Malam itu semua berkumpul di rumah besar putih beratap tinggi yang terasa agak sesak karena banyak sanak saudara dan teman berkumpul. Rasa sedih dan sendu karena kehilangan masih mendominasi tapi mulai diwarnai perasaan rela untuk membiarkan sang kesedihan dan kesenduan ini untuk perlahan pergi. Semua yang hadir terpekur sambil menyenandungkan doa dan puji-pujian kepada Tuhan disertai kata-kata dan kesaksian penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Tidak berapa lama, sebagai bagian dari rangkaian acara Penghiburan Keluarga malam itu, MC memberikan kesempatan bagi teman-teman dan keluarga untuk memberikan pesan dan kesan tentang almarhumah (sang tokoh dalam tulisan ini) semasa hidupnya. Semua rangkaian cerita dan perasaan dari beberapa orang yang hadir menjadi sebentuk lukisan yang lengkap dan cermat tentang seorang Ibu yang baik hati pada semua orang tanpa terkecuali, seorang ibu dengan jiwa keibuan begitu sarat dan bisa menjadi teladan baik bagi anak lelakinya dan teman-teman anak-anaknya, seorang ibu yang pandai memasak dan mempersiapkan beragam makanan, seorang ibu yang memiliki hati yang penuh dengan kasih dan perhatian yang seolah tak pernah habis bagi siapapun juga (bagi teman-temannya termasuk saya), dan di atas semua itu yang membuat almarhumah layak disebut pemenang adalah kesabarannya dalam menanggung penyakit Kanker Sirosis sampai pada akhir hayatnya.
Malam itu sambil terpekur mendengarkan setiap cerita orang tentang dirinya, aku berpikir betapa istimewanya buku cerita kehidupan yang ditinggalkan Ibu Zelly, demikian nama almarhumah, teman kami yang ”pada akhirnya” pergi meninggalkan dunia ini di akhir perjuangannya melawan rasa sakit. Malam itu buku cerita kehidupan beliau seolah dibacakan lembar demi lembar oleh setiap orang yang hadir di sana, isinya penuh dengan hal yang sangat baik tentang dirinya, sebagian ceritanya mengharukan namun keseluruhan penuh dengan gambaran ”kekuatan” dirinya, kecintaan dan kedekatannya terhadap Tuhan.
Lembaran dalam chapter ”IBU” bercerita bahwa bagi Gerry dan Robert, kedua buah hatinya, beliau merupakan ibu yang tak tergantikan dan memahami dunia remaja lelaki, dalam dunia keseharian beliau juga berusaha menjadi ibu dari teman anak laki-lakinya yang rajin berkumpul di rumah itu untuk belajar bersama. Seolah memahami betul kekuatan mantra untuk bisa dekat dengan buah hati dan teman-temannya adalah melalui makanan, maka beragam masakan istimewa selalu disiapkan Ibu Zelly bagi mereka. Sepiring spahetti selalu disajikan dengan saos kasih sayang yang tidak ada batas nya. Semangkok soup hangat sarat dengan butiran perhatian selain butiran bakso yang sesungguhnya.
Lembaran dalam chapter ”PERJUANGAN MELAWAN SIROSIS” bercerita mengenai bagaimana kekuatan Ibu Zelly menghadapi penyakit Kanker Hati Sirosis yang harus dideritanya namun tidak sedikitpun menyurutkan Kasih dan Imannya pada Tuhan. Kesakitan Ibu Zelly ini berubah menjadi berkat kekuatan bagi kami semua, teman dekat beliau dalam persekutuan mingguan. Hubungan kami semua terbentuk seperti keluarga besar. Berita mengenai gangguan pada fungsi hati Ibu Zelly lebih dari 2 tahun yang lalu ikut menjadi bagian dari pergumulan dan doa-doa panjang kami pada Tuhan agar mujizat dapat terjadi pada dirinya. Dan ajaibnya, setiap kali jawaban doa serta mujizat selalu terjadi. Perjuangan selama 2 tahun diwarnai sekeranjang mujizat yang menjadi tanda bagi kami bahwa Tuhan ada di sana, Tuhan tidak pernah tertidur dan tidak pernah jauh. Teringat ketika Ibu Zelly mengalami muntah darah yang hebat, banyaknya ber ember-ember dan saat itu rasa kemanusiaan kami terlintas bahwa ”akhirnya akan segera tiba”. Ternyata tidak. Tuhan menurunkan tangannya, fungsi hati yang memang sudah tinggal 20% saja tetap dijamah oleh kuasa Tuhan untuk bisa kembali sehat dan berfungsi. Selanjutnya Ibu Zelly bisa kembali beraktivitas mengelola catering yang menjadi bagian dari kehidupannya dan kesaksian kesembuhannya menjadi berkat bagi siapapun yang mendengarkan.
Doa dan harapan tak pernah berhenti kami panjatkan baginya terutama ketika jadwal endoskopi sudah menjadi bagian dalam jadwal rutin pengobatan. Almarhumah seringkali bercerita, beliau sangat menyadari bahwa endoskopi penting dilakukan untuk ”membakar” varises yang terjadi pada pembuluh darahnya agar tidak pecah lagi (dan muntah darah), tapi prasyarat yang mengharuskan dirinya ”menelan” alat sebesar handphone masuk ke dalam kerongkongannya menjadi trauma tersendiri. Sedih rasanya mendengar ”ketakutan” yang dirasakan tapi selalu ”ditutupi” dengan suara yang seolah sangat ringan dan tanpa beban namun dengan mata berkaca-kaca yang menggambarkan kegalauan hatinya.
Untaian mujizat demi mujizat terus terjadi selama dua tahun berjalan dan menjadi sebentuk kalung bermanik-manik pengharapan. Setiap kali mendengar tahapan pengobatan yang harus dijalaninya, saat itu ada tangan Tuhan yang sangat besar dan berkuasa turun dan memberikan pemulihan. Ketika perutnya sakit dan membesar seperti kehamilan 5 bulan karena beragam cairan racun terkurung di dalamnya, maka Ibu Zelly dengan tabah menghadapi proses ”pembolongan dan penyedotan” cairan di permukaan kulit perut dengan jarum sedot yang besar. Hal ini harus dilakukan agar perutnya bisa ”kempes” lagi seperti sediakala dan pembuangan cairan bisa dilakukan sekalipun dengan pemaksaan. Sebenarnya sering ia bercerita tentang ketakutannya terhadap jarum suntik yang akhir-akhir itu sangat rutin menyiksa dirinya, namun apakah ada pilihan buat dirinya saat itu? Biasanya kami hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan menggenggam tangannya erat (semoga pesan bahwa kami mengasihi dia sungguh-sungguh bisa dirasakannya saat itu).
Ketika HB darahnya turun sampai peringkat yang terendah, dengan wajah pucatnya, beliau menjalani perawatan dengan transfusi dan suntikan yang sangat menyakitkan namun sekali lagi semua harus dilalui. Di luar semua kesakitannya, jangan dihitung besarnya biaya pembelian obat dan perawatan Rumah Sakit yang harus ditanggung keluarga, jumlahnya tak terhitung, namun dengan berdompetkan iman dan percaya semua selalu tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan. Tuhan Yang Maha Baik ada di sana menjalankan bagiannya dengan tiada henti mengulurkan kekuatan bagi Ibu Zelly, walaupun Ibu Zelly sendiri harus mengambil bagian dirinya dengan melampaui proses menanggung rasa sakitnya.
Lembaran dalam chapter ”SEBOTOL AIR JAHE HANGAT” menjadi bagian yang paling mengharukan bagi kami mengenang sosok Ibu Zelly. Hari-hari teman kami ini diwarnai dengan mengelola sebuah catering yang menyediakan masakan sehari-hari bagi keluarga dan masakan khusus siang bagi sejumlah anak-anak sekolah. Setiap saat jika kami membutuhkan racikan masakannya (untuk acara kumpulan atau ulang tahun), maka kapanpun dengan mengangkat telepon menghubungi dirinya, dijamin satu set menu komplit bisa hadir memenuhi kebutuhan kami dengan berbagai bonus di dalamnya. Jika lama tak bersua, maka kapanpun kami menghubungi dirinya melalui HP untuk menanyakan kesehatannya, suaranya selalu hangat, tenang dan ramah. Jawabannya panjang dan lebar, cerita nya tetap banyak dan diwarnai nasihat-nasihat yang sering disampaikannya terutama terkait masalah anak-anak. Informasi yang terutama adalah tentang dirinya berada dalam keadaan ”sehat dan baik”. Belakangan sekali kami baru mengetahui bahwa sebenarnya dalam hari-harinya mayoritas yang dia rasakan adalah kesakitan tak tertahankan dari seputar hati yang membengkak dan membatu di dalam perutnya, tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali pembantu di rumahnya, tidak juga suami dan anak-anaknya, apalagi kami teman-temannya. Beliau selalu berusaha meyakinkan kami semua bahwa segala hal menyangkut dirinya adalah sehat dan baik.
Cinta yang paling nyata bagi kami ditunjukannya melalui Sebotol Air Jahe Hangat. Jika lama tidak berjumpa, dan beliau mengetahui salah satu dari kami (atau anak-anak kami) mengalami gangguan batuk, masuk angin atau sakit perut, maka dijamin dalam hitungan jam, sebotol Air Jahe Hangat akan dikirimkan oleh kurir cateringnya ke rumah kami. Setiap gelas air jahe bercampur gula merah yang manis untuk menghilangkan gatal di tenggorokan dan memberikan hangat di tubuh itu benar-benar sarat dengan ”Kasih dan Cinta” seorang Ibu Zelly bagi kami, teman-temannya. (Tak bisa disebutkan di sini cerita agar-agar, semangkok klaper taart, dan bahkan tape uli yang rutin dikirimkan).
Dalam kesakitan dan perjuangannya melawan Sirosis selama 2 tahun yang cukup berat, tidak pernah Ibu Zelly sesaatpun hanya memperhatikan dirinya dan mengeluhkan rasa sakitnya sendiri. Hidupnya tetap dipenuhi dengan perhatian dan kasih buat setiap orang yang mengelilinginya (keluarga, pegawai catering, bahkan teman-temannya), dia selalu berusaha menyenangkan dan menenangkan setiap orang yang sayang padanya. Di atas itu semua, sikap ini dinyatakan sebagai ungkapan syukur karena dia percaya Tuhan tetap menyayangi dirinya. Masih terus teringat perkataannya yang sarat dengan iman, ”Aku percaya Olla, Tuhan pasti akan memberikan hati yang baru buat aku. Aku sudah lelah sakit terus dan aku mau hati yang bisa berfungsi baik lagi. Mujizat pasti akan terjadi”.
Kami semua, selalu meng”amin”kan hal ini, dimanapun itu, sebuah hati yang baru akan diterimanya, bahkan jika itu baru terjadi di Sorga sekalipun. Sampai malam terakhirnya, saat itu ketika sambil bernyanyi dan berdoa bersama Ibu Zelly dan beberapa teman di rumahnya, di ujung tempat tidurnya kami duduk dan terpekur sambil menangis melihat Tuhan menggenggam tangannya dan menarik Ibu Zelly pergi ke pangkuan Nya, napas nya mulai terlihat satu-satu sampai akhirnya semua selesai. Dan hanya ucapan syukur yang tidak ada habis-habisnya bisa kami panjatkan pada Tuhan.
”Terima Kasih Tuhan telah mengasihi Ibu Zelly lebih daripada kasih kami semua pada dirinya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar