tokoh dalam tulisan ini) semasa hidupnya. Semua rangkaian cerita dan perasaan dari beberapa orang yang hadir menjadi sebentuk lukisan yang lengkap dan cermat tentang seorang Ibu yang baik hati pada semua orang tanpa terkecuali, seorang ibu dengan jiwa keibuan begitu sarat dan bisa menjadi teladan baik bagi anak lelakinya dan teman-teman anak-anaknya, seorang ibu yang pandai memasak dan mempersiapkan beragam makanan, seorang ibu yang memiliki hati yang penuh dengan kasih dan perhatian yang seolah tak pernah habis bagi siapapun juga (bagi teman-temannya termasuk saya), dan di atas semua itu yang membuat almarhumah layak disebut pemenang adalah kesabarannya dalam menanggung penyakit Kanker Sirosis sampai pada akhir hayatnya.



Malam itu sambil terpekur mendengarkan setiap cerita orang tentang dirinya, aku berpikir betapa istimewanya buku cerita kehidupan yang ditinggalkan Ibu Zelly, demikian nama almarhumah, teman kami yang ”pada akhirnya” pergi meninggalkan dunia ini di akhir perjuangannya melawan rasa sakit. Malam itu buku cerita kehidupan beliau seolah dibacakan lembar demi lembar oleh setiap orang yang hadir di sana, isinya penuh dengan hal yang sangat baik tentang dirinya, sebagian ceritanya mengharukan namun keseluruhan penuh dengan gambaran ”kekuatan” dirinya, kecintaan dan kedekatannya terhadap Tuhan.



Lembaran dalam chapter ”IBU” bercerita bahwa bagi Gerry dan Robert, kedua buah hatinya, beliau merupakan ibu yang tak tergantikan dan memahami dunia remaja lelaki, dalam dunia keseharian beliau juga berusaha menjadi ibu dari teman anak laki-lakinya yang rajin berkumpul di rumah itu untuk belajar bersama. Seolah memahami betul kekuatan mantra untuk bisa dekat dengan buah hati dan teman-temannya adalah melalui makanan, maka beragam masakan istimewa selalu disiapkan Ibu Zelly bagi mereka. Sepiring spahetti selalu disajikan dengan saos kasih sayang yang tidak ada batas nya. Semangkok soup hangat sarat dengan butiran perhatian selain butiran bakso yang sesungguhnya.



Lembaran dalam chapter ”PERJUANGAN MELAWAN SIROSIS” bercerita mengenai bagaimana kekuatan Ibu Zelly menghadapi penyakit Kanker Hati Sirosis yang harus dideritanya namun tidak sedikitpun menyurutkan Kasih dan Imannya pada Tuhan. Kesakitan Ibu Zelly ini berubah menjadi berkat kekuatan bagi kami semua, teman dekat beliau dalam persekutuan mingguan. Hubungan kami semua terbentuk seperti keluarga besar. Berita mengenai gangguan pada fungsi hati Ibu Zelly lebih dari 2 tahun yang lalu ikut menjadi bagian dari pergumulan dan doa-doa panjang kami pada Tuhan agar mujizat dapat terjadi pada dirinya. Dan ajaibnya, setiap kali jawaban doa serta mujizat selalu terjadi. Perjuangan selama 2 tahun diwarnai sekeranjang mujizat yang menjadi tanda bagi kami bahwa Tuhan ada di sana, Tuhan tidak pernah tertidur dan tidak pernah jauh. Teringat ketika Ibu Zelly mengalami muntah darah yang hebat, banyaknya ber ember-ember dan saat itu rasa kemanusiaan kami terlintas bahwa ”akhirnya akan segera tiba”. Ternyata tidak. Tuhan menurunkan tangannya, fungsi hati yang memang sudah tinggal 20% saja tetap dijamah oleh kuasa Tuhan untuk bisa kembali sehat dan berfungsi. Selanjutnya Ibu Zelly bisa kembali beraktivitas mengelola catering yang menjadi bagian dari kehidupannya dan kesaksian kesembuhannya menjadi berkat bagi siapapun yang mendengarkan.



Doa dan harapan tak pernah berhenti kami panjatkan baginya terutama ketika jadwal endoskopi sudah menjadi bagian dalam jadwal rutin pengobatan. Almarhumah seringkali bercerita, beliau sangat menyadari bahwa endoskopi penting dilakukan untuk ”membakar” varises yang terjadi pada pembuluh darahnya agar tidak pecah lagi (dan muntah darah), tapi prasyarat yang mengharuskan dirinya ”menelan” alat sebesar handphone masuk ke dalam kerongkongannya menjadi trauma tersendiri. Sedih rasanya mendengar ”ketakutan” yang dirasakan tapi selalu ”ditutupi” dengan suara yang seolah sangat ringan dan tanpa beban namun dengan mata berkaca-kaca yang menggambarkan kegalauan hatinya.



Untaian mujizat demi mujizat terus terjadi selama dua tahun berjalan dan menjadi sebentuk kalung bermanik-manik pengharapan. Setiap kali mendengar tahapan pengobatan yang harus dijalaninya, saat itu ada tangan Tuhan yang sangat besar dan berkuasa turun dan memberikan pemulihan. Ketika perutnya sakit dan membesar seperti kehamilan 5 bulan karena beragam cairan racun terkurung di dalamnya, maka Ibu Zelly dengan tabah menghadapi proses ”pembolongan dan penyedotan” cairan di permukaan kulit perut dengan jarum sedot yang besar. Hal ini harus dilakukan agar perutnya bisa ”kempes” lagi seperti sediakala dan pembuangan cairan bisa dilakukan sekalipun dengan pemaksaan. Sebenarnya sering ia bercerita tentang ketakutannya terhadap jarum suntik yang akhir-akhir itu sangat rutin menyiksa dirinya, namun apakah ada pilihan buat dirinya saat itu? Biasanya kami hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan menggenggam tangannya erat (semoga pesan bahwa kami mengasihi dia sungguh-sungguh bisa dirasakannya saat itu).



Ketika HB darahnya turun sampai peringkat yang terendah, dengan wajah pucatnya, beliau menjalani perawatan dengan transfusi dan suntikan yang sangat menyakitkan namun sekali lagi semua harus dilalui. Di luar semua kesakitannya, jangan dihitung besarnya biaya pembelian obat dan perawatan Rumah Sakit yang harus ditanggung keluarga, jumlahnya tak terhitung, namun dengan berdompetkan iman dan percaya semua selalu tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan. Tuhan Yang Maha Baik ada di sana menjalankan bagiannya dengan tiada henti mengulurkan kekuatan bagi Ibu Zelly, walaupun Ibu Zelly sendiri harus mengambil bagian dirinya dengan melampaui proses menanggung rasa sakitnya.



Lembaran dalam chapter ”SEBOTOL AIR JAHE HANGAT” menjadi bagian yang paling mengharukan bagi kami mengenang sosok Ibu Zelly. Hari-hari teman kami ini diwarnai dengan mengelola sebuah catering yang menyediakan masakan sehari-hari bagi keluarga dan masakan khusus siang bagi sejumlah anak-anak sekolah. Setiap saat jika kami membutuhkan racikan masakannya (untuk acara kumpulan atau ulang tahun), maka kapanpun dengan mengangkat telepon menghubungi dirinya, dijamin satu set menu komplit bisa hadir memenuhi kebutuhan kami dengan berbagai bonus di dalamnya. Jika lama tak bersua, maka kapanpun kami menghubungi dirinya melalui HP untuk menanyakan kesehatannya, suaranya selalu hangat, tenang dan ramah. Jawabannya panjang dan lebar, cerita nya tetap banyak dan diwarnai nasihat-nasihat yang sering disampaikannya terutama terkait masalah anak-anak. Informasi yang terutama adalah tentang dirinya berada dalam keadaan ”sehat dan baik”. Belakangan sekali kami baru mengetahui bahwa sebenarnya dalam hari-harinya mayoritas yang dia rasakan adalah kesakitan tak tertahankan dari seputar hati yang membengkak dan membatu di dalam perutnya, tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali pembantu di rumahnya, tidak juga suami dan anak-anaknya, apalagi kami teman-temannya. Beliau selalu berusaha meyakinkan kami semua bahwa segala hal menyangkut dirinya adalah sehat dan baik.



Cinta yang paling nyata bagi kami ditunjukannya melalui Sebotol Air Jahe Hangat. Jika lama tidak berjumpa, dan beliau mengetahui salah satu dari kami (atau anak-anak kami) mengalami gangguan batuk, masuk angin atau sakit perut, maka dijamin dalam hitungan jam, sebotol Air Jahe Hangat akan dikirimkan oleh kurir cateringnya ke rumah kami. Setiap gelas air jahe bercampur gula merah yang manis untuk menghilangkan gatal di tenggorokan dan memberikan hangat di tubuh itu benar-benar sarat dengan ”Kasih dan Cinta” seorang Ibu Zelly bagi kami, teman-temannya. (Tak bisa disebutkan di sini cerita agar-agar, semangkok klaper taart, dan bahkan tape uli yang rutin dikirimkan).



Dalam kesakitan dan perjuangannya melawan Sirosis selama 2 tahun yang cukup berat, tidak pernah Ibu Zelly sesaatpun hanya memperhatikan dirinya dan mengeluhkan rasa sakitnya sendiri. Hidupnya tetap dipenuhi dengan perhatian dan kasih buat setiap orang yang mengelilinginya (keluarga, pegawai catering, bahkan teman-temannya), dia selalu berusaha menyenangkan dan menenangkan setiap orang yang sayang padanya. Di atas itu semua, sikap ini dinyatakan sebagai ungkapan syukur karena dia percaya Tuhan tetap menyayangi dirinya. Masih terus teringat perkataannya yang sarat dengan iman, ”Aku percaya Olla, Tuhan pasti akan memberikan hati yang baru buat aku. Aku sudah lelah sakit terus dan aku mau hati yang bisa berfungsi baik lagi. Mujizat pasti akan terjadi”.



Kami semua, selalu meng”amin”kan hal ini, dimanapun itu, sebuah hati yang baru akan diterimanya, bahkan jika itu baru terjadi di Sorga sekalipun. Sampai malam terakhirnya, saat itu ketika sambil bernyanyi dan berdoa bersama Ibu Zelly dan beberapa teman di rumahnya, di ujung tempat tidurnya kami duduk dan terpekur sambil menangis melihat Tuhan menggenggam tangannya dan menarik Ibu Zelly pergi ke pangkuan Nya, napas nya mulai terlihat satu-satu sampai akhirnya semua selesai. Dan hanya ucapan syukur yang tidak ada habis-habisnya bisa kami panjatkan pada Tuhan.


”Terima Kasih Tuhan telah mengasihi Ibu Zelly lebih daripada kasih kami semua pada dirinya"