Lebaran tahun ini cukup “menyenangkan” ….. berhasil memperoleh A “Super Replacement Nanny” … yang multi fungsi : bisa menjaga Ravind dengan baik, memperhatikan Veda juga, mencuci baju, membersihkan rumah, menyikat kamar mandi, dan akhirnya sangat eager buat memasak sendiri …. What a lucky me … (dasar aku nya juga pemales siy …. He .. he ..). Namanya Suster “Mud” …. (menurut Mono dia keturunan Belanda .. Zuster Mood van Aaken )
Untuk persiapan menyambut Idul Fitri .. Suster Mud bermaksud memasak Paket Ketupat komplit. Ada ketupat, Opor Ayam, Sayur Labu, juga Sambal Goreng Kentang Hati. Satu-satunya tempat yang komplit buat belanja adalah di Pasar Tradisional …. Mmm tempat yang sudah belasan tahun juga tidak aku kunjungi (karena kalau tidak belanja di mall, di rumah pun selalu ready dengan Catering nya).
Jadilah pagi itu (sehari menjelang lebaran), Aku dan Mono berangkat ke pasar tradisional …. Sambil dengan penuh semangat mengajak Veda ikut serta. Tiba-tiba kami mneyadari kalau Veda belum pernah berkunjung ke pasar tradicional (padahal ini merupakan salah satu aktivitas social yang harus diketahuinya).
Ke pasar Jambu Dua. Tidak terlalu ramai dan tidak terlalu becek sebenarnya. Belanja di sini menyenangkan … ayam nya segar dan berwarna putih ke - merah muda - an … bersertifikat halal juga (tidak ada formalinnya .. semoga), beli Rp. 40.000 sudah puas dapat 2 kilo dengan belasan potong dan Ceker Ayam khusus untuk Veda.
Kemudian membeli berbagai kelengkapan lainnya .. kelapa tua yang dibersihkan dan diparut menjadi 2 plastik besar untuk diambil santannya. Sekantong besar sayuran komplit hanya Rp. 15.000 berikut bumbu dapurnya.
Yang sebetulnya menarik dari acara belanja ini adalah memperhatikan Veda. Untung dia berangkat dengan celana pendeknya tapi dengan sandal jepitnya yang pinky dan cantik. Aktivitas melompati kubangan yang becek menjadi dilakukannya dengan “agak kerepotan” …. Dia sibuuuk mencari pijakan jalan yang tidak basah dan becek, supaya sandal pink nya menjadi tidak terlalu kotor.
Sesampainya di toko kelapa pun dia dengan takjub memperhatikan bagaimana kelapa parut dibersihkan, “Jangan terlalu bersih, nanti gak enak” kata si Mamang Penjualnya. Selanjutnya Veda membantu membawakan plastik belanja.
Di toko sayur, Veda mulai membantu juga memilih-milihkan kentang untuk ditimbang, sebagian yang di pilihnya berwarna biru karena dia tidak paham kentang mana yang bagus. Yang pasti sejauh toko kentang ini dia masih cukup tertarik beraktivitas belanja.
Tapi tidak berapa lama, mulai terdengar keluhannya (selain karena panas mulai menyengat), “Bunda .. kayanya sudah cukup ya, kita pulang yuk, becek nih … “. Aku dan Ayahnya tertawa-tawa saja mendengarnya. “Dasar anak MALL … “.
Puncaknya adalah ketika kami mengunjungi Toko Penjual Daging Sapi. Daging Sapi yang digantung berjuntai sebesar orang dewasa membuat Veda agak terkejut. Ternyata bentuknya sedemikian jeleknya. Terbayang dia selalu melihat daging sapi dalam bentuk kotak-kotak cantik di etalase Giant SUper Market dan bahkan dalam bentuk daging cincang yang sudah bergulung-gulung siap ditimbang.
Lalu ketika kami sibuk memilih hati sapi, kami tidak perhatikan kalau Veda terpaku dan melotot dengan expresi muka yang takjub melihat pada proses “pembersihan kepala sapi” yang memang agak mengerikan. Kulit kepalanya dan kupingnya masih melekat di kepala sapi nya, tapi mukanya yang mulai tidak berbentuk karena sedang dibersihkan. Aku dan Mono terpingkal-pingkal melihat wajah Veda yang tidak nyaman dan tidak karuan itu.
Pada perjalanan pulang, Veda mendeklarasikan kalau dia tidak mau lagi ke pasar tradisional ……… yaaaa ampuuuuunnnn ……. Keputusan yang tidak tergoyahkan biarpun diceritakan kalau dulu Bunda harus menemani Oma berbelanja di pasar serupa atau Ayah harus mengawal membawa belanjaannya Embah. Veda tidak tertarik mendengarkannya ……. He .. he …
Jadi merasa perlu kembali meng-evaluasi cara mengenalkan kehidupan sama anak-anak nih. Ini hanya contoh kecil dari keseharian di 30 tahun lalu dimana saat itu aktivitas ini dikenal oleh hampir setiap anak yang menemani orang tuanya berbelanja di pasar tradisional. Department Store belum banyak saat itu … (aku ingat ketika Palaguna di launching … Wah hebohnya setiap orang memandang kagum pada sebuah toko yang bersih, ver AC dan komplit isinya).
Saat ini semua terbalik total, Veda dan adiknya hanya mengenal Mall, bermain game di Game Center dengan harga 1 koin minimal Rp. 1.250,- (sekali main Rp. 50rb – 100rb). Makan di berbagai restaurant terkenal sesuai kehendak hatinya … Kadang Sushi, Bebek, Spaghetti, dll. Berbelanja di supermarket dan dengan mudah menemukan counter daging sapi dan ayam dalam bentuk cantik, dan buah-buahan dan sayur yang berwarna segar untuk ditimbang. Belum lagi dengan mudah menemukan di mana tempat Yoghurt, Crispy Potatoes, Chocolate, Jelly dan berbagai kesukaan lainnya.
Semua tersedia .. semua lengkap dan tidak ada kurangnya. Tidak ada becek, bau, panas, dan pemandangan mengerikan lainnya.
Kami membiarkan dia tumbuh 8 tahun dengan kehidupan nyaman dan semua tersedia. Dan kami juga yang kemudian ngomeeel panjang lebar ketika dia terbentuk menjadi anak yang agak santai, tidak terlalu peduli tugas nya, dan tidak terbiasa melakukan banyak hal sendiri karena semua sudah tersedia di hadapannya tanpa perlu berjuang lebih (Seragam sekolah, kaos kaki dan sepatu, air mandi, tas sekolah, makanan, ikat rambut, semuanya ready to wear … tidak perlu diperjuangakn dan diusahakan sendiri untuk ada).
Bermain pun tidak lagi dengan aktivitas permainan tradisional. Tidak ada lompat tali dari karet (adanya tali elastis bermerk Disney bergambar NEMO yang harganya cukup mahal), tidak ada juga permainan Galah Asin, Bola Bekel, dll (Veda punya permainan Congklak dengan harga tidak murah meriah karena terbuat dari kayu ukiran cantik dan khusus dibeli di toko souvenir), selebihnya adalah Komputer Game dan DVD Movies.
Berarti … memang kesalahan kami orang tuanya nih …. Mau membentuk Veda menjadi A maka yang harus diperkenalkan adalah A. Mau dia berbentuk B, maka yang harus dikenalkan sejak dini pun seharusnya B.
Kami ingin dia lebih mandiri, mampu mengurus dirinya sendiri, memiliki fighting spirit yang tinggi, peka juga pada lingkungan dan keadaan sosial, tapi ternyata kami belum memperkenalkan dia pada hal-hal yang akan mampu membentuk dirinya menjadi demikian.
Anyway buswey … ternyata tidak mudah menjadi orang tua masih panjang nih list PR nya ....
Lebaran 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar