Lelaki muda itu duduk di sudut ruangan salah satu bangunan tinggi dari sekian banyak bangunan berjajar yang ada. Tubuhnya terduduk di atas sebuah bangku besi dengan muka tertunduk tanpa ekspresi. Ia memandangku dan nampak hendak bercerita. Aku beringsut mendekatinya, perlahan melalui hati kukatakan padanya,”Berceritalah, aku siap mendengarkan!”
Waktu itu musim panas yang tidak terasa panasnya di Dachau Munchen Jerman. Tempat ini merupakan kompleks bangunan penyiksaan yang dijadikan Museum untuk mengenang kekejaman Hitler terhadap bangsa Yahusi di era 1933-1945. Berperjalanan ke tempat ini bersama dua sahabat, kami lakukan untuk mengisi waktu luang setelah ujian akhir yang baru saja dilewati. Inilah saatnya mengenal lebih dalam negeri tempat kami berkesempatan menuntut ilmu selama 4 tahun yang akan datang di Jerman, inilah saatnya mencoba mengenali tempat seorang yang paling tenar karena kekejamannya di dalam sejarah dunia.
Berkereta api bersama 2 orang sahabat dari stasiun Hauptbanhhof membutuhkan waktu lebih kurang 2 jam sampai di stasiun Dachau. Kami melanjutkannya dengan naik bus pariwisata bersama dan tiba pukul 10.00 pagi di sana. Memasuki terlebih dahulu hutan lebat dengan rimbunan pohon berbatang kokoh dan berdaun rimbun yang sejuk membawa kami semua menuju area museum yang diselimuti kerikil kecil berwarna putih di sepanjang jalannya. Di hadapan kami kemudian terbentang sebuah area kompleks kamp penahanan dengan sejumlah gedung penyiksaan yang seolah tak sabar berlomba hendak bercerita kepada kami semua, para turis.
Untuk memasuki area kompleks kami harus melewati sebuah pintu gerbang asli dengan ornamen besi tua dan gembok sebesar kepala manusia. Tembok kokoh dan besar tampak mengelilingi kompleks penyiksaan ini setinggi 5 meter, memisahkan secara total manusia di dalamnya dari hutan di luar sana yang hanya berjarak tak sampai 500 meter jauhnya. Begitu memasuki tembok ini, maka tak akan pernah lagi mata dapat memandang keindahan hijaunya hutan dan pohon di luar sana.
Berada di area ini, seketika terasa desiran angin dingin yang mendirikan bulu roma di tengkuk, bergidik rasanya. Entah karena dingin, entah karena apa, awalnya aku tidak bisa menduganya. Memasuki bangunan pertama, sangat terasa kalau tembok-tembok di sekitar kami bermaksud untuk bercerita. Tentang darah yang terus menggenang dan terciprat dari banyaknya korban penyiksaan, tentang barisan dari puluhan orang yang dengan tabah telah dapat menebak akhir hidupnya akan seperti apa.
Foto-foto yang tertempel di dinding museum menampakkan mereka berbaris secara tertib menyongsong kematian. Sebagian diarahkan ke bangunan dimana kepala manusia diletakkan di atas sebuah meja, dan kemudian sebilah pisau tajam akan dijatuhkan ke atas lehernya untuk melepaskan kepala dari tubuhnya. Korban semacam ini tidak perlu berlama-lama menikmati rasa matinya. Ketika sang kepala penuh darah menggelinding, saat itu derita berakhir.
Sebagian dari barisan orang-orang yang berjalan tertib itu melangkah dan diarahkan menuju gedung dimana penyiksaan dilakukan dengan tiada berperikemanusiaan. Alat-alat penyiksa yang terpasang di tembok gedung membuktikan hal tersebut nyata dilakukan. Dipan dimana tubuh manusia diletakkan kemudian dipecut dengan kejam oleh lecutan kulit bercampur besi, juga alat-alat tajam yang dipakai untuk menusuk-nusuk bagian tubuh manusia yang entah mengapa alasannya.
Aura di setiap gedung itu seolah diwarnai jeritan dan tangisan pilu nan mengerikan. Setiap teriakan seolah berisikan bukan hanya kesakitan, namun lebih kepada kemarahan, dan ketidakmengertian atas apa yang menjadi kesalahan mereka. Darah menggenang dimana-mana dan terciprat kemana-mana. Bau anyir darah manusia menjadi santapan biasa para makhluk yang masih memiliki napasnya saat itu. Entah itu dinamakan beruntung, entah justru sial. Di tempat ini, sepertinya lebih cepat mati adalah lebih beruntung.
Tidak tahan melanjutkan perjalanan memasuki satu persatu gedung penyiksaan, rasanya aku sudah dapat menebak kengerian apa yang akan terus dijumpai di berbagai gedung selanjutnya. Aku kemudian berlari keluar dari gedung ketiga dan meninggalkan Hans dan Erik yang masih mau melanjutkan tour mereka menuju gedung berikutnya.
Alih-alih melihat pemandangan yang lebih baik, ternyata di sisi luar bangsal yang ketiga ini, tepat di halaman sampingnya terdapat barisan tiang yang berdiri tegak dan rapi berjajar panjang. Tiang tempat tentara Hitler membariskan manusia-manusia tidak bersalah dan menyangkutkan kepala mereka di untaian ikatan tali, sebelum kemudian menarik leher mereka menuju kepada akhir dari tarikan napas terakhir. Hatiku semakin bergidik tidak merasa nyaman, segera aku melangkahkan kaki cepat-cepat menuju ke gedung pertama, lebih baik menunggu di ruangan di awal tour ini dilakukan daripada terus melanjutkan perjalanan dan meninggalkan mimpi seram dalam tidur nanti malam.
Ternyata, di sudut gedung inilah aku berjumpa dengan dia, sang pencerita dari masa lalu, “Jean” namanya. “Berceritalah, aku siap mendengarkan!” kataku menguatkan hatiku sendiri.
Maka berkisahlah Jean mengenai dirinya, ia seorang homoseksual yang menyadari bahwa tidak pernah dapat mencintai seorang wanita. Namun di jaman rezim Hitler, perbedaan itu tidak dapat diterima. “Kami - kaum homoseksual dan pelacur, dinista dan dianggap lebih hina dari seekor anjing!” demikian cerita Jean dengan wajah datarnya.
“Setiap tahanan yang diketahui merupakan seorang gay - akan diberikan sebuah tanda yang disemat sebagai pink triangle - tanda sebagai tahanan yang paling nista.” papar Jean, sesaat tampak sedikit kemarahan di wajahnya, tapi kemudian tampak mendatar lagi. Udara semakin dingin dan angin berdesir ketika Jean melanjutkan ceritanya,
“Tak jarang tahanan dengan tanda pink triangle yang terjatuh akibat kerja paksa, akan ditembak langsung di kepala, mayatnya harus diseret oleh teman-teman ke pinggir agar mereka dapat melanjutkan kerja. Tentara Hitler hanya tertawa-tawa!” Mati demikian ternyata masih lebih baik dibandingkan mati ditelanjangi lalu dibakar hidup-hidup di depan orang banyak, hal ini tak jarang terjadi.
Tekanan fisik dan psikis harus diterimanya, ketika mendera dan menyiksa serta memukulnya, para tentara Hitler melontarkan juga cacian dan makian,”Kamu adalah homo, dan kamu adalah aib yang paling hina bagi bangsa kita. Itulah sebabnya kamu ada di sini dan kamu layak untuk disiksa sampai mati!” demikian sikap para manusia sempurna itu kepada dirinya. Jean terus bercerita. Ceritanya mengalir tiada henti. Cerita yang memilukan dan menyedihkan, betapa perbedaan tidak dapat dihargai pada masa itu. Betapa perbedaan berakibat fatal dan mengerikan.
“Lalu bagaimana dirimu mati?” tanyaku pada Jean. Memotong ceritanya yang sepertinya masih seperti aliran air dan melulu berisi siksa. “Aku mati secara perlahan kehabisan darah karena mereka menyilet kulit tubuhku selapis demi selapis, aku tidak lagi bisa berteriak saat itu, karena sudah sejak lama aku sebenarnya telah mati,” demikian Jean menutup ceritanya. Hans dan Erik beserta rombongan turis mulai terdengar suara langkahnya dan tampak sudah mulai berdatangan.
“Aku harus mengakhiri percakapan denganmu Jean!” kataku. “Terima Kasih untuk mendengarkan kisahku!” demikian jawab Jean. Kami berjabat tangan dan aku tidak menyatakan sampai jumpa lagi kepada dirinya. Pengalaman hari ini tidak enak untuk diulang dan apalagi dikenang. Kemampuan indra ke-6 ku sulit menghindari perjumpaan dengan hal-hal supranatural seperti ini. Biar bagaimanapun mereka ada, dan pernah mengalami hal yang mungkin perlu diungkapkan pada makhluk yang masih hangat dan bernapas seperti diriku.
Perlahan kakiku melangkah memasuki area akhir dari perjalanan Tour Dachau. Sejumlah pelat logam tertera dan tertempel kuat di tembok bangunan batu di pintu terakhir, bertuliskan “Never Again” dalam berbagai bahasa. Hal ini berarti “Cukup Sekali dan Jangan Terjadi Lagi.”
Tema : Research Setting
Latihan Menulis Novel Plotpoint
March 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar