“Seperti Bapak sayang anaknya .. demikianlah Kau mengasihiku ..
Kau jadikan biji mataMu .. Kauberikan semua yang ada padaMu ….”
Lagu ini merupakan lagu gereja, lagu penyembahan yang terkadang dibawakan pada saat ibadah hari minggu di gereja. Menggambarkan kalau Tuhan itu begitu mengasihi kita (saya) seperti kasih nya seorang Bapak kepada anaknya .....
Setiap menyanyikan lagu ini, supaya dapat ”feel” nya .. aku membayangkan Papa ku. Seorang Bapak dan seorang Opa yang begitu mengasihi anak-anak dan cucu-cucunya. Seorang pria yang terlihat ”biasa-biasa saja” dibalik sikap, nilai hidup, namun dengan kepercayaannya yang ”luar biasa” yang diturunkannya kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya.
Papa .. seluruh keluarga memanggilnya dengan nama kesayangan BOY .. Papa BOY, mungkin ini yang membuat dirinya bisa tampak 15 tahun lebih muda dari usianya yang genap 70 tahun di bulan July nanti. Perawakannya kecil membuatnya cekatan bergerak ke sana ke mari. Rambutnya masih didominasi warna hitam tanpa pernah dicat maupun diwarnai. Hal inilah yang membuatnya kelihatan jauh lebih muda daripada rekan-rekan seusianya.
Pendidikannya di IKIP Sastra Inggris memberikan dirinya gelar keilmuan sebagai Doktorandus. Sehingga secara resmi dirinya dikenal sebagai Doktorandus Victor (di tempat ini pula beliau berjumpa dan berkenalan dengan Mama). Aduuuh mohon ampun sama Tuhan kalau jaman kenakalan dulu nama ”Piktor” seringkali kami plesetkan dan tertawakan ... atau juga kadang kami membahas gelarnya yang ”doktorandus” itu dengan gurauan karena sudah agak tidak compatible dengan gelar anak-anak modern yang ada saat ini (yang seolah lebih ”gaya” dengan penyebutan ilmu secara spesifik S.IP, S. Ak, S. Sos, dll, tapi sebenarnya diperoleh dengan usaha yang tidak berbeda jauh dengan upaya kerja keras Papa dan Mama saat itu).
Papa .. ditinggalkan Mama 20 tahun yang lalu. Selama itu pula beliau berjuang dengan luar biasa .. seorang diri .. membesarkan kami berdua, aku dan adik perempuanku. Sejak kecil sampai beranjak remaja, hubungan dengan Papa ”sangat biasa” jika tidak ingin dikatakan ”tidak cukup dekat”. Ini mungkin terjadi karena Papa cukup sibuk bekerja (sebagai pegawai negeri di Departemen PU Bandung) dan Mama yang lebih dominan berinteraksi dengan anak-anaknya. Baru setelah kepergian Mama, di usia kami yang 17 tahun dan 14 tahun, tiba-tiba kami bertiga memiliki hubungan yang ”tidak biasa” lagi. Papa langsung mengadjust dirinya menjadi ”teman” bagi kami berdua dan bukan hanya sekedar ”Ayah” yang seolah jauh dari kami.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sejak Mama pergi, hidup tidak mudah bagi kami bertiga, namun Papa tetap memilih untuk melalui hidupnya yang tidak mudah itu seorang diri saja dan membesarkan kami seorang diri pula. Beliau begitu mencintai Mama dan seolah tidak pernah bisa menemukan penggantinya bahkan sampai hari ini (walaupun hal ini tidak pernah diucapkan dan disampaikan secara explisit).
Di semua keadaan, Papa ada setiap saat untuk kami berdua. Bersedia mengawal kami ke ujung dunia sekalipun, bersedia menemani kami belajar dan membuat tugas sampai tengah malam hari dan kemudian menemani kami makan mie tek-tek yang lewat di depan rumah (karena biasanya belajar sampai tengah malam membuat lapar), bersedia mendengarkan permasalahan kami (walaupun masih sulit bagi kami untuk benar-benar terbuka pada beliau). Sekalipun saat itu waktu beliau cukup tersita untuk bekerja keras guna membiayai pendidikan kami berdua. Ini yang menyebabkan tak pernah habis bersyukur diijinkan Tuhan bersekolah di Universitas Negeri yang tidak akan terlalu memberatkan Papa dalam pembiayaannya.
Berbagai masalah yang aku dan adikku hadapi terkadang kami coba atasi sendiri semampu kami, tapi Papa selalu ada di sana untuk ”mengambil bagian terberat” dari masalah kami dari sudut pandang seorang Bapak. Biasanya beliau mendengarkan segala masalah dengan ”diam” dan ”mengerenyitkan dahinya” .. itu saja. Jauh dari emosi yang meledak-ledak. Jika kemudian beliau mulai mengemukakan pandangan dan pendapatnya, maka hal ini berarti dilakukan setelah beliau melakukan ”permenungan” yang dalam. Bayangkan .... dengan siapa beliau bisa berbagi masalah dan bebannya selama 20 tahun ini? Jawabannya adalah dengan Tuhan ... hanya melalui alat komunikasi ”DOA” dengan Tuhan, beliau memperoleh pencerahan atas masalah yang dihadapinya .....
Masih sangat teringat betapa Papa mencoba untuk mengajarkan kami hal terkecil sampai hal terbesar dalam keseharian yang kami lalui. Jika berkendara dan menemukan mobil yang mogok di pinggir jalan, maka Papa selalu menginstruksikan kami untuk segera mengambil sikap doa dan mendoakan mobil itu supaya segera bisa jalan lagi. Jaman kecil dulu hal ini kami melakukannya dengan cekikikan karena mentertawakan u=instruksi anehnya ini, sekalipun berdoanya tetap kami lakukan dan kemudian setelah dewasa, pesan yang terserap adalah ... Papa mengajarkan kami untuk mengingat Tuhan dalam segala hal ... kecil maupun besar ... dan mendoakan tidak terbatas orang yang kita kenal namun orang yang tidak kita kenal pun harus kita doakan.
Dalam mengemukakan pendapat, Papa menggunakan Teori Hamburger (sekalipun dia tidak mengenal betul hal ini secara teori). Hal yang baik akan dikemukakan dulu, hal inti dsampaikan dengan santun dan ditutup dengan hal positif yang menyemangati. Tutur bahasa nya sangat santun dan baik. Gelar doktorandus sastra nya menunjukkan kepiawaian beliau dalam bertutur kata secara sastra.
Papa mampu memandang segala hal dari sudut positif. Yang sangat terkesan adalah ketika rambutku salah dipotong di salon menjadi pendek seperti model cowok dan rancung ke kanan dan ke kiri tidak karuan, tangisanku dan protes beratku pada dirinya dijawabnya dengan sangat tenang ”Gak apa-apa, tidak keliatan jelek kok, nanti juga akan tumbuh lagi” ... hua ha ha .... gak tau deh bagaimana rasanya saat itu, antara bete karena Papa tidak mendukung aku complain berat pada si stylist salon, tapi juga ingin tertawa karena Papa memberikan jawaban yang paling logis di dunia ini.
Dalam menghadapi pergaulan anak-anaknya, Papa berusaha bersikap tenang. Tak pernah melupakan wajahnya dan reaksinya yang sangat tenang tapi waspada ketika berbagai ”teman” yang aneh datang ke rumah, ada yang berbadan besar berambut keriting dan hitam seperti preman atau si badan cungkring berambut panjang yang datang dan mengaku sebagai teman kuliah. Belum lagi si ”tidak tahu diri” yang datang ke rumah dengan gitar dan kemudian bernyanyi, atau juga si ”rutin menelepon” yang menghubungi aku setiap malam. Keterkejutannya hanya disampaikan hanya dengan wajahnya yang terkesan ”lurus” dan dahinya yang ”mengerenyit” tanda tidak setuju.
Papa juga ada di sana dengan permasalahan besar dalam percintaanku. Reaksinya sangat meneduhkan. Pandangannya disampaikan untuk membuka mataku pada apa yang benar dan tidak. Kalau kemudian rasa suka dan sayangnya ditunjukkan pada Mono, yang saat itu masih berstatus pacar baru, maka itu merupakan ”feeling” kuat seorang Ayah atas pasangan terbaik dan paling tepat bagi anaknya.
Papa benar-benar berusaha keras meng”adjust” dirinya menjadi teman selama kami bertiga masih bersama. Tiba-tiba beliau bersedia diajak menonton berbagai film terbaru saat itu dan makan bertiga di luar rumah secara rutin. Dan terbuka pada segala hal yang ”baru dan masa kini”.
Saat ini ketika kami sudah terpisah 2 jam jarak Bandung dan Bogor. Papa dengan kebijaksanaannya memegang teori bahwa ”No news is always a good news” ... beliau tidak pernah protes ketika karena mengatasnamakan kesibukan, aku dan keluarga jarang pulang ke Bandung atau hanya menelepon beliau seminggu sekali.
Papa BOY .. beliau merupakan gambaran paling positif dari siapapun yang pernah aku temukan di dunia ini selama ini. Di usia nya yang mendekati 70 tahun saat ini, beliau bertanggung jawab sendiri menjaga kesehatannya tanpa banyak menuntut perhatian anak-anaknya. Beliau menjaga makanannya sendiri, mengaturnya dengan disiplin, berolahraga teratur dan secara rutin memeriksakan dirinya. Hal yang menjadi keburukan adalah .. beliau sulit dan terbiasa tidak berbagi kesulitan dan kesusahan bahkan pada kami anak-anaknya ..... selama dapat diselesaikan sendiri, maka sangat jarang permintaan ”tolong” disampaikannya.
Kasihnya pada Tuhan tidak bisa dijabarkan. Dengan konsistensinya beliau mencoba memberikan waktu yang ada untuk melayani Tuhan. Hubungannya dengan Tuhan seharusnya memang sangat khusus dan special. Karena kepada Dia lah tempat segala hal dia bagikan selama 20 tahun ini .. masalah pribadi, masalah anaknya, maupun cucu nya.
Itu juga yang menyebabkan Tuhan begitu menyayanginya ... menjaga dengan stabil kesehatan Papa dan bahkan mengijinkan Papa sampai saat ini untuk terus berkarya dan bekerja di sebuah Perusahaan Konsultan selama 15 tahun setelah masa pensiun. Sehingga tidak pernah ada kata ”pensiun” atau ”istirahat” dalam aktivitas kesehariannya. Semua nya merupakan anugerah yang luar biasa ............
Bayangkan ... betapa dalamnya kasih Tuhan pada kita jika kasih seorang Bapak kepada anaknya saja bisa sedalam dan seluas itu ....... Thanks Lord buat seorang Papa BOY yang luar biasa di dalam hidup kami semua ..............
“Seperti Bapak sayang anaknya .. demikianlah Kau mengasihiku ..