Sabtu, 24 April 2010

TIKUS KECIL di BELAKANG LEMARI RUMAH SAKIT

Waduh .. mata bulatku berkejap-kejap dan jantungku berdebar-debar karena khawatir sekali. Sepertinya Wanita Dewasa Berambut Pendek Berkacamata itu sangat tidak suka melihat aku mengendap-endap di belakang lemari baju rumah sakit di kamar Bapaknya yang sakit itu. Secara serentak dia melompat ke atas tempat tidur bapaknya yang sakit itu sambil mulutnya meracau panjang lebar soal fasilitas dan keadaan tempat ini serta betapa menjijikannya melihat “penampakanku” di area Rumah Sakit ini. Waaah … untungnya dia malah menjauh dari diriku … hehe .. sehingga selamat lah aku.


Oh iya .. Perkenalkan diriku, namaku si tikus mungil. Aku lahir kira-kira 2 minggu yang lalu dari seorang Ibu Tikus yang mengeluarkan aku dari perutnya beserta sejumlah saudara-saudaraku yang lain. Komunitas kami di tempat ini cukup banyak. Betapa beruntungnya aku, seperti manusia, aku juga berkesempatan dilahirkan di Rumah Sakit terbesar di sebuah kota yang dipenuhi dengan bunga. Biasa disebut kota kembang. Berbagai tikus sejenis aku, yang mungil, berukuran sedang sampai berukuran sangat besar berkesempatan bisa lari ke sana kemari dengan bebas di seputaran area Rumah Sakit yang konon seharusnya higienis ini.


Sesaat setelah cukup kuat, kami semua bersaudara diijinkan Ibuku untuk berkelana ke seluruh penjuru rumah sakit yang besarnya minta ampun itu. Kami harus mampu bertahan hidup dan mencari makanan sendiri. Rumah Sakit ini sudah sangat tua, berdiri sejak tahun 1923. Bayangkan, kalau dia seorang manusia dokter, maka usia beliau ini sudah 87tahun. Pastinya beliau sudah sangat senior dan berpengalaman dalam melayani masyarakat dan orang sakit. Bicara tentang tampilan fisiknya, lorong-lorong rumah sakit ini sangat panjang dan menghubungkan berbagai ruangan perawatan dan berbagai bagian penelitian. Perjalanan dari lorong ke lorong biasanya memerlukan tenaga ekstra, stamina kuat, dan napas yang panjang karena cukup jauh dan tak jarang cukup membingungkan pasien yang mencari-cari lokasi tujuannya.


Keistimewaan rumah sakit ini adalah visi dan misinya sebagai rumah sakit yang bertekad mencetak manusia-manusia dokter yang berpendidikan dan professional di dalam bidang kedokteran. Di tahun 2011, rumah sakit ini bertekad untuk diakui kualitasnya di wilayah regional (sebenarnya aku agak kurang jelas wilayah regionalnya sejauh mana, Jawa Barat? Indonesia? Asia Tenggara? Asia?). Oleh karena itu, di tempat ini terdapat berbagai bagian yang dibentuk khusus untuk meneliti berbagai jenis penyakit dengan baik. Peralatan kesehatan terbaik tersedia di tempat ini. Intinya sih … siapapun yang sakit, pasti akan menemukan dengan mudah solusi dan penyembuhan kesehatannya di tempat ini. Bukankah sangat membanggakan bisa lahir di tempat ini?


Kembali kepada diriku si Tikus Kecil. Setelah berpisah dari Ibu dan saudara-saudaraku, aku terdampar di Ruang Kelas 1 Bougenville. Kamarnya sangat luas dengan langit-langit yang tinggi sekali. Jendela nya yang besar-besar menghiasi ruangan membuat sirkulasi udara mengalir cukup baik dan kesejukan kota kembang ini cukup terasa. Sepertinya mesin pendingin bernama AC itu tidak diperlukan di tempat ini (sekalipun ruangan ini termasuk kategori kelas 1). Temboknya berwarna putih kekuningan agak pudar dengan bercak-bercak coklat tampak seperti habis kebasahan kena hujan, sepertinya penyakit bocor bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan mudah di sini. Ada 2 pasien menetap cukup lama di ruangan ini, aku berdiam di dekat lemari pakaian pasien di tempat tidur nomor 3, seorang lelaki tua berperawakan kecil yang lincah dan memiliki semangat untuk kembali sehat yang luar biasa.


Bapak tua ini sudah berdiam di kamar bougenville sebelumnya selama 1 minggu sampai dengan Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata itu datang menemani. Wanita itu anak sang Bapak Tua dari Jakarta yang sangat sibuk dan menyempatkan mendampingi ayahnya untuk pemulihan operasi. Biasanya bergantian dengan adik perempuannya, juga seorang Wanita Muda Berambut Pendek tapi tidak Berkacamata. Oh iya, bapak tua ini menderita sakit laki-laki yang disebut prostat. Operasi pengikisan lemak yang mengganggu aliran air seni menjadi keputusannya, agar beliau bisa kembali sehat dan beraktivitas seperti sedia kala.


Aku si Tikus Kecil bersembunyi cukup lama di belakang lemari pakaian sehingga bisa menjadi pendengar yang sangat baik tentang berbagai keluh kesah dan kekecewaan yang dirasakan oleh keluarga ini. Satu minggu yang dilalui Bapak tua itu seorang diri di ruangan Bougenville hanya diwarnai dengan aktivitas control kesehatan sana sini, menurut suster di Rumah Sakit, jantung, tekanan darah, kemampuan tiup paru-paru dan berbagai hal penting lainnya perlu diperiksa secara rinci mengingat usia sang Bapak yang sudal lanjut. Sejauh ini, aku si Tikus Kecil sangat setuju, tindakan operasi bagi pria berusia lanjut harus diambil dengan keyakinan matang bahwa sang penderita akan kembali sehat seperti sedia kala setelah tindakan operasi. Tapi nampaknya kedua anak wanit bapak ini agak berkeberatan dengan jadwal 1 minggu yang berlarut-larut hanya untuk pemeriksaan kesiapan organ tubuh.

Tampaknya Kota Metropolitan Jakarta dengan fasilitas rumah sakit di sana seakan sudah meng-hipnotis dirinya tentang pelayanan yang serba prima dan serba cepat yang seharusnya diberikan. “Bayangkan! General Check Up seperti itu di Rumah Sakit sekelas Pondok Pondokkan dapat dilakukan dalam maksimal 2 hari kerja”, katanya. “Waduh … dimanakah yang namanya Rumah Sakit Pondok Pondokkan itu?”, yang aku tahu di tempat ini General Check Up memang cukup lambat dengan proses yang harus dilakukan dengan berjalan ke berbagai tempat dan bagian satu persatu. Hasil pemeriksaan yang baru tersedia setelah satu minggu sebenarnya sudah cukup cepat. Apalagi Bapak Tua yang dirawat ini bermaksud memanfaatkan fasilitas Askes, untuk memperingan biaya, sesuatu yang menjadi haknya karena beliau telah mengabdi sebagai pegawai negeri sampai usai pensiunnya. Oh ya .. aku lupa juga mengulas, di sini rata-rata pasien lebih dari 60% nya merupakan pasien dengan berbagai “catatan”. Pasien pemanfaat Askes, pasien pemanfaat Kartu Miskin sehingga tidak perlu membayar, pasien dari berbagai daerah tingkat dua di Jawa Barat yang begitu percaya kesembuhan bisa didapat di tempat ini. Suasana Rumah Sakit ini begitu ramai, pasien dari kelompok menengah ke bawah ini bisa datang berombongan dan mewarnai sudut-sudut rumah sakit dengan tikar dan selimut bantal. Mereka umumnya menunggu kesembuhan keluarganya di tempat ini tanpa bisa pulang terlebih dahulu karena alasan keterbatasan biaya. Nampaknya seluruh biaya dialokasikan untuk pengobatan dan bukan untuk bolak balik ke tempat asal. Bayangkan jika proses observasi nya saja berlangsung selama satu minggu di luar waktu tindakan dan pemulihan, maka keluarga berkeluarga ini pun umumnya berdiam dan tidur di sudut-sudut rumah sakit selama waktu tersebut.

Bagaimana dengan pelayanannya? Hmmm … nampaknya di tempat ini berlaku prinsip mendasar yang tidak berlaku di dunia tikus, yaitu “ada uang dan ada barang, ada uang dan ada pelayanan, ada uang maka ada hati yang mau melayani”. Hal yang sangat wajar dan biasa saja. Jika manusia yang berobat di tempat ini hanya dimodali uang untuk membeli obat (dan bahkan dimungkinkan gratis dengan Kartu Miskin), maka tidak tersisa lagi uang untuk membeli pelayanan dan hati. Aku tertawa-tawa dalam hati mendengar si Wanita Muda Berambut Pendek dan Berkacamata itu meracau panjang lebar soal pelayanan rumah sakit dan perawat nya. “Susah juga kalau orang metropolitan masuk ke rumah sakit sekelas umum begini”, pikirku dalam hati sambil mentertawakan dirinya.


Yang aku curi dengar dari segala curahan hati wanita muda itu sangat beragam, misalnya tentang kesimpang siuran informasi, beruntung operasi yang dilalui ayahnya termasuk operasi minor saja ,sehingga pemulihan dapat dilakukan cepat dan di bawah pengawasan keluarga. Informasi tentang diperbolehkannya sang ayah makan setelah operasi ditanggapi tidak secara serius di ruang perawatan. Makan siang dilewati dengan alasan waktu penyajian telah berlalu dan makan malam terlewatkan dengan alasan “dokter belum memberi instruksi apapun tentang diperbolehkan atau tidak nya makan”. Padahal dokter sudah menyampaikan kepada pasien kalau sejak pukul 1 siang, pasien diperkenankan makan.


Hal yang lain adalah ketika sesaat setelah operasi, sang ayah mendapatkan obat penghilang rasa sakit yang dialirkan ke punggung melalui saluran yang menggantung di tulang belakang. Setiap 6 jam suntikan itu wajib diberikan secara rutin oleh dokter suntik penghilang sakit, namun ternyata sampai kemudian 6 jam berlalu dan tepat 12 jam telah tiba, sang dokter yang membawa alat suntik baru tiba di kamar. Bagi dirinya, jadwal yang tertulis di buku tugasnya adalah jelas pukul 12 malam dan tidak kurang. Tidak ada respon perawat yang mencoba menghubungi dokter perihal keterlambatan ini. Padahal Sang Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata dengan resah sudah bolak balik menitip pesan kepada perawat agar dokter tugas suntik penghilang sakit segera dihubungi. Jawaban ringannya adalah “Dokter punya jadwal sendiri dan suntikan tidak dieksekusi oleh perawat, tunggu saja”. Tidak ada telepon yang dilakukan, tidak ada respon cepat yang diberikan. Padahal sang ayah setelah 6 jam berlalu mulai merasakan kesakitan akibat operasi dan memerlukan obat penolong. Tidak ada hati juga yang diberikan atas kesakitan itu. Seolah keluhan yang ada hanya sakit kepala semata yang bisa dipulihkan dengan janji-janji saja.


Hal yang sama berlaku untuk sakit batuk ayahnya. Sebelum dan sesudah operasi, batu hebat sangat mengganggu ayahnya. Bayangkan rasa sakitnya seperti apa, ketika luka operasi mulai menerbitkan senut-senut dan masih diwarnai batuk hebat yang muncul berulang mendorong dahak untuk dibuang. Raut kesakitan tampak di wajah sang Bapak Tua. Permintaan kepada perawat untuk menghubungi dokter ahli penyakit bagian dalam tubuh manusia direspon dengan ringan, “Besok dokter datang dan obat baru bisa diganti, tunggu saja besok”. Hal yang sangat di luar logika. Rasa sakit bertubi-tubi tidak direspon dengan hati. Padahal hati bisa diberikan semudah mengangkat telepon dan menjelaskan kepada dokter mengenai penderitaan pasien pasca operasi ini. Semua diperlakukan sama, semua pasien bernama manusia yang membayar perawatan Rumah Sakit ini dengan “catatan” discount (bahkan gratisan) atas pengobatan dan perawatan. Maka nampaknya perhatian, perawatan dan hati pun diberikan sesuai besaran discount yang ada.


Sang Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata di puncak keresahannya akhirnya menghubungi dokter bedah saluran lelaki (yang ternyata merupakan teman lamanya di sekolah). Dilakukan melalui SMS illegal (yang diperoleh dari jejaring pertemanan), sang dokter bedah bersedia kembali datang Rumah Sakit dan memberikan pertolongan yang diperlukan. Suntikan tambahan penghilang sakit dan suntikan obat batuk baru kemudian membuat sang ayah yang sangat menderita karena sakitnya itu bisa mulai terlelap dan melupakan sakitnya sampai pagi. Sampai saat itu, akhirnya aku melihat adanya hati yang diberikan dengan rela.


Kekecewaan Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata itu belum berakhir, munculnya dokter suntik penghilang sakit di pukul 12 malam dimintanya untuk ditunda ke pukul 4 (karena sang ayah sudah tertidur pulas) dan kembali direspon terlambat baru pada pukul 7 pagi. Alasan yang menyertai kali ini adalah karena seluruh pintu masih terkunci pada pukul 4 pagi. Kemanakah para perawat yang seharusnya terjaga di tengah malam menjelang pagi? Kemanakah isi hati mereka ketika rasa sakit akibat operasi sebenarnya tidak mungkin tertunda satu menit pun, apalagi atas nama pintu dan jendela yang terkunci secara prosedur? Mataku hanya bisa terkejap-kejap mendengar tuturan kekecewaan Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata yang disampaikan dengan penuh emosi kepada adiknya itu.


Sambil menggaruk-garuk hidungku yang tidak gatal, timbul pertanyaan besar dalam hatiku “Apa iya ada sesuatu yang salah di tempat ini?”, hal yang terlihat oleh mataku adalah keseharian yang rutin dan “biasa” saja berlaku. Memang demikianlah kinerja kerja para perawat di tempat ini. Mereka datang rutin ke kamar sang Bapak Tua dan pasien lainnya hanya untuk memberikan suntikan obat yang diwajibkan oleh dokter. Permintaan untuk membantu menggantikan cairan infuse pembersih saluran kemih dilakukan sambil berpesan “Sebenarnya ini bisa dilakukan sendiri oleh keluarga kok, tidak berbahaya karena alirannya bukan ke darah tapi ke saluran kemih” (mungkin maksudnya jangan mengganggu dirinya lagi dengan permintaan mengganti labu Natrium Klorida yang menetes cepat sehingga sering berganti itu). Tidak perlu menyampaikan keluhan pasien ke dokter segera, karena berpijak pada asumsi dokter sudah tahu apa yang harus dilakukan (aku sampai percaya di Rumah Sakit ini antara perawat dan dokter diperlengkapi dengan kemampuan telepati, bisa saling membaca kebutuhan dan permintaan pasien tanpa perlu dihubungkan dengan SMS atau Suara), tidak perlu menyapa pasien dengan pertanyaan ramah “Sudah mandi atau belum Pak?” apalagi pertanyaan “Apakah perlu dimandikan?”, karena air hangat dalam baskom mandi hanya akan teronggok di bawah kaki tempat tidur menunggu dipakai dalam ritual mandi pasien oleh anggota keluarga, kalau tidak ada anggota keluarga maka berarti tidak mandi karena memandikan pasien bukan tugas perawat, itulah pakemnya. Juga ketika kebutuhan untuk dibantu dalam proses BAB pertama yang penuh dengan kesulitan dijawab hanya dengan menyodorkan pispot tempat pembuangan hajat, tanpa penjelasan penggunaan, apalagi tawaran untuk pengambilalihan tugas itu. Rasanya menjadi cukup wajar kalau di seputaran tempat ini semua proses perawatan dilakukan bukan dengan “Hati seorang Perawat” tapi digerakkan hanya dengan “Batere seorang Perawat”.


Pada akhirnya otak kecil tikusku sampai kepada kesimpulan. Nampaknya tidak ada yang salah dengan tempat ini kok. Budaya merawat dan melayani tidak dengan hati nampaknya sudah merupakan hal yang biasa di tempat ini. Jika tidak merasa puas, penderita sakit dan keluarganya seharusnya mencari tempat berobat yang lain. Di sini adalah rumah sakit pendidikan, bukan rumah sakit tempat membagi-bagi hati dan mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan. Di tempat ini nampaknya produk utamanya adalah mencetak dokter-dokter muda professional (makanya tampak ratusan dokter hilir dan mudik di seluruh area dengan jaket putih kebesarannya itu menunggu “siap” secara profesi), mereka dihadapkan pada berbagai kasus penyakit dan berunding berdiskusi bersama untuk memahami solusinya. Semakin banyak ragam penyakit yang timbul dari antara ratusan pasien, semakin baik pembelajarannya.


Mendengar penuturan dan kekecewaan Wanita Muda Berambut Pendek Berkacamata itu dan melihat kenyataan yang ada di sekitarku, aku si Tikus Kecil dengan kebingungan agak berharap juga semoga rumah sakit ini dalam kesehariannya tidak hanya mencetak produk dokter professional dengan kandungan otak yang jenius, tapi juga semoga tidak lupa melengkapi cetakan dokter tersebut dengan sebongkah hati untuk menyempurnakan tubuhnya. Berurusan dengan manusia sangat lain dengan berurusan dengan tikus, bongkahan kecil hati tersebut dibutuhkan supaya semua yang dilakukan paling tidak seolah menjadi "tampak tulus" atau "sesungguh-sungguhnya tulus".


Selain itu, aku pun tetap berharap semoga tikus-tikus kecil seperti aku, tikus-tikus sedang dan besar seperti teman-temanku yang berseliweran dengan bebas di Rumah Sakit ini bisa tetap bebas berkeliaran, mumpung Rumah Sakit ini masih sangat-sangat jauh dari standard higienis. Mungkin setelah Rumah Sakit ini mencapai standard peringkat regional kelak barulah aku dan teman-teman tikus perlu berpindah mencari tempat baru.




"ditulis setelah Papa tercinta keluar dari sebuah rumah sakit hari ini setelah operasi prostatnya berjalan baik ... terima kasih untuk dr bedah urologi yang sudah memberikan hatinya dalam cerita ini"

Selasa, 13 April 2010

Berlayar dan Menetap 3 Hari di “Langit”


Jika kita merebahkan tubuh di hamparan rumput hijau di tempat yang bernama bumi, sambil melepaskan pandangan ke hamparan luas langit berwarna biru dengan awan putihnya yang bergulung-gulung seperti kapas dan berarak-arak tertiup angin di atas sana, sekilas sangat terasa bahwa langit berada sedemikian jauhnya dari jangkauan jari-jari kita. Menjinjitkan kaki dan bahkan sambil melompat setinggi-tingginya sekalipun, rasanya tidak akan dengan mudahnya membawa kita menjangkau langit.



Ketika sore hari tiba dan semburat cahaya matahari berpendar dengan kelengkapan seluruh koleksi warnanya (merah, jingga, kekuningan, biru, hijau dan keunguan), semakin membuat kita manusia merasa berada begitu jauhnya dari langit indah ciptaan Sang Maha Kuasa.



Apalagi ketika malam tiba dan hamparan lautan langit yang terlihat sedemikian gelap dan tak bertepi diterangi pendaran cahaya dari ribuan bintang-bintang kecil yang tersebar merata seperti sebaran merica di atas masakan cina, maka jangkauan jari tangan manusia untuk meraih satu bintang saja, semakin terasa kemustahilannya.

Langit yang begitu luas dengan segala keindahan yang menghiasinya berada pada jarak tak terjangkau dari pijakan bumi. Sangat jauh dan tidak ada tepinya. Begitu indah dan hanya serupa mimpi untuk digapai.



Namun di minggu yang lalu, aku dan teman-teman di tempat kami bekerja berkesempatan meluangkan waktu selama 3 hari untuk berjalan-jalan menuju langit yang terlihat sedemikian jauh dan tidak terjangkau. Kami berkesempatan berlayar menuju langit dan menikmati segala keindahan dan keajaiban yang terjadi di sana yang bagi kami semua sampai hari ini masih tetap merupakan mimpi. Mimpi yang tetap menaruh hatinya pada harapan bahwa suatu hari, negeri tempat kami berpijak yang bernama bumi ini akan memiliki keindahan dan keajaiban yang sama dengan langit itu.

Perjalanan diawali dari salah satu titik koordinat di Pulau Terpanjang di sisi Barat Indonesia, Pulau Sumatera, tepatnya di bagian Utara. Kota ini dikenal sebagai kota pelabuhan BATAM. Kota dengan “sejuta bangunan berbentuk kotak-kotak yang disebut sebagai ruko” (kanan kiri ruko) dan memiliki Sop Ikan terkenal dan terenak tak tertandingi di nusantara ini (wajib coba).



Setelah selesai menunaikan tugas pekerjaan di kota ini (yang disebut sebagai aktivitas “workshop dan meeting”), kami semua menyempatkan diri untuk menumpang kapal feri di ujung Pulau Batam dan berlayar selama setengah jam menuju langit yang lebih dikenal sebagai Singapura. Negara yang sangat terkenal di dunia dengan jaraknya yang hanya sepandangan mata dari sisi terluar Pulau Batam. Bahkan untuk dapat meraihnya, seolah dengan berenang menyeberangi selat pun rasanya masih mungkin dilakukan.



Pada akhirnya perjalanan di Singapura, tempat yang saya sebut sebagai “langit” ini dilakukan selama 3 hari hanya oleh kami berduabelas. Ber 4 lelaki yang meninggalkan anak, istri, dan kekasihnya di “bumi Indonesia” bersama 8 wanita yang juga meninggalkan anak, suami, dan kekasihnya di “bumi Indonesia tercinta”. Suasana di Harbour Bay, titik penyeberangan feri di area Batam ketika keberangkatan dilakukan berbanding terbalik dengan suasana di Singapura ketika kami mendarat. Jika di Harbour Bay sejumlah lelaki penghirup dan peniup asap rokok dengan bebasnya bisa menghembus-hembuskan napas dan asap beracunnya itu kemana-mana di udara Batam, maka begitu sampai di pelabuhan di Singapura, seketika dan serta merta semuanya menjadi para lelaki yang sehat paru-parunya secara jasmani. Tubuhnya dan kopernya bersih dari batang dan kotak rokok.



Salah seorang teman lelaki menceritakan betapa dahsyatnya perjuangan menenangkan degup jantungnya yang dikhawatirkan terdengar keluar ketika ia berusaha menahan kegrogiannya ketika pada pemeriksaan baris pertama, kopernya harus dibuka di hadapan petugas Imigrasi. Tak berhenti bersyukur kalau sebelumnya ia sudah membuang semua persediaan rokok yang dimilikinya dari Batam. Well … harga rokok ini di Singapore jika tertangkap 2 slove besar bisa senilai 35 juta rupiah (dendanya) … hehehe .. Di tempat yang kusebut “langit” ini, tidak ada petugas siapapun yang bisa menjadi “lemah” karena wanginya lembaran-lembaran hijau uang (mengapa disebut mata hijau yah, padahal jarang sekali uang berwarna hijau??).



Singapore merupakan kota yang “luar biasa” tak terlukiskan keteraturan dan kedisiplinannya. Kalau di negara kami yang disebut “bumi” itu hal yang pasti adalah “ketidakpastian”, maka di Singapore, hal yang pasti adalah “kepastian” itu sendiri. Segala sesuatu adalah “pasti”, kereta-kereta bawah tanah MRT yang melaju menghubungkan seluruh titik perhentian diratusan stasiun di Singapore selalu berhenti pada hitungan menit dan detik yang pasti. Aturan yang dijalankan, pasti baik dampaknya dan aturan yang dilanggar pasti juga buruk akibatnya dan diganjar hukuman. Hal baik pasti berbuah baik dan hal buruk pasti berbuahkan keburukan juga.



Pasti hitungan uang yang dibutuhkan untuk membeli tiket kereta, koin kecil maupun lembaran pasti akan ditelan oleh mesin dan diberikan kembaliannya (jika ada), pasti dihitung dengan benar gesekan kartu kereta yang kita dekatkan ke mesin sensor pembuka pintu akan mengurangi saldo dari tiket tersebut, pasti akuratnya waktu berhentinya kereta, pasti pintu gerbong kereta akan terbuka secara otomatis, pasti kereta menginformasikan secara otomatis setiap stasiun perhentian yang akan dilewati, dan pasti pintu akan kembali terbuka di tempat yang dituju.



Sistem transportasi Singapore (negeri yang kusebut langit ini) begitu rapi dan teratur. Jarak puluhan bahkan ratusan kilometer merupakan jarak yang tidak mustahil ditempuh dalam hitungan menit saja. Tak terbayangkan bagaimana jika hal ini bisa terjadi di “bumi”, tidak perlu menghabiskan 2.5 jam perjalanan Bogor Jakarta dan kembali 2.5 jam di malam hari dari Jakarta ke Bogor hanya untuk mencari sesuap nasi J. Setiap pekerja di Singapore menikmati secara efektif dan efisien jarak tempuh ke berbagai tempat, sehingga otomatis aktivitas apapun itu (bekerja, berbelanja, atau sekedar berjalan-jalan) dapat dilakukan dengan cara maksimal.



Hal ini pula yang membuat penduduk tidak merasa memerlukan mobil pribadi. Mobil hanya dimiliki kelas masyarakat tertentu yang mampu membayar biaya pajak nya yang setinggi gunung dan tentunya memiliki alasan jelas untuk “bermobil” bukan sekedar bermaksud untuk “pamer”. Akibatnya jalanan sepi dan lengang, jauh dari kemacetan, udara terasa sangat segar tanpa polusi dan dapat dihirup paru-paru dengan bebas, sekalipun panas cukup terik saat itu. Jika tidak berkendara umum, maka sebagian besar orang Singapore gemar berjalan kaki, hadiah lain yang menjadi dampaknya adalah kesehatan tubuh dan paru-paru penduduknya. Semua sehat dan semua bersemangat dalam menjalankan kehidupan.



Bagaimana dengan “bumi” ? semua yang terjadi sebaliknya, penduduk berusaha keras menyisihkan uangnya untuk membeli mobil baik secara tunai maupun cicilan, baru maupun bekas. Tidak dibatas jumlah usia kendaraan sehingga seluruh jalan-jalan raya yang tersedia (jika berbicara mengenai jalan raya di kota besar) maka setiap jengkalnya telah dipenuhi kendaraan mobil maupun motor. Penyebab utamanya adalah ketidaktersediaan transportasi umum yang memadai. Asap kendaraan bercampur baur dengan udara panas dan membumbung tinggi menyamapikan pesan-pesan berupa asap polusi ke atas bumi. Semuanya dihirup dengan bebas oleh paru-paru penduduknya.



Hal menyolok lainnya, di dalam kereta bawah tanah MRT tersebut adalah gerbong keretanya yang sangat bersih. Tidak ada permen karet dijual di negara Singapore ini sehingga tidak ada resiko jari tangan dan baju tertempel sisanya, apalagi rokok. Ada aturan dan tempat sendiri untuk melakukan prosesi memperpendek umur ini di tempat-tempat khusus. Sekalipun padat dan seringkali berdiri, suasana di dalam gerbong sangat nyaman, karena kita pun menyadari hanya dalam hitungan menit, stasiun tujuan sudah ada di depan mata.



Bagaimana dengan “bumi”? semua yang terjadi sebaliknya, suasana stasiun tidak ada yang bersih dari sampah dan asap rokok. Seringkali diperlukan mandi kembang tujuh rupa karena terlalu lama menunggu kereta KRL yang tidak kunjung tiba di stasiun Tanah Abang, wangi minyak mesin bercampur asap rokok dan sampah, paru-paru sesak, rambut dan badan beraroma memualkan pula. Di dalam gerbong kereta, dibutuhkan perjuangan tersendiri, ketika 3 jadwal kereta berbeda disatukan (karena seribu satu alasan) maka dapat dibayangkan kepadatan yang terjadi di dalamnya. Tubuh terjepit kuat di antara manusia lelaki dan perempuan, kaki melayang karena tubuh telah terjepit dengan aman, tangan tak perlu berpegangan pada apapun. AC seringkali padam, kereta berjalan tersendat karena alasan lewatnya kereta lain bergantian dan jadwal ketibaan yang seharusnya terjadi pukul 8.30 malam berubah dan bergeser sedikit menjadi pukul 11 malam saja. Alasan yang menyertai kadang longsor, kadang kerusakan kereta dan yang paling miris adalah karena kabel kereta dipotong dan dicuri orang gila.



Hal yang masih mirip antara Singapore kota yang kusebut “langit” dengan “bumi” adalah bau keringat yang menyeruak dan tetap saja menyesakkan dari sejumlah penumpang. Hal paling natural terjadi, karena secara otomatis ketiak-ketiak akan berbaris karena pergelangan tangan yang memegang gantungan di tiang kereta agar tubuh tidak terjerembab. Aroma ketiak ini masih persis sama antara “langit” dan “bumi”. Bedanya mungkin di Singapore disumbangkan oleh sebagian orang saja, maka di bumi disumbangkan oleh lebih banyak orang karena padatnya gerbong kereta.



Keamanan di Singapore sangat luar biasa. Kami ber 12 menghabiskan waktu selama 3 hari dengan berjalan-jalan tanpa henti ke setiap penjuru Singapore sejak pukul 9 pagi sampai dengan 11-12 malam tanpa menemukan kejahatan apapun yang terjadi. Baik di stasiun, di tempat berbelanja, di toko-toko, di dalam kereta dan di sepanjang jalan yang harus dilalui menuju apartement tempat kami menginap, keamanan merupakan kepastian yang dirasakan. Jaminan utamanya adalah tidak ada kejahatan yang akan terjadi, semua tertib dan semua aman. Pembantu rumah tangga (asal Bogor Indonesia) di tempat kami menginap, setiap malam jam 12 mengunjungi kami hanya untuk mengantarkan roti segar untuk sarapan keesokkan pagi. Kekaguman kami atas keberanian dirinya berkeliling ke 3 apartemen yang dimiliki majikannya hanya untuk mengantarkan roti pada pukul 12 malam dijawabnya dengan rona kebanggaan, bahwa negara ini aman sentosa. Transportasi bis yang akan membawanya pulang nanti sama amannya dengan Kereta Bawah Tanah yang ditumpanginya menuju apartemen kami, tidak ada kendala dan ketakutan untuk berkendara jam 12 malam ketika gelap atau jam 8 pagi setelah terang. Semuanya dijamin aman.



Maka nampaknya dia mulai pudar ingatannya tentang betapa “tidak aman” nya “bumi” tempat asal kami. Betapa kejahatan terjadi dimanapun kita berada, betapa hukum dan kesalahan yang dilakukan bisa dijungkirbalikkan dengan lembaran uang yang berwarna hijau, betapa kesalahan bisa diganjar kebebasan dan betapa kelemahan dapat diganjar hukuman berat hanya karena ketidakmampuan membela diri, betapa dengan mudahnya potongan mayat hasil mutilasi ditemukan dimana-mana (karena saat itu trendnya pembunuhan adalah dengan potong memotong), dan betapa tidak ada tempat yang aman di muka “bumi” selain berada di pelukan dan perlindungan Sang Pencipta.



Sampai di titik ini aku merenungkan semuanya. Pemandangan selama 3 hari berjalan, merasakan fasilitas mendasar yang kami nikmati selama berada di sini, betapa ternyata Bumi memang sangat jauh bedanya dengan Langit. Namun betapa sebenarnya perbedaan yang sedemikian jauhnya sebenarnya bisa diraih hanya dengan berlayar selama 30 menit. Mengapa jarak yang hanya sejauh pandangan mata itu bisa membedakan 2 buah negara dengan sedemikian ekstremnya seperti bumi dan langit ya?

Hal apakah yang ternyata masih bisa menjadi catatan “kelebihan dan kebaikan” di bumi? Hmmm … kalau hal ini mau dicatatkan sebagai prestasi maka jawabannya adalah “hal-hal yang bersifat materialistis”. Mal-mal di Singapore sangat luas dan bagus. Lengkapnya luar biasa. Pemandangan mall seperti ini sangat dekat dan tidak kalah dengan apa yang ada di “bumi”. Berbagai area resapan air dibangun dengan bangganya menjadi Mall yang komplit menyediakan produk beragam merk, sama dengan Singapore. Bahkan beberapa koleksi baju seperti Giordano, koleksi sepatu Charles & Keith dan berberapa koleksi peralatan materialistis lainnya masih jauh lebih lengkap dan bagus koleksinya di Mall di “bumi” dibandingkan Mall di “langit”. Harganya pun tidak terlalu jauh berbeda, sehingga kalau hanya berbelanja sepertinya masih bisa dipenuhi di “bumi”.



Apakah lagi yang bisa menjadi catatan “kelebihan dan kebaikan” di bumi? Hmmm … kali ini benar bisa dicatatkan sebagai prestasi, yaitu kekayaan khasanah kuliner masakan “bumi”. Rasa dan sajian kuliner “bumi” memiliki ragam yang ratusan jumlahnya dengan rasa yang ratusan juga rasanya. Manis asam asin, semua disajikan dengan rasa yang menawan dan membuat rindu lidah orang “bumi” seperti kami. Bagaimana dengan Singapore? Semua makanan di sana memiliki bumbu yang sangat terbatas. Kebanyakan makanan disajikan dalam bentuk mie dan kwetiau. Rasanya tidak pas dan kurang berbumbu di lidah, belum lagi jaminan halal tidak nya mempengaruhi wangi dan rasanya yang seringkali membuat mual perut. Mencari tumis sayur-sayuran sulitnya minta ampun, mencari gorengan yang gurih tidak mungkin ditemukan, mencari kuah panas berbumbu asam manis, biasanya akan tersaji di luar harapan. Berarti sejauh ini catatan “kebaikan dan kelebihan” negara tercinta bernama “bumi” ini ada dua dibandingkan “langit”. Untung masih ada yang bisa dijadikan kelebihan ……………..



Ketika kemudian rombongan kami berdua belas mengakhiri perjalanan kami di negeri bernama “langit” itu dengan kembali berlayar selama 30 menit dengan Feri menuju Harbour Bay Batam, maka kedatangan kami disambut dengan udara Batam yang panas dan berpolusi. Teman-teman penggemar prosesi memperpendek umur langsung berlomba-lomba menuntaskan kehausannya untuk “merokok” sebanyak-banyaknya. Kami semua dengan miris saling menyindir satu dengan yang lainnya “Selamat datang kembali di negeri yang penuh dengan ketidakaturan, jangan lupa rokok anda dan selamat menghisap sebanyak-banyaknya”. Inilah Indonesia, negeri kami “tercinta?”, negeri yang saya sebut dalam tulisan ini sebagai “bumi” karena sangat jauh perbedaannya dengan Singapore yang aku sebut sebagai “langit”. Sangat ironis mengingat jarak tempuh dua negara ini hanya sejangkauan mata saja.



Sesaat, sambil menunggu mobil pribadi yang menjemputku di Bandara Soekarno Hatta, tubuh dan jiwa kembali pada kenyataan yang paling nyata, jemputan akan tiba sangat lambat karena sudah terhambat sejak 1 jam yang lalu di area Bandara. Ada perbaikan jalan yang menyebabkan akses ke Bandara menjadi sangat macet dan terhambat (OMG). Belum lagi membayangkan perjalanan Bandara Jakarta menuju Bogor yang masih memerlukan waktu tempuh 2 jam an pada hari libur seperti Hari Minggu saat itu.



Jika dapat menaruh harapan pada pendaran cahaya bintang di langit, maka aku tetap berharap perubahan dan kemajuan dapat tetap terjadi pada negeriku Indonesia. Jika pun hujan batu yang terus menerus menjatuhi tanahnya, maka harapan akan terdapatnya payung yang besar dan kuat untuk melindungi negeri tetap aku taruh di cahaya bintang di langit.





“Tanah Airku Indonesia … negeri elok yang sangat kucinta …. Tanah tumpah darahku yang mulia …. Yang kupuja spanjang masa”