Kamis, 05 April 2012

PERSELINGKUHAN

PERSELINGKUHAN


Wanita cantik berambut panjang lurus dan berkacamata itu tampak begitu gelisah. Sesekali ia memandang jam di pergelangan tangannya. Gaya duduknya seperti cacing yang diletakkan di atas garam. Bergerak ke sana kemari seolah semua posisi salah. Ciri khas orang yang sedang resah menanti. Kopi dingin di hadapannya baru habis setengah gelas, embunnya tampak meluruh membasahi permukaan meja. Tidak disentuh lagi. Semuanya seolah larut menanti dalam gelisah.


Hanya selang beberapa menit kemudian, akhirnya wajah cantik itu tampak bersemburat riang. Ada cahaya yang tiba-tiba memancar gembira, ternyata sumbernya dari hadirnya seorang lelaki tampan bertubuh tegap yang berjalan cepat menghampiri. Mereka bersalaman. Formal sekali.


“Perlu ya bersalaman?” tanya Arsya dengan suara yang manja, matanya menatap lekat Riko, lelaki di hadapannya dengan penuh kerinduan.


“Perlu sayang, di sini tempat partner bisnisku biasa berkumpul. Kita perlu seolah sedang berjumpa buat diskusi pekerjaan,” bisik Riko dengan suara mendatar, mendesis karena berasal dari bibir nya yang tersenyum agak lebar. Senyum standard ketika ia berjumpa dengan rekan-rekan bisnisnya.


Lalu keduanya terlihat seperti terlibat dalam percakapan serius soal pekerjaan. Duduk berjauhan dan tampak sangat formal. Demikian pandangan banyak orang di sekitar mereka. Benar saja, sesekali tampak Riko melambaikan tangan pada beberapa lelaki berdasi dan wanita bersepatu tinggi yang lewat di seputaran warung kopi berlabel internasional itu. Di sini memang tempat yang sangat umum dan terbuka, banyak janji bisnis dibuat di tempat ini.


“Aku merindukanmu!” Kata Riko perlahan, menatap lurus menuju kedalaman mata Arsya. Kalimatnya tidak hangat dan tetap bernada datar. Tapi matanya tampak bersinar nakal, penuh dengan gairah, ingin melumat habis wanita di hadapannya, “Kamu cantik sekali siang ini!”


Arsya tersipu, semburat merah di wajahnya semakin nampak. Kalau ada yang memperhatikan mereka berdua, tentu akan cukup diyakinkan dengan gaya resmi Riko, tapi akan bingung juga melihat mengapa rekan bisnis di hadapannya itu tampak tersipu dan memerah wajahnya. Memangnya pembicaraan bisnis bisa begitu ya efeknya?


“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak siang itu,” Arsya berkata jujur, menutup matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan. “Kamu mengganggu aku di setiap tarikan napasku, Riko!” kali ini Arysa menuangkan isi hatinya yang terpendam dalam.


Satu minggu yang menyiksa baru saja berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Di kamar apartemen Riko yang kosong dan terletak di pusat kota - dekat kantor mereka yang berbeda arah. Tempat sempurna untuk memadukan segala rasa. Sayangnya kini tidak bisa lagi dilakukan, Mala - istri Riko mulai curiga, ada laporan dari satpam apartemen yang dengan polos menceritakan pada Ibu Mala bahwa suaminya kadang hadir di tengah minggu dengan seorang wanita.


Riko mengerti, merasakan hal yang sama. Tapi sayangnya tidak ada waktu yang tersisa siang ini bagi mereka berdua, bahkan untuk sekedar menggenggam hangat tangan Arsya, dia tidak bisa. Hanya 20 menit tersisa, menuju meeting bisnis berikutnya. Arsya pun harus segera kembali ke kantornya, sama - terikat dari sebuah rapat ke rapat lainnya. Sementara keduanya merasa semua mata di sekitar seperti sedang tertuju pada mereka.


Siang ini, ia memaksakan datang hanya untuk sekedar memandang beningnya mata wanita yang digilainya itu. Dicintainya? Belum tentu. Siang yang dingin karena semburan AC di warung kopi itu terasa hangat dan bahkan panas. Keduanya hanya bisa saling berpandangan penuh gairah yang tidak bisa tersalurkan.


“Ikut aku ke basement 2 Arsya, P14!” Suara Riko bergetar dan bergegas meninggalkan Arsya seorang diri. Perlahan berdiri seolah berbeda kepentingan, Arsya melangkahkan kakinya menuju arah yang berseberangan, turun menggunakan lift dengan hati penuh berdebar menuju ke basement 2 - P14. Riko ada di sana, mobilnya diparkir di sebuh pojok yang gelap, menghadap ke tembok. Keduanya larut dalam kerinduan yang membuncah di dada. Bibir Riko melumat habis bibir Arsya, sampai tidak bersisa, lidahnya bermain di leher jenjang wanita itu. Keduanya memagut rindu. Hanya 10 menit tersisa menuju meeting bisnis berikutnya. Arsya turun perlahan dari mobil, merapikan sedikit pakaian dan terutama lipsticknya. Siang yang mendebarkan. Selalu kurang, tidak pernah cukup waktu yang ada ketika berjumpa dengan Riko. Sang kekasih yang digilainya. Dicintainya? Belum tentu.


Di pojok warung kopi berlabel internasional itu - seorang lelaki berambut tipis alias botak, dengan misterius membuat catatan di notes book yang dibawanya.


“Kedua tersangka benar berjumpa pada pk. 14.00, bersalaman formal. Pertemuan hanya sesaat dan mereka terlihat terlibat dalam diskusi serius. Sang Pria meninggalkan tempat bergegas pada pk. 14.10 menuju ke arah Utara dan sang Wanita tampak dengan santai menuju arah Selatan pk 14.15. Tidak berpegangan tangan, apalagi berciuman.”


Ditutupnya notes book hitam itu. Dengan gaya Sherlock Holmes, si lelaki berambut tipis alias botak itu berharap laporannya akan melegakan hati Ibu Mala. Suaminya gak berselingkuh kok, ternyata !





Tema : PROLOG - Perselingkuhan

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012


BANJIR BESAR ITU DATANG JUGA

“Pfuihhhh .... lega rasanya, akhirnya ada kesempatan untuk bernapas!” Aku duduk di atas batu besar, di bawah pohon tarbantin yang rindang dan sejuk. Terik matahari siang itu terhalangi oleh dedaunannya yang lebat dan berjuntai-juntai melebar seperti payung meneduhkan kepala. Tanganku meraih gelas tembikar berisi air, yang ketika diminum isinya seteguk demi seteguk, dinginnya terasa mengalir perlahan di kerongkonganku,”Ehmmm segarnya!”.


Hatiku gembira tak terkira. “Akhirnya selesai juga!”. Memandang penuh takjub kemegahan yang hadir di hadapanku. Rasanya tidak pernah dapat dipercaya, bahtera besar dari kayu gofir itu bisa selesai dibuat pada waktunya. Memandang benda raksasa berwarna coklat kayu itu bagiku seakan memandang wujud ketaatanku pada “Dia”.


Dengan panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta, dibangun di atas bukit jauh dari pemukiman penduduk desa, siapapun sudah sewajarnya menganggap diriku gila. Pembangunnya tak kenal lelah selama berpuluh bulan, aku sendiri tidak bisa menjelaskan apa peruntukan kapal ini bagiku dan bagi orang-orang yang mencemooh aku.


Dari tempatku beristirahat, terlihat Sem, Han, dan Yafet, masing-masing berjalan perlahan menarik pasangan-pasangan binatang terakhir yang harus dimuat di dalam Bahtera. Itu merupakan salah satu “perintahNya”.


Sem tampak menarik-narik tali yang mengikat leher pasangan jerapah berbulu putih bermotif kotak-kotak coklat yang tampak membandel. “Ayo .. ayo hussssshhhh haaaa, masuk ... ayo masuk!” teriaknya memaksa kedua pasang jerapah yang tampak enggan melangkah itu.


“Pancing saja mereka masuk dengan wortel yang agak banyak Sem !!” teriakku pada putra pertamaku itu. Kulihat Han di belakangnya mentertawakan sang kakak yang kerepotan itu. Han sendiri tampak lebih santai menarik pasangan Gajah berwarna abu-abu yang berat tubuhnya mencapai beberapa ton itu. Sang binatang besar berbelalai tampak lebih penurut dibandingkan si leher jenjang.


Maju dengan perlahan tapi pasti memasuki pintu Bahtera. Sesekali Han memberi mereka kacang sebagai tanda penghargaan karena keduanya bersikap “santun”. “Gajah yang baik ! Ayo kita masuk mendahului jerapah!” teriak Han seolah sedang berbicara kepada manusia.


Masih agak jauh di belakang mereka, tampak Yafet dengan wajah yang penuh dengan peluh tampak berjalan sambil sesekali menarik dari depan dan sesekali mendorong dari belakang pasangan kuda nil gendut berkulit tebal lembab dengan pori-pori besarnya. Mereka berjalan sangat lambat dengan pantat besarnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri perlahan.


“Bantu aku nanti Han !!” teriaknya kepada Han yang kelihatan sudah berhasil menempatkan pasangan Gajah di tempatnya. “Gak mungkin kuat nih mendorong 2 kuda nil begini!!” teriaknya lagi. “Okay ... siiiippp!” teriak Han dari dalam bahtera. Nampaknya sang Gajah sudah diletakkan di lantai paling bawah dengan sukses.


Aku tertawa-tawa saja melihat polah ketiga anak lelaki itu. Anak-anak baik dan penurut yang dianugerahkanNya kepada ku dan istri. Tak terbayangkan kalau tidak ada mereka bertiga. Mencari kayu gofir - bahan utama kapal besar itu, adalah pekerjaan yang sulit sekali. Kayu ini tidak mudah didapatkan dan tingkat kekerasannya sangat luar biasa. Ketika harus memotong dan melicinkannya sangat tenaga yang harus dikeluarkan. Memerlukan kekuatan anak-anak muda. Aku sih sebetulnya masih cukup kuat, jika mau dipaksakan. Di usiaku yang memasuki 600 tahun ini, rasanya apa saja masih bisa aku buat. Tapi perlu sesekali beristirahat dan berteduh seperti saat ini.


Dari kejauhan tampak istriku datang disertai ketiga menantu perempuan kami. Mereka berempat berjalan beriringan ke arahku. Membawa keranjang penuh berisi roti gandum dan buah-buahan juga susu. “Hmmmm akhirnya makan siang tiba juga” gumamku dengan riang. “Apakah mungkin ini makan siang terakhir di dunia saat ini ya?” Entahlah. Tidak ada yang pernah tahu. Setelah makan siang nanti, setelah pasangan Jerapah, Gajah dan Kuda Nil terakhir selesai diikat di lambung dasar bahtera, aku harus lapor pada “Dia” kalau tugas yang diberikanNya padaku dan anak-anak telah selesai.


“Ayoo Sem, Han, Yafet, makan siang dulu, kalian nanti terlalu lelah kalau tidak beristirahat!” teriakan istriku mengagetkan lamunanku. “Nuh, ini basin untuk mencuci tangan, cuci tanganlah dulu sambil menunggu anak-anak!” katanya lagi padaku.


Ketiga anak perempuan - menantuku itu tampak sibuk mempersiapkan makan siang kami. Semua tampak lezat. Roti gandum berdaging tebal diolesi madu terbaik dari sarang lebah yang menempel di pohon buah kami di halaman. Di dalam roti selembar daging asap diselipkan. Susu sapi segar yang baru saja diperah menjadi minuman kami, dilengkapi dengan buah anggur yang ranum berwarna keunguan dipetik langsung dari kebun di belakang rumah. Makan siang yang sangat sempurna. Perayaan kecil atas tugas besar yang telah selesai. Perayaan terakhir jika memang waktunya akan segera tiba.


Kami ber delapan duduk bersama di bawah Pohon Terbantin di atas beberapa batu dan sebagian di atas hamparan rumput hijau yang lembut nan empuk. Memecah-mecahkan roti dan mengucap syukur kepadaNya atas rahmatNya yang masih dapat kami rasakan.


Tiba-tiba terdengarlah suara berat “itu”.


“Nuh, masukklah ke dalam kapal. Kamu dan seisi rumahmu!” demikian kataNya. Bagiku, yang telah beratus-ratus tahun hidup dan mendengar suaraNya, ini adalah perintah yang cukup keras. Aku hanya mau taat saja dan tidak mau banyak bertanya.


Maka, setelah bersantap, bersiaplah kami ber delapan beranjak memasuki pintu sang bahtera. Beberapa penduduk desa tampak berjalan melintasi tempat kami berada. Mereka mau berburu ke hutan di kaki gunung. “Hallo Nuh, masih sibuk dengan bahteramu ya?” sapa mereka padaku dengan nada yang entahlah .. aku tidak mengerti, terdengar serupa ejekan dan cemooh.


“Iya!” jawabku. “Nampaknya sebentar lagi waktunya akan tiba, aku tetap bermaksud mengajak kalian serta, kalau memang mau!” kataku pada mereka.


Terdengar tawa sekilas dari Josafat - tetangga sebelah rumahku di desa, “Tidak Nuh, kamu lanjutkan saja kegilaanmu sendiri, jangan ajak-ajak kami !” Mendengar jawaban yang menyakitkan hati itu, aku hanya mengangguk. Lama-lama sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat hinaan seperti itu.


“Terserahlah!” pikirku, melanjutkan berjalan perlahan mendaki bukit untuk segera masuk ke lambung bahtera besar bertingkat tiga itu. Semua sudah lengkap di dalam, istri, anak, menantuku, dan semua pasangan binatang yang ada di dunia.


Sem, Han, dan Yafet membantuku mendorong pintu besar bahtera agar dapat bergerak dan menutup. Terdengarlah bunyi berdebam kuat ketika daun pintu yang tebal menutup rapat jalan keluar dan masuk bahtera. Tidak lagi bisa dibuka. Ketika “Dia” menutup sebuah pintu, maka tidak ada manusia seorangpun yang bisa membukanya lagi. Dan sebaliknya juga.


Tiba-tiba langit yang tadi cerah dan panas itu berubah seketika menjadi hitam kelam. Selayaknya malam saja rasanya. Kilat dan guntur bergantian menyambar sangat kuat. Sang cahaya matahari yang tadi masih terlihat jelas dari jendela Bahtera tingkat 3, hilang tak bersisa pantulannya. Semua berubah menjadi gelap dan kelam.


Tak berapa lama hujan yang seperti dicurahkan dari langitpun turun dengan derasnya. Sangat lebat. Luar biasa hebat. Seperti badai saja layaknya. Deru airnya terdengar maraung-raung seperti marah, tidak mau dikalahkan oleh bunyi guruh yang menggelegar seolah mengamuk hebat. Tidak pernah sebelumnya sepanjang usia aku mengalami hal ini. Mengerikan. Inilah pertama kalinya. Dan aku berharap, ini adalah yang terakhir kali juga.


“Nuh ... Nuh ... buka pintu, toloooong Nuh!!” pintu bahtera terdengar digedor kencang oleh tangan-tangan dengan suara panik yang aku kenal betul merupakan sahabat-sahabat di desa. Teman masa kecilku yang ketika beranjak dewasa memilih untuk tidak hidup sesuai kehendakNya.


Aku cukup khawatir mendengarnya, berusaha lari turun dari lantai tiga dan mencoba menarik kuat pegangan pintu besar di lantai dasar itu. Tidak bergerak sama sekali. Tidak bisa dibuka lagi. Pintu sudah ditutup olehNya. Rapat.


Deru hujan badai yang tiada henti dan seolah menumpahkan seluruh air yang ada di langit itu mulai tampak bergulung-gulung di permukaan bumi. Gelombang airnya seketika mulai menghanyutkan desa tempat kami menetap. Aku memandang ke bawah dari lantai 3 dan melihat kumpulan besar air bah menyerbu, mengalir deras, dan melumatkan seluruh desa dengan kekejaman yang ngeri rasanya. Semua seketika tak bersisa. Teriakan terakhir teman-teman yang menangis dan menjerit masih sempat terlintas di telingaku. “Maafkan aku teman!” gumamku dengan hati berduka.


Sem, Han dan Yafet tampak memeluk dan menenangkan istri mereka masing-masing. Ketiganya tampak menangis begitu sedihnya. Orang tua mereka di desa, adik dan kakak mereka, semua tergulung dalam gelombang air bah yang ganas. Tak mungkin ada mujizat keselamatan untuk kedua kalinya bagi mereka semua.


Istriku tampak jauh lebih tenang. Nampaknya saat ini telah lama dinantinya. Ia menunggu dan menunggu moment ini tiba namun tanpa pernah banyak bertanya kepadaku, kapan waktu sebenarnya akan datang. Ia tampak diam dan terus berdoa.


Tiba-tiba terasa kalau bahtera tempat kami berlindung ini terdorong kuat dan mulai bergerak perlahan. “Waaah ... berarti air bah telah naik ke puncak gunung tertinggi sekarang ini!” pikirku. Air naik semakin tinggi lagi, bahkan jauh lebih tinggi daripada puncak gunung dimana aku memarkir bahtera ini.


Mulailah pelayaran kami sekeluarga dimulai, meninggalkan setiap hal yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kami.


“Tak ada lagi teman, sanak keluarga, dan harta kekayaan. Semua yang tidak kekal di bawah sana telah habis terlumat oleh aliran air,” pikirku lagi dengan miris.


“Kalau saja mereka mau taat ... tentu saat ini mereka sedang bersama kami sekeluarga di dalam bahtera.”




TEMA : Sudut Pandang Orang Pertama dalam Suatu Masa

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012




SURAMNYA RUMAH SAKIT

Selasar rumah sakit pemerintah terbesar di kota kembang itu tampak ramai sekali. Seperti pasar malam layaknya, padahal saat ini bukan merupakan jam besuk. Namun di tempat ini, nampaknya manusia dan ragam penyakitnya tidak dapat dibatasi semata oleh aturan baku yang diwakilkan oleh angka-angka waktu. Semua datang dan pergi sekehendak hatinya saja. Penyakitlah di sini yang paling berkuasa.


Di lobby ruang tunggu yang berkubah besar dan tampak suram kelihatan barisan kursi-kursi panjang dari kayu berjajar di tengah ruangan, banyak pasien rawat jalan dan pengantarnya yang duduk menunggu sambil matanya tertutup terkantuk-kantuk di sana. Sebagian malah tampak menguasai satu kursi dan membaringkan tubuh di atasnya, sambil mengerang-ngerang dengan wajah menahan kesakitan. Sebagian lagi memilih menghampar di atas lantai bertegel abu-abu karena kotornya, dengan beralaskan kertas koran karena tidak kebagian tempat.


Raut wajah mereka semua tak satupun yang nampak ceria. Semua kelihatan sekelam ruangan dimana mereka duduk menanti. Tak ada senyum apalagi tawa. Tampaknya teori yang menyatakan kalau semangat yang patah itu dapat ditularkan kepada sekitar, demikian pula dengan rasa gembira, adalah benar adanya. Semua saling menularkan rasa putus asa. Sebagian berwajah murung dan tampak kelelahan menantikan panggilan dari jendela loket di sisi kanan, yang akan meneriakkan nama pasien untuk segera mengambil obatnya. Bagaimana tidak kelelahan, setelah menjalani pemeriksaan yang memakan waktu berjam-jam, proses meracik dan menimbang obat pun masih membutuhkan lagi waktu lama karena antrian banyak dan petugas apoteker terbatas. Saat menegangkan adalah ketika kwitansi penagihan disodorkan, maka biasanya wajah pasien yang murung akan terlihat gelisah memandang harga obat yang tertera. Lengkaplah sudah.


Beberapa dari mereka menunggu panggilan nama dari jendela loket di sisi kiri. Ini merupakan jendela dimana pembelian darah untuk transfusi bisa dilakukan dan hasil laboratorium yang akurat disodorkan. Pasien dan pengantar yang menanti di sini, tetap berwajah sendu, bukan hanya karena rasa tidak enak di badan, juga karena berdebar-debar menantikan surat laboratorium yang isinya akan memvonis jenis penyakit mereka.


Pemandangan akan lebih miris lagi melihat pasien dengan kesakitan fisik beserta sekumpulan pengantarnya duduk berkumpul bersama-sama. Biasanya mereka mengambil posisi di sudut-sudut lobby besar suram itu. Duduk di lantai beralaskan tikar maupun kertas koran ditemani beberapa bantal, mereka biasanya duduk menanti untuk jangka waktu agak panjang.


Pasien dengan kasus seperti ini dicirikan dengan menampakkan kesakitan yang ditahan, entah karena penyakit di dalam tubuhnya yang biasanya sudah akut, maupun karena terlihat jelas daging kanker yang menjuntai dari lehernya, atau dari wajahnya. Pasien-pasien ini dengan terpaksa menghampar dan tidur di lantai karena tidak memiliki tempat untuk berteduh. Mungkin mesjid rumah sakit sudah penuh juga dengan kasus serupa. Asal mereka biasanya dari luar kota Bandung, dan umumnya memaksakan diri menunggu jadwal observasi dokter yang tak jarang baru terjadi 3 - 7 hari lagi. Mereka tidak bisa pulang ke kampung karena keterbatasan uang berobat dan ongkos transportasi. Maka di sanalah, lobby suram, penuh dengan semangat yang patah, mereka menanti.


Wajah suram para penunggu lobby ini akan berubah menjadi khawatir ketika terdengar dari kejauhan sirene ambulance yang semakin mendekat dan kemudian berhenti tepat di depan lobby. Biasanya hampir dapat ditebak, beberapa perawat pria akan berlari mendorong sebuah tempat tidur beroda untuk menjemput sang pasien keluar dari bagian belakang mobil. Tak jarang pasien yang diangkat dan kemudian ditidurkan di atasnya memiliki sekujur tubuh penuh luka dan berdarah-darah akibat kecelakaan. Kelihatanlah kaki yang membengkok karena patah dan darah segar yang masih memerah mewarnai selimutnya. Jangan dipandangi wajah pasiennya, terlihat mengaduh-aduh kesakitan sangat dan diiringi dengan pengantarnya yang sambil berlari kecil mengiringi sambil bercucuran air mata.


Wajah suram ini akan berubah menjadi agak ketakutan, ketika ketibaan ambulance di depan lobby adalah untuk meletakkan tubuh yang sudah tampak membiru dan kaku di atas tempat tidur beroda. Jika ini yang terjadi, biasanya sang pasien telah memperlihatkan wajah yang tenang, agak putih kepucatan dan telah diam seribu bahasa. Tinggalah pengantar-pengantarnya yang berlari kecil sambil menangis menjeritkan nama sang pasien untuk kembali.




Tema : Pernik Fisik Suasana Rumah Sakit

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012

SITI NURHAGI

Mbak Siti Nurhagi namanya - seorang senior di kantor lamaku. Hari pertama berkenalan dengan dirinya, dengan antusias ia menghampiriku, mengulurkan tangan dan tersenyum dengan manis,”Hagi!” katanya dengan suara yang malah terdengar tegas dan sedikit galak.


“Kamu akan ikut orientasi pendidikan anak baru di sini, beritahu aku kalau perlu dibantu ya!” katanya lagi masih dengan suara yang sama.


Nama uniknya itu diambil dari nama seorang pemain bola ternama “George Hagi” - yang merupakan pemain bola favorit ayahnya. Ternyata sesungguhnya pula, Mbak Siti Nurhagi merupakan penggemar berat sepak bola. Jika ada pertandingan piala dunia di televisi, maka ia satu-satunya karyawan wanita yang dengan rela mengikuti jadwal tanding dan terjaga sampai malam hari untuk berperan sebagai bandar tebak-tebakan ringan. Berapa skor malam itu, siapa pemain yang diramalkan akan berhasil meng-gol-kan, apa warna kaos kaki pemain di pertandingan nanti, dan berbagai tebakan konyol lainnya. Sebelum pertandingan, biasanya peserta tebakan akan mengumpulkan uang, dan jika tidak ada tebakan yang benar, maka bandar bola - alias Hagi lah yang memperoleh keuntungan. Pastinya akan habis juga dalam sekejap untuk makan-makan.


“Cihuyyy .... tidak ada tebakan bola yang benar, bandar untung, kita makan-makan!” demikian selalu serunya dengan mimik muka gembira mengajak kami serta dalam keriaan bersama para penggemar bola dunia.


Mbak Hagi bertubuh agak gemuk namun bisa bergerak lincah. Wajahnya pun serupa tubuhnya, dengan dua buah pipi yang bulat berbintik coklat mengapit hidung yang menjadi tampak kurang mancung karenanya, matanya agak sipit namun selalu bersinar ceria, disertai dengan senyum lebar yang sebenarnya membuatnya kelihatan ramah - kalau sedang ramah. Ketika tersenyum itu maka tampaklah gigi bagian atas dan bawahnya yang kecil-kecil dan terikat kuat dengan rangkaian kawat berwarna warni.


Belakangan aku baru mengetahui kalau itu adalah pemasangan kawat giginya yang kedua kali, karena pemasangan pertamanya gagal total. Belakangan juga aku tahu kalau dokter Orthodentist Kantor kami yang merawatnya, dengan jujur merasa berputus asa atas perkembangan rahang atas dan bawahnya yang tidak senormal milik orang kebanyakan. Gigi Mbak Hagi yang kecil-kecil dan berbaris rapi itu sulit untuk diatur dengan baik, barisan gigi atas menutup seluruh gigi bawahnya. Di dunia kedokteran dan kesehatan, hal ini berarti setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, tidak terkunyah dengan sempurna dan potensial mengganggu pencernaan.


“Ibu Hagi, behel giginya ini mungkin harus dipasang seumur hidup. Saya sangat kesulitan menaikkan rahang atas Ibu Hagi yang menutup rahang bawah secara total. Kalau mau treatment ini dijalankan, harus mau bersabar ya bu!” demikian kata Dokter Gigi tampan yang merawat dirinya, mencoba membesarkan hatinya yang ciut. Biar bagaimanapun, memasang kawat gigi sepanjang hidup tidak akan asyik rasanya.


Mbak Hagi memiliki rambut yang menarik perhatian banyak orang. Keriting kecil-kecil melingkar, bahkan cenderung agak kribo. Rambut serupa ini tentu saja lebih sering sulit untuk diatur dengan baik, daripada mudah ditata manis. Karenanya, dia cenderung memotongnya agak pendek agar tidak mengganggu kegesitan gerakannya. Dalam berbagai kesempatan, ia tinggal mengikatkan bandana berwarna ceria yang difungsikan sebagai bando untuk menjadi aksesoris rambutnya.


Ketika pada suatu hari ia hadir dengan wajah ceria di area kantor dengan rambut yang nampak lurus karena diberi obat dan dicatok sampai kelihatan licin mengkilat, maka hasil karya salonnya ini menuai protes puluhan teman di sekitarnya.


“Gak pantes, kamu jadi kelihatan kayak perempuan!” demikian teriakan sebagian dari mereka dengan kejam.


“Jelek Hagi, kritingin aja lagi, wajahmu jadi kocak!” seru sebagian teman lainnya.


Maka berakhirlah hari itu bagi Hagi dengan kurang asik. Berharap dapat pujian, malah menuai celaan. Namun ternyata bukan Hagi namanya kalau mudah menyerah, maka dengan tabah dijalaninya penampilan tidak pantas itu sampai obat rambutnya benar-benar habis dan keriting kembali melingkar dengan sendirinya.


Dalam tugasnya setiap hari, Hagi berperan di bidang administrasi penjualan. Tugas sebenarnya adalah menagih pembayaran yang tertunda dari beberapa distributor. Maka tak jarang dari mejanya terdengar suara yang agak keras memaksa para distributor untuk melakukan pembayarannya, jika perlu detik itu juga!


“Bapaaak, saya kan sudah bilang, barang sudah dikirimkan sejak kemarin, eeeh ... bapak belum juga bayar sampai hari begini. Pokoknya, kalau sampai nanti sore belum juga ditransfer, saya gak akan kirim lagi barang ke tempat Bapak. Tanggung sendiri loh akibatnya!” demikian teriaknya di telepon kepada Dealer di ujung sana yang agak nakal.


Jika pekerjaan ini sedang dilakukannya, maka yang tampak adalah wajah bulatnya yang biasa tersenyum ramah akan mengerenyit karena marah dengan bibir yang tampak meruncing karena kesal. Tak jarang pula karena kekesalannya, ia mengacak-acak rambutnya sendiri, sehingga gulungan keritingnya akan jatuh ke kiri dan ke kanan tidak karu-karuan.


Dari mimik wajah dan keriting rambutnya, setiap kami dapat mengetahui dengan pasti sedang senang, marah, atau sedihkah dirinya.




Tema : Penggambaran Pernik Wajah

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012




BUNUH DIRI

Bunyi napas yang terdengar samar itu begitu pelan dan teratur, naik dan turun berirama, meneduhkan. Sesekali memang terdengar tarikan napasnya yang bermaksud menghirup udara lebih banyak kemudian dihembuskan sedikit lebih kuat, hanya sesekali saja, tapi selebihnya ia tampak begitu tenangnya. Tidur kelelahan karena tangis yang panjang. Mata mungil indah itu akhirnya tampak terpejam tenang, sebagian bulu matanya yang lentik kelihatan menempel satu dengan yang lainnya oleh sisa air mata mengering. Di seputaran mulut kecilnya masih terlihat keringan air liur dan sisa susu yang tak kunjung mengenyangkan rasa dahaganya.


Ijah memandang wajah buah hatinya dengan penuh duka. Ipah - Syarifah, gadis yang sejatinya cantik karena berkulit putih berhidung bangir dan berambut hitam sekalipun agak jarang. Tubuhnya kering berkulit putih kusam seperti permukaan daun yang kurang cahaya dan kentara betul tulang daunnya. Sisa-sisa garukan berlajur putih tipis tampak di kulit kakinya yang bersisik. Di sepanjang tubuhnya teraba tulang menonjol tajam membentuk sudut seperti ujung-ujung meja. Ipah tidak pernah merasakan kenyang apalagi bahagia sejak hadirnya. Kelahirannya ke dunia adalah hal yang paling disesalkan ibunya. Ia tumbuh kuat di kantung rahim di setahun yang lalu. Tindihan dari lelaki tinggi besar keturunan Arab yang menyingkapkan paksa kain penutup tidur sang ibu di malam paling jahanam dalam hidupnya, sebagai TKI nun jauh di Timur Tengah sana.


Saat itu telah lewat dari tengah malam, Ijah dapat merasakannya dari kesunyian yang hening dan hembusan angin dingin yang perlahan mulai mengalir menusuk tulang, tapi kali ini dinginnya terasa sampai ke dalam hati. Tubuh Ijah menggigil perlahan. Ditariknya kain batik kusam bersalur coklat untuk menutupi tubuh Ipah. Kerai bambu penutup kusen jendela yang tidak lagi bisa tertutup rapat itu berderak perlahan dan berbunyi seolah sengaja tidak mau menghadirkan hening yang terlalu sunyi bagi ibu dan anak itu. Sesekali di kejauhan terdengar suara burung hantu sang penguasa malam membanggakan dirinya masih terjaga. Lampu tempel kecil yang parkir di tembok kamar sempit, tempat Ijah dan Ipah berlindung, tampak menari-nari tanpa iringan musik di dalam heningnya malam itu.


Perlahan Ijah bangkit dari posisi tidurnya, ditariknya kutang untuk menutupi buah dadanya yang lembek tak berisi, tak heran Ipah bisa menangis sepanjang malam merengek minta diisikan mulutnya dengan air susu dari puting yang tak lagi bisa memberikan rasa kenyang itu. Yang bisa dihisapnya hanya angin dan rasa pahit yang bersisa. Kalaupun ia akhirnya jatuh terlelap, lebih karena mengerti sang ibu tidak memiliki apapun lagi dari tubuhnya untuk dibagi.


Beringsut bergerak perlahan sekali ke ujung dipan kayu, agar tidak terdengar deriknya yang bisa menjagakan Ipah, Ijah turun dari atasnya. Kakinya menyentuh lantai semen dingin berpermukaan kasar, malam ini rasanya seperti menginjakkan kaki di atas lelehan es batu. Dingin yang sampai ke dalam hati. Menyeret kakinya tanpa ragu melangkah ke sudut kamar, Ijah tahu, saatnya harus segera ditibakan. Menunggu waktu yang tak kunjung tepat, membiarkan napas terus menetap berarti menambah hitungan hari dengan derita.


Di sudut kamar yang temboknya berwarna entah putih entah abu karena kusam itu, Ijah terbiasa meracik bahan makanan dan memasaknya, jika memang ada. Di kamar yang berukuran 3x3 meter persegi itu segala hal dilakukannya. Ya tidur, ya memasak, ya menimang dan mengasuh Ipah, ya bersolek, dan ya juga menerima tamu-tamu untuk dipuaskan napsunya. Bagi Ijah yang penting napas tersambung, perut tak bernyanyi dan air susu bisa menetes ke dalam mulut Ipah karena perut ibunya berisi nasi.


Namun sudah seminggu ini keadaan berbeda. Kompor minyak tanah di sudut kamar tampak tenang-tenang tertidur lelap, tidak bergairah karena tidak ada beras untuk ditanak. Razia kagetan yang mentertibkan pelanggan lapak wanita tuna susila seperti Ijah dan kawan-kawannya sedang berlangsung. Sepertinya karena sebentar lagi akan ada pesta-pesta pemilihan pemimpin daerah. Setiap sudut Jakarta mungkin harus berbenah, berpupur tebal dan bergincu merah, agar kelihatan “cantik”nya dan tak kentara koreng basahnya.



Hampir seminggu menahan nyanyian lambung di dalam perut tak menjadi masalah bagi dirinya sendiri, namun hal ini menjadi “masalah” ketika tak ada setetespun air susunya bisa diproduksi buat si kecil Ipah. Ibu tak makan, sang anak yang akan mati perlahan. Yang pasti, Ijah mau menarik saatnya ke malam ini. Malam dimana 2 jam berlalu dari tepat tengah malam.


Di sebelah kompor hitam kusam yang tidak bergairah itu, teronggok sebotol besar berisi minyak tanah yang sempat dibelinya sore ini. Diangkatnya botol besar berpermukaan licin dan terasa dingin itu. “Mengapa malam ini semua terasa dingin?” pikir Ijah. “Apakah menyongsong mati itu sudah mampu membuat segalanya dingin sebelum sampai di kedalaman liang lahat? pikirnya lagi.


Disiramkannya minyak tanah ke seluruh lantai semen abu-abu kusam, tidak ada yang terlewatkan, juga di seluruh permukaan kain seprai kumal di atas dipan tempat Ipah tampak masih asik bermimpi. Bau memualkan perlahan menyeruak ke seluruh ruangan, tak enak sama sekali buat dihirup, kepala Ijah mulai berputar tak karuan karenanya, ditahannya agar tidak sampai muntah, sulit sekali, tapi ia tidak mau rencana terbesar di dalam sisa hidupnya gagal. Sisa cairan minyak tanah masih cukup untuk dihabiskannya membasahi diri sendiri. Mulai dari kepala, wajah, tubuhnya, bajunya, kaki dan tangannya. Habis akhirnya semua minyak, tanpa sisa. Ijah kemudian meraih pemantik rokok dari laci lemari bajunya, milik salah satu tamu yang sempat tertinggal, disimpannya alat itu dalam genggaman. Pemantik rokok berwarna perak dengan gambar tengkorak terukir di permukaannya.


Ijah membaringkan diri di samping Ipah, memeluknya erat, menghangatkan dingin yang semakin terasa dari kepala ke sekujur tubuh dan mengalir terus di kulit, sendi, tulang dan menyeruak ke dalam organ-organ tubuhnya. “Perlukah berdoa dulu?” tanya Ijah dalam hati sebelum memutuskan sendiri - tidak perlu. Tuhan kalau Dia ada, pasti akan mengirimkan makanan dari surga dan bukannya membuat Ipah - sang bayi keturunan Arab itu menderita.


Dinyalakannya satu kali saja pemantik tengkorak itu. Ijah merasakan sang tengkorak tertawa lebar memandang dirinya, seolah menantangnya apakah benar siap masuk ke dalam panasnya kobaran api yang ia sendiri ciptakan. Gulungan api segera menyambar kain seprai tempat keduanya berbaring, lantai pun seketika dipenuhi kobaran nyalanya. Ijah mendekap erat Ipah yang mulai menangis kepanasan, mendekap semakin erat ketika ujung kaki dan kainnya juga mulai bersinar dan menyala-nyala, dan mendekapnya semakin erat lagi sampai hilang napasnya agar Ipah tidak sempat menderita ketika tubuh Ibunya perlahan tapi pasti mulai menyala terang, kulit-kulit ibunya melepuh perlahan, terlepas selapis demi selapis, meleleh dan kemudian malah semakin mengeras hangus berwarna hitam. Ijah hilang dalam rasa sakit yang tak terperikan, hilang dalam kobaran nyala yang semakin lama semakin membara, sayup masih terdengar teriakan teman-teman senasib penjual cinta, mencoba menyelamatkan mereka, mendobrak pintu reot sang kamar, berhasil tapi percuma.


Ijah merasakan dirinya terbang bersama Ipah dan melayang dalam rasa yang tidak dia mengerti apa rasanya. Kesakitan yang luar biasa di sekujur tubuhnya bercampur panas tak terkira yang mengelupaskan seluruh kulit tubuh sampai ke sendi tulangnya, namun kemudian seketika itu juga menjadi dingin yang membekukan, terus bergantian, apapun itu nama sang rasa, masih jauh lebih baik dibandingkan rasanya hidup di dunia dengan derita.




Tema : Setting Bunuh Diri

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012













KAMPF HITLER

Lelaki muda itu duduk di sudut ruangan salah satu bangunan tinggi dari sekian banyak bangunan berjajar yang ada. Tubuhnya terduduk di atas sebuah bangku besi dengan muka tertunduk tanpa ekspresi. Ia memandangku dan nampak hendak bercerita. Aku beringsut mendekatinya, perlahan melalui hati kukatakan padanya,”Berceritalah, aku siap mendengarkan!”


Waktu itu musim panas yang tidak terasa panasnya di Dachau Munchen Jerman. Tempat ini merupakan kompleks bangunan penyiksaan yang dijadikan Museum untuk mengenang kekejaman Hitler terhadap bangsa Yahusi di era 1933-1945. Berperjalanan ke tempat ini bersama dua sahabat, kami lakukan untuk mengisi waktu luang setelah ujian akhir yang baru saja dilewati. Inilah saatnya mengenal lebih dalam negeri tempat kami berkesempatan menuntut ilmu selama 4 tahun yang akan datang di Jerman, inilah saatnya mencoba mengenali tempat seorang yang paling tenar karena kekejamannya di dalam sejarah dunia.


Berkereta api bersama 2 orang sahabat dari stasiun Hauptbanhhof membutuhkan waktu lebih kurang 2 jam sampai di stasiun Dachau. Kami melanjutkannya dengan naik bus pariwisata bersama dan tiba pukul 10.00 pagi di sana. Memasuki terlebih dahulu hutan lebat dengan rimbunan pohon berbatang kokoh dan berdaun rimbun yang sejuk membawa kami semua menuju area museum yang diselimuti kerikil kecil berwarna putih di sepanjang jalannya. Di hadapan kami kemudian terbentang sebuah area kompleks kamp penahanan dengan sejumlah gedung penyiksaan yang seolah tak sabar berlomba hendak bercerita kepada kami semua, para turis.


Untuk memasuki area kompleks kami harus melewati sebuah pintu gerbang asli dengan ornamen besi tua dan gembok sebesar kepala manusia. Tembok kokoh dan besar tampak mengelilingi kompleks penyiksaan ini setinggi 5 meter, memisahkan secara total manusia di dalamnya dari hutan di luar sana yang hanya berjarak tak sampai 500 meter jauhnya. Begitu memasuki tembok ini, maka tak akan pernah lagi mata dapat memandang keindahan hijaunya hutan dan pohon di luar sana.


Berada di area ini, seketika terasa desiran angin dingin yang mendirikan bulu roma di tengkuk, bergidik rasanya. Entah karena dingin, entah karena apa, awalnya aku tidak bisa menduganya. Memasuki bangunan pertama, sangat terasa kalau tembok-tembok di sekitar kami bermaksud untuk bercerita. Tentang darah yang terus menggenang dan terciprat dari banyaknya korban penyiksaan, tentang barisan dari puluhan orang yang dengan tabah telah dapat menebak akhir hidupnya akan seperti apa.


Foto-foto yang tertempel di dinding museum menampakkan mereka berbaris secara tertib menyongsong kematian. Sebagian diarahkan ke bangunan dimana kepala manusia diletakkan di atas sebuah meja, dan kemudian sebilah pisau tajam akan dijatuhkan ke atas lehernya untuk melepaskan kepala dari tubuhnya. Korban semacam ini tidak perlu berlama-lama menikmati rasa matinya. Ketika sang kepala penuh darah menggelinding, saat itu derita berakhir.


Sebagian dari barisan orang-orang yang berjalan tertib itu melangkah dan diarahkan menuju gedung dimana penyiksaan dilakukan dengan tiada berperikemanusiaan. Alat-alat penyiksa yang terpasang di tembok gedung membuktikan hal tersebut nyata dilakukan. Dipan dimana tubuh manusia diletakkan kemudian dipecut dengan kejam oleh lecutan kulit bercampur besi, juga alat-alat tajam yang dipakai untuk menusuk-nusuk bagian tubuh manusia yang entah mengapa alasannya.


Aura di setiap gedung itu seolah diwarnai jeritan dan tangisan pilu nan mengerikan. Setiap teriakan seolah berisikan bukan hanya kesakitan, namun lebih kepada kemarahan, dan ketidakmengertian atas apa yang menjadi kesalahan mereka. Darah menggenang dimana-mana dan terciprat kemana-mana. Bau anyir darah manusia menjadi santapan biasa para makhluk yang masih memiliki napasnya saat itu. Entah itu dinamakan beruntung, entah justru sial. Di tempat ini, sepertinya lebih cepat mati adalah lebih beruntung.



Tidak tahan melanjutkan perjalanan memasuki satu persatu gedung penyiksaan, rasanya aku sudah dapat menebak kengerian apa yang akan terus dijumpai di berbagai gedung selanjutnya. Aku kemudian berlari keluar dari gedung ketiga dan meninggalkan Hans dan Erik yang masih mau melanjutkan tour mereka menuju gedung berikutnya.


Alih-alih melihat pemandangan yang lebih baik, ternyata di sisi luar bangsal yang ketiga ini, tepat di halaman sampingnya terdapat barisan tiang yang berdiri tegak dan rapi berjajar panjang. Tiang tempat tentara Hitler membariskan manusia-manusia tidak bersalah dan menyangkutkan kepala mereka di untaian ikatan tali, sebelum kemudian menarik leher mereka menuju kepada akhir dari tarikan napas terakhir. Hatiku semakin bergidik tidak merasa nyaman, segera aku melangkahkan kaki cepat-cepat menuju ke gedung pertama, lebih baik menunggu di ruangan di awal tour ini dilakukan daripada terus melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mimpi seram dalam tidur nanti malam.


Ternyata, di sudut gedung inilah aku berjumpa dengan dia, sang pencerita dari masa lalu, “Jean” namanya. “Berceritalah, aku siap mendengarkan!” kataku menguatkan hatiku sendiri.


Maka berkisahlah Jean mengenai dirinya, ia seorang homoseksual yang menyadari bahwa tidak pernah dapat mencintai seorang wanita. Namun di jaman rezim Hitler, perbedaan itu tidak dapat diterima. “Kami - kaum homoseksual dan pelacur, dinista dan dianggap lebih hina dari seekor anjing!” demikian cerita Jean dengan wajah datarnya.


“Setiap tahanan yang diketahui merupakan seorang gay - akan diberikan sebuah tanda yang disemat sebagai pink triangle - tanda sebagai tahanan yang paling nista.” papar Jean, sesaat tampak sedikit kemarahan di wajahnya, tapi kemudian tampak mendatar lagi. Udara semakin dingin dan angin berdesir ketika Jean melanjutkan ceritanya,


“Tak jarang tahanan dengan tanda pink triangle yang terjatuh akibat kerja paksa, akan ditembak langsung di kepala, mayatnya harus diseret oleh teman-teman ke pinggir agar mereka dapat melanjutkan kerja. Tentara Hitler hanya tertawa-tawa!” Mati demikian ternyata masih lebih baik dibandingkan mati ditelanjangi lalu dibakar hidup-hidup di depan orang banyak, hal ini tak jarang terjadi.


Tekanan fisik dan psikis harus diterimanya, ketika mendera dan menyiksa serta memukulnya, para tentara Hitler melontarkan juga cacian dan makian,”Kamu adalah homo, dan kamu adalah aib yang paling hina bagi bangsa kita. Itulah sebabnya kamu ada di sini dan kamu layak untuk disiksa sampai mati!” demikian sikap para manusia sempurna itu kepada dirinya. Jean terus bercerita. Ceritanya mengalir tiada henti. Cerita yang memilukan dan menyedihkan, betapa perbedaan tidak dapat dihargai pada masa itu. Betapa perbedaan berakibat fatal dan mengerikan.


“Lalu bagaimana dirimu mati?” tanyaku pada Jean. Memotong ceritanya yang sepertinya masih seperti aliran air dan melulu berisi siksa. “Aku mati secara perlahan kehabisan darah karena mereka menyilet kulit tubuhku selapis demi selapis, aku tidak lagi bisa berteriak saat itu, karena sudah sejak lama aku sebenarnya telah mati,” demikian Jean menutup ceritanya. Hans dan Erik beserta rombongan turis mulai terdengar suara langkahnya dan tampak sudah mulai berdatangan.


“Aku harus mengakhiri percakapan denganmu Jean!” kataku. “Terima Kasih untuk mendengarkan kisahku!” demikian jawab Jean. Kami berjabat tangan dan aku tidak menyatakan sampai jumpa lagi kepada dirinya. Pengalaman hari ini tidak enak untuk diulang dan apalagi dikenang. Kemampuan indra ke-6 ku sulit menghindari perjumpaan dengan hal-hal supranatural seperti ini. Biar bagaimanapun mereka ada, dan pernah mengalami hal yang mungkin perlu diungkapkan pada makhluk yang masih hangat dan bernapas seperti diriku.


Perlahan kakiku melangkah memasuki area akhir dari perjalanan Tour Dachau. Sejumlah pelat logam tertera dan tertempel kuat di tembok bangunan batu di pintu terakhir, bertuliskan “Never Again” dalam berbagai bahasa. Hal ini berarti “Cukup Sekali dan Jangan Terjadi Lagi.”




Tema : Research Setting

Latihan Menulis Novel Plotpoint

March 2012

MIMPI MAMA MATI

Pagi itu adalah hari ke 19 di bulan Juli 1989. Lebih tepat lagi 1 minggu setelah hari ulang tahunku yang ke - 17 di tanggal 12 Juli 1989. Kesannya masih tertanam kuat karena dampaknya yang memerihkan hati ternyata perlahan bisa aku syukuri. Bangun di pagi hari pukul 6 itu dalam keadaan kelelahan yang luar biasa karena tenaga yang terkuras habis untuk menangis. Entah sudah berapa lama waktu yang aku habiskan hanya untuk menguras air mata, yang pasti ketika terjaga dan membuka mata, hanya tersisa rasa sedih dan air mata yang mengering dan mulai membuat ujung mata perih karena gesekan permukaan tangan yang terlalu kencang.


Mama mati. itu tema mimpiku malam itu. Detail ceritanya aku tidak ingat lagi. Banyak orang ketika ditanya mimpinya sesaat setelah mereka terjaga pun seringkali tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti, mimpi itu tidak berwarna, suasananya terasa penuh duka, rasanya sakit seperti hati yang teriris-iris, dan ada judulnya “Mama mati”, jelas sekali.


Waktu itu, aku hanya bisa terjaga dan kemudian terpana sesaat, menghitung hari, dan menyadari kalau ini mimpi dan Mama baik-baik saja, dia ada di lantai bawah sedang sibuk memasak. Yah ... mimpi kan hanya bunga tidur, tidak untuk dipikirkan dan mari melanjutkan tidur lagi, demikian pikirku sambil menarik selimut kembali melindungi tubuh dari dinginnya udara pagi Bandung.


Ternyata hanya 12 hari kemudian mimpi itu menjadi betul-betul nyata. Mamaku mati.


Beliau sakit tanpa ada angin dan hujan di satu minggu sejak mimpi itu singgah jadi bunga di tidurku. Sakit biasa saja, virus perut menyerangnya dan kejadian yang awam itu tanpa siapapun dari kami menyadarinya, membawa dirinya menuju kondisi koma sesaat, hanya selama 1 minggu lamanya. Di dalam penantian panjang di Rumah Sakit untuk menemani dirinya sesuai tugas jaga bergantian yang diatur oleh Tanteku - adik Mama, mimpi itu hinggap lagi di kepala. “Mama akan mati!” demikian kata pikiranku ketika itu. Rasa marah menggumpal kemudian di dada, terjadi pertempuran antara “Harapan dan Bayangan Ketakutan”.


“Kata siapa Mama akan mati? Dia gak pernah sakit, dan ini sakit pertamanya kok, dia pasti sembuh!” demikian teriakku sendiri di dalam hati kepada mimpiku.


Dan sang mimpi itu menjawab lagi singkat, “Mama akan mati!”


Pada tanggal 31 Juli 1989 di pagi hari, hanya 19 hari sejak hari ulang tahun tanda kedewasaanku lewat, Mama benar mati. Dia tidak pernah bangun lagi dari sakit perutnya yang membawanya menuju koma, dan dia benar-benar pergi tanpa pamit dan sempat berkata-kata lagi. Mama pergi begitu saja setelah merasa telah mengantarkan anak gadisnya menuju gerbang “dewasa”.


Hari ini, puluhan tahun kemudian, mimpi itu dan rasa perihnya masih sangat terasa. Kalau dulu semuanya diwarnai dengan pertentangan dan kemarahan di dalam hati karena ia pergi di saat aku masih sangat membutuhkannya, hari ini aku mengenangnya dengan rasa syukur. Mimpi di pagi itu, ternyata merupakan cara Tuhan untuk menguatkan diriku menghadapi semuanya. Ketika semua orang terpukul dan terkejut, Papa, adikku, Opa dan Oma serta semua adik dan kerabat Mama jatuh dalam duka yang dalam, maka aku adalah anak gadis dewasa yang paling siap menghadapi semuanya.


Tuhan mempersiapkan aku menghadapi kehidupan yang baru dengan caraNya sendiri. Sebuah mimpi yang ngeri, tapi kemudian terus aku syukuri di hari ini.





Tema : Mimpi

Latihan menulis Novel Plotpoint

April 2012