Bunyi napas yang terdengar samar itu begitu pelan dan teratur, naik dan turun berirama, meneduhkan. Sesekali memang terdengar tarikan napasnya yang bermaksud menghirup udara lebih banyak kemudian dihembuskan sedikit lebih kuat, hanya sesekali saja, tapi selebihnya ia tampak begitu tenangnya. Tidur kelelahan karena tangis yang panjang. Mata mungil indah itu akhirnya tampak terpejam tenang, sebagian bulu matanya yang lentik kelihatan menempel satu dengan yang lainnya oleh sisa air mata mengering. Di seputaran mulut kecilnya masih terlihat keringan air liur dan sisa susu yang tak kunjung mengenyangkan rasa dahaganya.
Ijah memandang wajah buah hatinya dengan penuh duka. Ipah - Syarifah, gadis yang sejatinya cantik karena berkulit putih berhidung bangir dan berambut hitam sekalipun agak jarang. Tubuhnya kering berkulit putih kusam seperti permukaan daun yang kurang cahaya dan kentara betul tulang daunnya. Sisa-sisa garukan berlajur putih tipis tampak di kulit kakinya yang bersisik. Di sepanjang tubuhnya teraba tulang menonjol tajam membentuk sudut seperti ujung-ujung meja. Ipah tidak pernah merasakan kenyang apalagi bahagia sejak hadirnya. Kelahirannya ke dunia adalah hal yang paling disesalkan ibunya. Ia tumbuh kuat di kantung rahim di setahun yang lalu. Tindihan dari lelaki tinggi besar keturunan Arab yang menyingkapkan paksa kain penutup tidur sang ibu di malam paling jahanam dalam hidupnya, sebagai TKI nun jauh di Timur Tengah sana.
Saat itu telah lewat dari tengah malam, Ijah dapat merasakannya dari kesunyian yang hening dan hembusan angin dingin yang perlahan mulai mengalir menusuk tulang, tapi kali ini dinginnya terasa sampai ke dalam hati. Tubuh Ijah menggigil perlahan. Ditariknya kain batik kusam bersalur coklat untuk menutupi tubuh Ipah. Kerai bambu penutup kusen jendela yang tidak lagi bisa tertutup rapat itu berderak perlahan dan berbunyi seolah sengaja tidak mau menghadirkan hening yang terlalu sunyi bagi ibu dan anak itu. Sesekali di kejauhan terdengar suara burung hantu sang penguasa malam membanggakan dirinya masih terjaga. Lampu tempel kecil yang parkir di tembok kamar sempit, tempat Ijah dan Ipah berlindung, tampak menari-nari tanpa iringan musik di dalam heningnya malam itu.
Perlahan Ijah bangkit dari posisi tidurnya, ditariknya kutang untuk menutupi buah dadanya yang lembek tak berisi, tak heran Ipah bisa menangis sepanjang malam merengek minta diisikan mulutnya dengan air susu dari puting yang tak lagi bisa memberikan rasa kenyang itu. Yang bisa dihisapnya hanya angin dan rasa pahit yang bersisa. Kalaupun ia akhirnya jatuh terlelap, lebih karena mengerti sang ibu tidak memiliki apapun lagi dari tubuhnya untuk dibagi.
Beringsut bergerak perlahan sekali ke ujung dipan kayu, agar tidak terdengar deriknya yang bisa menjagakan Ipah, Ijah turun dari atasnya. Kakinya menyentuh lantai semen dingin berpermukaan kasar, malam ini rasanya seperti menginjakkan kaki di atas lelehan es batu. Dingin yang sampai ke dalam hati. Menyeret kakinya tanpa ragu melangkah ke sudut kamar, Ijah tahu, saatnya harus segera ditibakan. Menunggu waktu yang tak kunjung tepat, membiarkan napas terus menetap berarti menambah hitungan hari dengan derita.
Di sudut kamar yang temboknya berwarna entah putih entah abu karena kusam itu, Ijah terbiasa meracik bahan makanan dan memasaknya, jika memang ada. Di kamar yang berukuran 3x3 meter persegi itu segala hal dilakukannya. Ya tidur, ya memasak, ya menimang dan mengasuh Ipah, ya bersolek, dan ya juga menerima tamu-tamu untuk dipuaskan napsunya. Bagi Ijah yang penting napas tersambung, perut tak bernyanyi dan air susu bisa menetes ke dalam mulut Ipah karena perut ibunya berisi nasi.
Namun sudah seminggu ini keadaan berbeda. Kompor minyak tanah di sudut kamar tampak tenang-tenang tertidur lelap, tidak bergairah karena tidak ada beras untuk ditanak. Razia kagetan yang mentertibkan pelanggan lapak wanita tuna susila seperti Ijah dan kawan-kawannya sedang berlangsung. Sepertinya karena sebentar lagi akan ada pesta-pesta pemilihan pemimpin daerah. Setiap sudut Jakarta mungkin harus berbenah, berpupur tebal dan bergincu merah, agar kelihatan “cantik”nya dan tak kentara koreng basahnya.
Hampir seminggu menahan nyanyian lambung di dalam perut tak menjadi masalah bagi dirinya sendiri, namun hal ini menjadi “masalah” ketika tak ada setetespun air susunya bisa diproduksi buat si kecil Ipah. Ibu tak makan, sang anak yang akan mati perlahan. Yang pasti, Ijah mau menarik saatnya ke malam ini. Malam dimana 2 jam berlalu dari tepat tengah malam.
Di sebelah kompor hitam kusam yang tidak bergairah itu, teronggok sebotol besar berisi minyak tanah yang sempat dibelinya sore ini. Diangkatnya botol besar berpermukaan licin dan terasa dingin itu. “Mengapa malam ini semua terasa dingin?” pikir Ijah. “Apakah menyongsong mati itu sudah mampu membuat segalanya dingin sebelum sampai di kedalaman liang lahat? pikirnya lagi.
Disiramkannya minyak tanah ke seluruh lantai semen abu-abu kusam, tidak ada yang terlewatkan, juga di seluruh permukaan kain seprai kumal di atas dipan tempat Ipah tampak masih asik bermimpi. Bau memualkan perlahan menyeruak ke seluruh ruangan, tak enak sama sekali buat dihirup, kepala Ijah mulai berputar tak karuan karenanya, ditahannya agar tidak sampai muntah, sulit sekali, tapi ia tidak mau rencana terbesar di dalam sisa hidupnya gagal. Sisa cairan minyak tanah masih cukup untuk dihabiskannya membasahi diri sendiri. Mulai dari kepala, wajah, tubuhnya, bajunya, kaki dan tangannya. Habis akhirnya semua minyak, tanpa sisa. Ijah kemudian meraih pemantik rokok dari laci lemari bajunya, milik salah satu tamu yang sempat tertinggal, disimpannya alat itu dalam genggaman. Pemantik rokok berwarna perak dengan gambar tengkorak terukir di permukaannya.
Ijah membaringkan diri di samping Ipah, memeluknya erat, menghangatkan dingin yang semakin terasa dari kepala ke sekujur tubuh dan mengalir terus di kulit, sendi, tulang dan menyeruak ke dalam organ-organ tubuhnya. “Perlukah berdoa dulu?” tanya Ijah dalam hati sebelum memutuskan sendiri - tidak perlu. Tuhan kalau Dia ada, pasti akan mengirimkan makanan dari surga dan bukannya membuat Ipah - sang bayi keturunan Arab itu menderita.
Dinyalakannya satu kali saja pemantik tengkorak itu. Ijah merasakan sang tengkorak tertawa lebar memandang dirinya, seolah menantangnya apakah benar siap masuk ke dalam panasnya kobaran api yang ia sendiri ciptakan. Gulungan api segera menyambar kain seprai tempat keduanya berbaring, lantai pun seketika dipenuhi kobaran nyalanya. Ijah mendekap erat Ipah yang mulai menangis kepanasan, mendekap semakin erat ketika ujung kaki dan kainnya juga mulai bersinar dan menyala-nyala, dan mendekapnya semakin erat lagi sampai hilang napasnya agar Ipah tidak sempat menderita ketika tubuh Ibunya perlahan tapi pasti mulai menyala terang, kulit-kulit ibunya melepuh perlahan, terlepas selapis demi selapis, meleleh dan kemudian malah semakin mengeras hangus berwarna hitam. Ijah hilang dalam rasa sakit yang tak terperikan, hilang dalam kobaran nyala yang semakin lama semakin membara, sayup masih terdengar teriakan teman-teman senasib penjual cinta, mencoba menyelamatkan mereka, mendobrak pintu reot sang kamar, berhasil tapi percuma.
Ijah merasakan dirinya terbang bersama Ipah dan melayang dalam rasa yang tidak dia mengerti apa rasanya. Kesakitan yang luar biasa di sekujur tubuhnya bercampur panas tak terkira yang mengelupaskan seluruh kulit tubuh sampai ke sendi tulangnya, namun kemudian seketika itu juga menjadi dingin yang membekukan, terus bergantian, apapun itu nama sang rasa, masih jauh lebih baik dibandingkan rasanya hidup di dunia dengan derita.
Tema : Setting Bunuh Diri
Latihan Menulis Novel Plotpoint
March 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar