PERSELINGKUHAN
Wanita cantik berambut panjang lurus dan berkacamata itu tampak begitu gelisah. Sesekali ia memandang jam di pergelangan tangannya. Gaya duduknya seperti cacing yang diletakkan di atas garam. Bergerak ke sana kemari seolah semua posisi salah. Ciri khas orang yang sedang resah menanti. Kopi dingin di hadapannya baru habis setengah gelas, embunnya tampak meluruh membasahi permukaan meja. Tidak disentuh lagi. Semuanya seolah larut menanti dalam gelisah.
Hanya selang beberapa menit kemudian, akhirnya wajah cantik itu tampak bersemburat riang. Ada cahaya yang tiba-tiba memancar gembira, ternyata sumbernya dari hadirnya seorang lelaki tampan bertubuh tegap yang berjalan cepat menghampiri. Mereka bersalaman. Formal sekali.
“Perlu ya bersalaman?” tanya Arsya dengan suara yang manja, matanya menatap lekat Riko, lelaki di hadapannya dengan penuh kerinduan.
“Perlu sayang, di sini tempat partner bisnisku biasa berkumpul. Kita perlu seolah sedang berjumpa buat diskusi pekerjaan,” bisik Riko dengan suara mendatar, mendesis karena berasal dari bibir nya yang tersenyum agak lebar. Senyum standard ketika ia berjumpa dengan rekan-rekan bisnisnya.
Lalu keduanya terlihat seperti terlibat dalam percakapan serius soal pekerjaan. Duduk berjauhan dan tampak sangat formal. Demikian pandangan banyak orang di sekitar mereka. Benar saja, sesekali tampak Riko melambaikan tangan pada beberapa lelaki berdasi dan wanita bersepatu tinggi yang lewat di seputaran warung kopi berlabel internasional itu. Di sini memang tempat yang sangat umum dan terbuka, banyak janji bisnis dibuat di tempat ini.
“Aku merindukanmu!” Kata Riko perlahan, menatap lurus menuju kedalaman mata Arsya. Kalimatnya tidak hangat dan tetap bernada datar. Tapi matanya tampak bersinar nakal, penuh dengan gairah, ingin melumat habis wanita di hadapannya, “Kamu cantik sekali siang ini!”
Arsya tersipu, semburat merah di wajahnya semakin nampak. Kalau ada yang memperhatikan mereka berdua, tentu akan cukup diyakinkan dengan gaya resmi Riko, tapi akan bingung juga melihat mengapa rekan bisnis di hadapannya itu tampak tersipu dan memerah wajahnya. Memangnya pembicaraan bisnis bisa begitu ya efeknya?
“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu sejak siang itu,” Arsya berkata jujur, menutup matanya dan menggelengkan kepalanya perlahan. “Kamu mengganggu aku di setiap tarikan napasku, Riko!” kali ini Arysa menuangkan isi hatinya yang terpendam dalam.
Satu minggu yang menyiksa baru saja berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Di kamar apartemen Riko yang kosong dan terletak di pusat kota - dekat kantor mereka yang berbeda arah. Tempat sempurna untuk memadukan segala rasa. Sayangnya kini tidak bisa lagi dilakukan, Mala - istri Riko mulai curiga, ada laporan dari satpam apartemen yang dengan polos menceritakan pada Ibu Mala bahwa suaminya kadang hadir di tengah minggu dengan seorang wanita.
Riko mengerti, merasakan hal yang sama. Tapi sayangnya tidak ada waktu yang tersisa siang ini bagi mereka berdua, bahkan untuk sekedar menggenggam hangat tangan Arsya, dia tidak bisa. Hanya 20 menit tersisa, menuju meeting bisnis berikutnya. Arsya pun harus segera kembali ke kantornya, sama - terikat dari sebuah rapat ke rapat lainnya. Sementara keduanya merasa semua mata di sekitar seperti sedang tertuju pada mereka.
Siang ini, ia memaksakan datang hanya untuk sekedar memandang beningnya mata wanita yang digilainya itu. Dicintainya? Belum tentu. Siang yang dingin karena semburan AC di warung kopi itu terasa hangat dan bahkan panas. Keduanya hanya bisa saling berpandangan penuh gairah yang tidak bisa tersalurkan.
“Ikut aku ke basement 2 Arsya, P14!” Suara Riko bergetar dan bergegas meninggalkan Arsya seorang diri. Perlahan berdiri seolah berbeda kepentingan, Arsya melangkahkan kakinya menuju arah yang berseberangan, turun menggunakan lift dengan hati penuh berdebar menuju ke basement 2 - P14. Riko ada di sana, mobilnya diparkir di sebuh pojok yang gelap, menghadap ke tembok. Keduanya larut dalam kerinduan yang membuncah di dada. Bibir Riko melumat habis bibir Arsya, sampai tidak bersisa, lidahnya bermain di leher jenjang wanita itu. Keduanya memagut rindu. Hanya 10 menit tersisa menuju meeting bisnis berikutnya. Arsya turun perlahan dari mobil, merapikan sedikit pakaian dan terutama lipsticknya. Siang yang mendebarkan. Selalu kurang, tidak pernah cukup waktu yang ada ketika berjumpa dengan Riko. Sang kekasih yang digilainya. Dicintainya? Belum tentu.
Di pojok warung kopi berlabel internasional itu - seorang lelaki berambut tipis alias botak, dengan misterius membuat catatan di notes book yang dibawanya.
“Kedua tersangka benar berjumpa pada pk. 14.00, bersalaman formal. Pertemuan hanya sesaat dan mereka terlihat terlibat dalam diskusi serius. Sang Pria meninggalkan tempat bergegas pada pk. 14.10 menuju ke arah Utara dan sang Wanita tampak dengan santai menuju arah Selatan pk 14.15. Tidak berpegangan tangan, apalagi berciuman.”
Ditutupnya notes book hitam itu. Dengan gaya Sherlock Holmes, si lelaki berambut tipis alias botak itu berharap laporannya akan melegakan hati Ibu Mala. Suaminya gak berselingkuh kok, ternyata !
Tema : PROLOG - Perselingkuhan
Latihan Menulis Novel Plotpoint
March 2012