Mbak Siti Nurhagi namanya - seorang senior di kantor lamaku. Hari pertama berkenalan dengan dirinya, dengan antusias ia menghampiriku, mengulurkan tangan dan tersenyum dengan manis,”Hagi!” katanya dengan suara yang malah terdengar tegas dan sedikit galak.
“Kamu akan ikut orientasi pendidikan anak baru di sini, beritahu aku kalau perlu dibantu ya!” katanya lagi masih dengan suara yang sama.
Nama uniknya itu diambil dari nama seorang pemain bola ternama “George Hagi” - yang merupakan pemain bola favorit ayahnya. Ternyata sesungguhnya pula, Mbak Siti Nurhagi merupakan penggemar berat sepak bola. Jika ada pertandingan piala dunia di televisi, maka ia satu-satunya karyawan wanita yang dengan rela mengikuti jadwal tanding dan terjaga sampai malam hari untuk berperan sebagai bandar tebak-tebakan ringan. Berapa skor malam itu, siapa pemain yang diramalkan akan berhasil meng-gol-kan, apa warna kaos kaki pemain di pertandingan nanti, dan berbagai tebakan konyol lainnya. Sebelum pertandingan, biasanya peserta tebakan akan mengumpulkan uang, dan jika tidak ada tebakan yang benar, maka bandar bola - alias Hagi lah yang memperoleh keuntungan. Pastinya akan habis juga dalam sekejap untuk makan-makan.
“Cihuyyy .... tidak ada tebakan bola yang benar, bandar untung, kita makan-makan!” demikian selalu serunya dengan mimik muka gembira mengajak kami serta dalam keriaan bersama para penggemar bola dunia.
Mbak Hagi bertubuh agak gemuk namun bisa bergerak lincah. Wajahnya pun serupa tubuhnya, dengan dua buah pipi yang bulat berbintik coklat mengapit hidung yang menjadi tampak kurang mancung karenanya, matanya agak sipit namun selalu bersinar ceria, disertai dengan senyum lebar yang sebenarnya membuatnya kelihatan ramah - kalau sedang ramah. Ketika tersenyum itu maka tampaklah gigi bagian atas dan bawahnya yang kecil-kecil dan terikat kuat dengan rangkaian kawat berwarna warni.
Belakangan aku baru mengetahui kalau itu adalah pemasangan kawat giginya yang kedua kali, karena pemasangan pertamanya gagal total. Belakangan juga aku tahu kalau dokter Orthodentist Kantor kami yang merawatnya, dengan jujur merasa berputus asa atas perkembangan rahang atas dan bawahnya yang tidak senormal milik orang kebanyakan. Gigi Mbak Hagi yang kecil-kecil dan berbaris rapi itu sulit untuk diatur dengan baik, barisan gigi atas menutup seluruh gigi bawahnya. Di dunia kedokteran dan kesehatan, hal ini berarti setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, tidak terkunyah dengan sempurna dan potensial mengganggu pencernaan.
“Ibu Hagi, behel giginya ini mungkin harus dipasang seumur hidup. Saya sangat kesulitan menaikkan rahang atas Ibu Hagi yang menutup rahang bawah secara total. Kalau mau treatment ini dijalankan, harus mau bersabar ya bu!” demikian kata Dokter Gigi tampan yang merawat dirinya, mencoba membesarkan hatinya yang ciut. Biar bagaimanapun, memasang kawat gigi sepanjang hidup tidak akan asyik rasanya.
Mbak Hagi memiliki rambut yang menarik perhatian banyak orang. Keriting kecil-kecil melingkar, bahkan cenderung agak kribo. Rambut serupa ini tentu saja lebih sering sulit untuk diatur dengan baik, daripada mudah ditata manis. Karenanya, dia cenderung memotongnya agak pendek agar tidak mengganggu kegesitan gerakannya. Dalam berbagai kesempatan, ia tinggal mengikatkan bandana berwarna ceria yang difungsikan sebagai bando untuk menjadi aksesoris rambutnya.
Ketika pada suatu hari ia hadir dengan wajah ceria di area kantor dengan rambut yang nampak lurus karena diberi obat dan dicatok sampai kelihatan licin mengkilat, maka hasil karya salonnya ini menuai protes puluhan teman di sekitarnya.
“Gak pantes, kamu jadi kelihatan kayak perempuan!” demikian teriakan sebagian dari mereka dengan kejam.
“Jelek Hagi, kritingin aja lagi, wajahmu jadi kocak!” seru sebagian teman lainnya.
Maka berakhirlah hari itu bagi Hagi dengan kurang asik. Berharap dapat pujian, malah menuai celaan. Namun ternyata bukan Hagi namanya kalau mudah menyerah, maka dengan tabah dijalaninya penampilan tidak pantas itu sampai obat rambutnya benar-benar habis dan keriting kembali melingkar dengan sendirinya.
Dalam tugasnya setiap hari, Hagi berperan di bidang administrasi penjualan. Tugas sebenarnya adalah menagih pembayaran yang tertunda dari beberapa distributor. Maka tak jarang dari mejanya terdengar suara yang agak keras memaksa para distributor untuk melakukan pembayarannya, jika perlu detik itu juga!
“Bapaaak, saya kan sudah bilang, barang sudah dikirimkan sejak kemarin, eeeh ... bapak belum juga bayar sampai hari begini. Pokoknya, kalau sampai nanti sore belum juga ditransfer, saya gak akan kirim lagi barang ke tempat Bapak. Tanggung sendiri loh akibatnya!” demikian teriaknya di telepon kepada Dealer di ujung sana yang agak nakal.
Jika pekerjaan ini sedang dilakukannya, maka yang tampak adalah wajah bulatnya yang biasa tersenyum ramah akan mengerenyit karena marah dengan bibir yang tampak meruncing karena kesal. Tak jarang pula karena kekesalannya, ia mengacak-acak rambutnya sendiri, sehingga gulungan keritingnya akan jatuh ke kiri dan ke kanan tidak karu-karuan.
Dari mimik wajah dan keriting rambutnya, setiap kami dapat mengetahui dengan pasti sedang senang, marah, atau sedihkah dirinya.
Tema : Penggambaran Pernik Wajah
Latihan Menulis Novel Plotpoint
March 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar