Week end itu dinantikan dengan penuh berdebar-debar. The little Angel VEDA terpilih mewakili sekolahnya mengikuti Lomba Vocal se Kabupaten Bogor. Sekolah Veda, SD Marsudirini terletak di area Parung, sehingga semua lomba mau tidak mau harus di seleksi pada tingkat Kabupaten terlebih dahulu.
Ibu Guru menghubungi kami pada hari Kamis – sangat mendadak. Veda dipilih dan dipasangkan dengan Bram sebagai pemain keyboardnya.. Lagu yang dilombakan adalah Bunda dan Bubuy Bulan. Mengagetkan sekali beritanya Karena pengumuman yang diterima dari Diknas mendadak sekali … namun paling tidak yang membanggakan adalah sekolah percaya bahwa Veda mampu mengatasi keterbatasan waktu yang ada dan mampu melatih dirinya sendiri untuk menghadapi perlombaan ini.
Pagi itu segala hal aku persiapkan, makan pagi roti dilapisi coklat agar Veda, Abraham dan juga Ravind yang akan turut serta tidak akan merasa kelaparan. Beberapa kotak susu dan botol air menemani, beberapa kotak biskuit turut menyemarakkan dan dua buah box spaghetti untuk makan siang Veda dan Abraham. Belum lagi mendengarkan dan memberikan berbagai komentar atas suara dan latihan Veda dan Ayahnya di piano di rumah sebelum kami semua berangkat.
”Jangan lupa nanti minum dulu ya Veda” ... ”Jangan lupa sebelum bernyanyi panaskan lagi suaranya dengan berdehem ... hemmm ... hemmm ... hemmm ... hemmmm” .... ”Jangan makan yang manis-manis ya sayang supaya suaranya tidak terganggu” dan seribu kekhawatiran lainnya .... ternyata dalam banyak hal kontrol emosi ku masih perlu dilatih dengan lebih baik.
Menjemput Abraham di rumahnya di Bukit Cimanggu dan bersama-sama berangkat ke lokasi perlombaan menyanyi se Kabupaten ..... di mana kah lokasinya ????
SDN Pondok Udik nama tempatnya ...... heran kah? Wellll .... nama yang unik .... dan aku pun merasa agak takjub.
Sebuah SD Negeri yang sangat sederhana ... kelasnya sangat terbatas dan masih dipakai untuk belajar pada Sabtu pagi itu. Acara yang sedianya harus dimulai pada pukul 8 pagi, belum menunjukkan tanda-tanda apapun pada pukul 9.30 pagi saat itu. Ibu Guru Veda mulai gelisah, aku hanya menenangkan diri sambil tersenyum-senyum .... memandang keadaan sekolah dan lingkungan sekitar nya.
Tidak berapa lama datang seorang Bapak Guru yang mengaku tuan tumah dari sekolah tersebut dan tidak mengetahui kalau ada Perlombaan Menyanyi se Kabupaten di sekolah tersebut pada pagi itu. What??? Beliau membawa selembar kertas HVS dimana Veda dan Abraham kemudian menuliskan namanya sebagai peserta. Jumlah peserta yang mendaftar saat itu ... baru 2 orang.
Bapak Guru berusaha setengah mati menjelaskan bahwa dalam rapat diknas terakhir, belum ditetapkan tanggal diadakannya acara ini, namun mendadak hari tersebut harus dilakukan kegiatan tersebut. Dia tidak mengetahuinya, ”Maaf saja bu, saya tuan rumahnya saja tidak diberitahu oleh Diknas”, ”Ini daftar saja ya, kita tunggu sampai pesertanya banyak....” kata beliau dengan entengnya. Aku membelalakan mata??? Menunggu sampai peserta banyak??? Jam berapa harapan itu akan terpenuhi???
Akhirnya waktunya tiba ..... setelah menunggu sekitar 2 jam an, kelas dimana perlombaan akan dimulai sudah kosong karena kegiatan belajar telah selesai pada pukul 10 pagi. Kami memasuki kelas sederhana itu, dan duduk pada sejumlah bangku bakso yang sudah usang dan mampu menampung sekitar 30-40 anak. Meja kayu tempat mereka belajar sudah dalam keadaan yang kurang baik. Di antara berbagai bangku bakso yang ada, bahkan terdapat 1 kursi makan pribadi yang alasnya sudah terkoyak-koyak.
Tibalah saatnya perlombaan dimulai. 2 orang Ibu Guru memulai acara dengan memberikan sambutan yang intinya menceritakan bagaimana mereka tidak mengetahui kalau acara tersebut akan diadakan dan dimajukan dari jadwal semula oleh Diknas. Namun karena anak-anak sudah siap, maka pada hari ini, seadanya harus diikutsertakan dalam lomba nyanyi ini. Peserta akhirnya mencapai 4 orang penyanyi dan 4 orang pembaca puisi. Perlombaan Menyanyi pada Tingkat Kabupaten Bogor resmi dibuka. Well ... perlombaan yang cukup menantang .... dengan 4 orang peserta ( he ..he ..he)
Veda menjadi penyanyi pertama, Abraham memainkan musiknya di atas keyboard dengan sangat fasih, dia memang sangat berbakat dalam berbagai alat musik. Anak lelaki yang mengagumkan. Veda mulai menarik suaranya dan mengeluarkan suaranya yang terdengar berat dan jazzy .... ia menyanyikan lagu Bunda dengan sangat indah .... mataku berkaca-kaca karena nya, kebanggaan bercampur keharuan. Bubuy Bulan dinyanyikannya juga dengan suara berat dan jazzy nya itu. Keseluruhan lagu seperti biasa dinyanyikan dengan gaya standar a la Veda yang kaku dan bergoyang seperlunya. Jangan membahas Idola Cilik dan acara pentas lainnya yang penuh dengan gaya penyanyi cilik. Veda tidak suka dan jauh dari hal itu .... yang menjadi fokus utamanya selalu pengolahan suara. ”Dengarkan suaraku dan jangan lihat gayaku”, itu motto Veda ...... well apapun .... Veda menyelesaikan bagiannya dengan baik. Buatku Veda juara di hatiku ....
Penyanyi kedua adalah putri seorang pemain Organ Tunggal. Bapaknya sendiri yang mengiringinya. Suaranya juga berat dan jazzy, namun gaya nya sangat enak dilihat dan sesuai. Ketukan lagu membuat badannya bergerak-gerak sesuai irama ... seperlunya, tapi sangat bagus. Kedua lagu diselesaikannya dengan baik sekalipun pada baris terakhir, Organ milik Bapaknya mengalami masalah dan mulai ”ndut – ndut – an”. Pengalaman mengikuti berbagai lomba dan menjadi juara sangat terlihat jelas pada dirinya. Good for her .... sangat mengagumkan.
Penyanyi ketiga hadir disertai kepanikan ibu dan ibu gurunya. Ketidaktahuan harus membawa alat musik sendiri menjadi masalah. Si Gadis Kecil tidak ada yang mengiringi. Alhasil, Bapak Pemain Organ Tunggal diminta kerelaan hatinya untuk mengiringi Gadis Kecil Penyanyi ketiga yang berambut panjang, bermuka mungil dan cantik. Suaranya kecil, namun gaya nya riang gembira. Ia pun tetap riang ketika Organ semakin ”ndut-ndut – an” dengan parah dan Bapak Organ Tunggal menyalahkan listrik sekolah sebagai biang keladi nya. Lama kelamaan keriangan tertutupi dengan kebingungan karena musik yang hilang dan timbul tenggelam. Akhir lagu diselesaikannya dengan kebingungan. Semua bertepuk tangan .... paling tidak ujian buat si gadis kecil terlewati saat itu.
Penyanyi keempat hadir dengan wajah pucatnya. Ibu Guru pelatihnya mengingatkan dia karena Organ yang bermasalah dan Listrik sekolah yang naik turun, maka si gadis kecil pucat ini harus menyanyi tanpa musik. ”Menyanyi lah seperti waktu latihan ! Tidak usah dengan musik juga tidak apa-apa”. Kasihan sekali. Mulai lah ia mengangkat suaranya yang kemudian perlahan tapi pasti berlari ke sana kemari karena tidak dikunci oleh nada yang tepat dan sesuai dari alat musik. Yang pasti si Gadis Pucat ini cukup tabah menyelesaikan kedua lagunya. Perjuangan berat sebenarnya, karena kami semua mengerenyitkan dahi ketika mendengar si Gadis pucat bernyanyi dengan suara tinggi. Suaranya ”silung ... ke sana kemari”. Yahhh ... perjuangan paling tidak akhirnya selesai juga untuk dia.
Lomba berikutnya adalah Lomba Puisi. Talenta membuat puisi sendiri dalam rangkaian kata yang indah dan kemudian membacakannya ... sungguh hal yang menurutku menakjubkan. Para peserta benar-benar talented menjadi penulis .... tulisan mereka semua sangat indah ... padahal dibuat dan di susun di tempat pada saat itu.
Tibalah waktu pengumuman ...... seperti yang diduga ... Juara Harapan 1 jatuh pada si Gadis Pucat ... Juara 3 jatuh pada si Gadis Riang .... dan Juara 1 jatuh pada si Gadis Putri pemain Organ Tunggal. Veda menjadi Juara 2. Kami semua bergembira dan berbahagia. Ini merupakan upaya maksimal Veda yang terbaik. Satu pelajaran diperolehnya pagi itu ”Menjadi juara susah ya Bunda?” kata Veda. Ia menyimpan dalam hatinya ... kalau menyanyi harus dengan hati, dihayati, sehingga gaya dan aksi panggung akan keluar dengan sendirinya ..... paling tidak Veda memperoleh pelajaran yang lebih berharga daripada hanya sekedar menjadi Juara 2 se Kabupaten Bogor.
Apa yang paling berkesan buat diriku pagi itu? Ini adalah dunia nyata management pendidikan Indonesia. Betapa sebuah sekolah sederhana ... sangat sederhana ... dikelola oleh pemerintah .... bukan hanya menunjukkan keterbatasan dan ketiadaan fasilitas saja ... namun juga menunjukkan bagaimana lemahnya sistem management pendidikan di Indonesia dan lemahnya profesionalisme para gurunya ... pendidik anak bangsa .....
Informasi yang tidak jelas .... ketidakseriusan dalam melaksanaan sebentuk program yang katanya untuk tingkat kabupaten .... ketiadaan tempat dan fasilitas ..... kesederhanaan atau tepatnya keminiman kelengkapan acara ... beginikah dunia pendidikan negeri di Indonesia sesungguhnya? Maka kemudian tidak menjadi hal aneh kalau di kota sebesar Bandung ada sekolah dengan langit-langitnya yang runtuh, misalnya. Pemandangan miris serupa pun ada di tempat ini – beberapa kilometer dari pusat kota Bogor. Bagaimana halnya dengan sekolah negeri di area Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera .....?
Membayangkan dan kemudian tak lepas-lepasnya bersyukur mengingat sekolah Veda, SD Marsudirini terbentang megah dengan fasilitasnya yang luar biasa di area Telaga Kahuripan Parung. Lapangan basket, bola, kebun tanaman, parkir yang luas semua terbentang. Kelas-kelas nya yang tersedia dengan megah di 3 lantai sekolah yang ada. Fasilitas perpustakaan, ruang makan, ruang berkesenian, yang lengkap dan nyaman ..... sekalipun semua harus dibiayai dengan nilai uang yang cukup besar dari kami para orang tua setiap bulannya ..... maka kembali bersyukur kalau Tuhan memberi kemampuan kami semua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kami ..... karena ternyata pemerintah tidak bisa diharapkan bisa memberikan pendidikan dan fasilitas nya yang baik bagi mereka, anak-anak bangsa ini.
Pertanyaan berikutnya adalah .... kapankah dunia pendidikan dan management pendidikan Indonesia akan mampu berkembang dengan lebih baik? Membayangkan 30 tahun yang lalu sekolah ku di Bandung ... setara secara fasilitas dan kelengkapan dengan sekolah Veda saat ini. Sementara sekolah negeri dekat rumahku saat itu .... memiliki fasilitas yang bahkan jauh lebih baik daripada saat ini ... daripada SD Pondok Udik yang kami datangi ... pada 30 tahun setelah masaku ......
Artinya .... sebenarnya, apakah ada langkah yang nyata .... 1 langkah saja dalam pendidikan Indonesia yang terperbaharui setelah 30 tahun berlalu? Langit-langit yang runtuh, kursi bakso, papan tulis hitam berkapur, dan keadaan sekolah yang sederhana .... tidak menunjukkan progress yang berarti selama 30 tahun negara ini menambah usia dan pengalamannya dalam berbagai bidang termasuk pendidikan.
Dunia pendidikan dan management pendidikan negeri di Indonesia ... agaknya masih sangat memprihatinkan. Harus lebih banyak berharap ... agar kemajuan pendidikan dan teknology pendidikan juga profesionalisme para pendidik di sekolah swasta yang dibiayai dengan swasembada orang tua .... dapat menular dengan segera ke sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah ini. Tanpa perlu menunggu harapan perubahan baru terjadi 30 tahun yang akan datang nanti ............
Mengingatkan Veda terus untuk mengucap syukur atas sekolahnya yang luar biasa .... atas kesempatan belajar untuk dirinya yang terbuka lebar ..... atas berkat untuk kami orang tuanya untuk menyekolahkan dan memenuhi kebutuhannya .........

Mari melihat ke bawah .... untuk terus bersyukur dan menyadari betapa anugerah yang kita miliki sungguh berlimpah ...............
Ibu Guru menghubungi kami pada hari Kamis – sangat mendadak. Veda dipilih dan dipasangkan dengan Bram sebagai pemain keyboardnya.. Lagu yang dilombakan adalah Bunda dan Bubuy Bulan. Mengagetkan sekali beritanya Karena pengumuman yang diterima dari Diknas mendadak sekali … namun paling tidak yang membanggakan adalah sekolah percaya bahwa Veda mampu mengatasi keterbatasan waktu yang ada dan mampu melatih dirinya sendiri untuk menghadapi perlombaan ini.
Pagi itu segala hal aku persiapkan, makan pagi roti dilapisi coklat agar Veda, Abraham dan juga Ravind yang akan turut serta tidak akan merasa kelaparan. Beberapa kotak susu dan botol air menemani, beberapa kotak biskuit turut menyemarakkan dan dua buah box spaghetti untuk makan siang Veda dan Abraham. Belum lagi mendengarkan dan memberikan berbagai komentar atas suara dan latihan Veda dan Ayahnya di piano di rumah sebelum kami semua berangkat.
”Jangan lupa nanti minum dulu ya Veda” ... ”Jangan lupa sebelum bernyanyi panaskan lagi suaranya dengan berdehem ... hemmm ... hemmm ... hemmm ... hemmmm” .... ”Jangan makan yang manis-manis ya sayang supaya suaranya tidak terganggu” dan seribu kekhawatiran lainnya .... ternyata dalam banyak hal kontrol emosi ku masih perlu dilatih dengan lebih baik.
Menjemput Abraham di rumahnya di Bukit Cimanggu dan bersama-sama berangkat ke lokasi perlombaan menyanyi se Kabupaten ..... di mana kah lokasinya ????
SDN Pondok Udik nama tempatnya ...... heran kah? Wellll .... nama yang unik .... dan aku pun merasa agak takjub.
Sebuah SD Negeri yang sangat sederhana ... kelasnya sangat terbatas dan masih dipakai untuk belajar pada Sabtu pagi itu. Acara yang sedianya harus dimulai pada pukul 8 pagi, belum menunjukkan tanda-tanda apapun pada pukul 9.30 pagi saat itu. Ibu Guru Veda mulai gelisah, aku hanya menenangkan diri sambil tersenyum-senyum .... memandang keadaan sekolah dan lingkungan sekitar nya.
Tidak berapa lama datang seorang Bapak Guru yang mengaku tuan tumah dari sekolah tersebut dan tidak mengetahui kalau ada Perlombaan Menyanyi se Kabupaten di sekolah tersebut pada pagi itu. What??? Beliau membawa selembar kertas HVS dimana Veda dan Abraham kemudian menuliskan namanya sebagai peserta. Jumlah peserta yang mendaftar saat itu ... baru 2 orang.
Bapak Guru berusaha setengah mati menjelaskan bahwa dalam rapat diknas terakhir, belum ditetapkan tanggal diadakannya acara ini, namun mendadak hari tersebut harus dilakukan kegiatan tersebut. Dia tidak mengetahuinya, ”Maaf saja bu, saya tuan rumahnya saja tidak diberitahu oleh Diknas”, ”Ini daftar saja ya, kita tunggu sampai pesertanya banyak....” kata beliau dengan entengnya. Aku membelalakan mata??? Menunggu sampai peserta banyak??? Jam berapa harapan itu akan terpenuhi???
Akhirnya waktunya tiba ..... setelah menunggu sekitar 2 jam an, kelas dimana perlombaan akan dimulai sudah kosong karena kegiatan belajar telah selesai pada pukul 10 pagi. Kami memasuki kelas sederhana itu, dan duduk pada sejumlah bangku bakso yang sudah usang dan mampu menampung sekitar 30-40 anak. Meja kayu tempat mereka belajar sudah dalam keadaan yang kurang baik. Di antara berbagai bangku bakso yang ada, bahkan terdapat 1 kursi makan pribadi yang alasnya sudah terkoyak-koyak.
Tibalah saatnya perlombaan dimulai. 2 orang Ibu Guru memulai acara dengan memberikan sambutan yang intinya menceritakan bagaimana mereka tidak mengetahui kalau acara tersebut akan diadakan dan dimajukan dari jadwal semula oleh Diknas. Namun karena anak-anak sudah siap, maka pada hari ini, seadanya harus diikutsertakan dalam lomba nyanyi ini. Peserta akhirnya mencapai 4 orang penyanyi dan 4 orang pembaca puisi. Perlombaan Menyanyi pada Tingkat Kabupaten Bogor resmi dibuka. Well ... perlombaan yang cukup menantang .... dengan 4 orang peserta ( he ..he ..he)
Veda menjadi penyanyi pertama, Abraham memainkan musiknya di atas keyboard dengan sangat fasih, dia memang sangat berbakat dalam berbagai alat musik. Anak lelaki yang mengagumkan. Veda mulai menarik suaranya dan mengeluarkan suaranya yang terdengar berat dan jazzy .... ia menyanyikan lagu Bunda dengan sangat indah .... mataku berkaca-kaca karena nya, kebanggaan bercampur keharuan. Bubuy Bulan dinyanyikannya juga dengan suara berat dan jazzy nya itu. Keseluruhan lagu seperti biasa dinyanyikan dengan gaya standar a la Veda yang kaku dan bergoyang seperlunya. Jangan membahas Idola Cilik dan acara pentas lainnya yang penuh dengan gaya penyanyi cilik. Veda tidak suka dan jauh dari hal itu .... yang menjadi fokus utamanya selalu pengolahan suara. ”Dengarkan suaraku dan jangan lihat gayaku”, itu motto Veda ...... well apapun .... Veda menyelesaikan bagiannya dengan baik. Buatku Veda juara di hatiku ....
Penyanyi kedua adalah putri seorang pemain Organ Tunggal. Bapaknya sendiri yang mengiringinya. Suaranya juga berat dan jazzy, namun gaya nya sangat enak dilihat dan sesuai. Ketukan lagu membuat badannya bergerak-gerak sesuai irama ... seperlunya, tapi sangat bagus. Kedua lagu diselesaikannya dengan baik sekalipun pada baris terakhir, Organ milik Bapaknya mengalami masalah dan mulai ”ndut – ndut – an”. Pengalaman mengikuti berbagai lomba dan menjadi juara sangat terlihat jelas pada dirinya. Good for her .... sangat mengagumkan.
Penyanyi ketiga hadir disertai kepanikan ibu dan ibu gurunya. Ketidaktahuan harus membawa alat musik sendiri menjadi masalah. Si Gadis Kecil tidak ada yang mengiringi. Alhasil, Bapak Pemain Organ Tunggal diminta kerelaan hatinya untuk mengiringi Gadis Kecil Penyanyi ketiga yang berambut panjang, bermuka mungil dan cantik. Suaranya kecil, namun gaya nya riang gembira. Ia pun tetap riang ketika Organ semakin ”ndut-ndut – an” dengan parah dan Bapak Organ Tunggal menyalahkan listrik sekolah sebagai biang keladi nya. Lama kelamaan keriangan tertutupi dengan kebingungan karena musik yang hilang dan timbul tenggelam. Akhir lagu diselesaikannya dengan kebingungan. Semua bertepuk tangan .... paling tidak ujian buat si gadis kecil terlewati saat itu.
Penyanyi keempat hadir dengan wajah pucatnya. Ibu Guru pelatihnya mengingatkan dia karena Organ yang bermasalah dan Listrik sekolah yang naik turun, maka si gadis kecil pucat ini harus menyanyi tanpa musik. ”Menyanyi lah seperti waktu latihan ! Tidak usah dengan musik juga tidak apa-apa”. Kasihan sekali. Mulai lah ia mengangkat suaranya yang kemudian perlahan tapi pasti berlari ke sana kemari karena tidak dikunci oleh nada yang tepat dan sesuai dari alat musik. Yang pasti si Gadis Pucat ini cukup tabah menyelesaikan kedua lagunya. Perjuangan berat sebenarnya, karena kami semua mengerenyitkan dahi ketika mendengar si Gadis pucat bernyanyi dengan suara tinggi. Suaranya ”silung ... ke sana kemari”. Yahhh ... perjuangan paling tidak akhirnya selesai juga untuk dia.
Lomba berikutnya adalah Lomba Puisi. Talenta membuat puisi sendiri dalam rangkaian kata yang indah dan kemudian membacakannya ... sungguh hal yang menurutku menakjubkan. Para peserta benar-benar talented menjadi penulis .... tulisan mereka semua sangat indah ... padahal dibuat dan di susun di tempat pada saat itu.
Tibalah waktu pengumuman ...... seperti yang diduga ... Juara Harapan 1 jatuh pada si Gadis Pucat ... Juara 3 jatuh pada si Gadis Riang .... dan Juara 1 jatuh pada si Gadis Putri pemain Organ Tunggal. Veda menjadi Juara 2. Kami semua bergembira dan berbahagia. Ini merupakan upaya maksimal Veda yang terbaik. Satu pelajaran diperolehnya pagi itu ”Menjadi juara susah ya Bunda?” kata Veda. Ia menyimpan dalam hatinya ... kalau menyanyi harus dengan hati, dihayati, sehingga gaya dan aksi panggung akan keluar dengan sendirinya ..... paling tidak Veda memperoleh pelajaran yang lebih berharga daripada hanya sekedar menjadi Juara 2 se Kabupaten Bogor.
Apa yang paling berkesan buat diriku pagi itu? Ini adalah dunia nyata management pendidikan Indonesia. Betapa sebuah sekolah sederhana ... sangat sederhana ... dikelola oleh pemerintah .... bukan hanya menunjukkan keterbatasan dan ketiadaan fasilitas saja ... namun juga menunjukkan bagaimana lemahnya sistem management pendidikan di Indonesia dan lemahnya profesionalisme para gurunya ... pendidik anak bangsa .....
Informasi yang tidak jelas .... ketidakseriusan dalam melaksanaan sebentuk program yang katanya untuk tingkat kabupaten .... ketiadaan tempat dan fasilitas ..... kesederhanaan atau tepatnya keminiman kelengkapan acara ... beginikah dunia pendidikan negeri di Indonesia sesungguhnya? Maka kemudian tidak menjadi hal aneh kalau di kota sebesar Bandung ada sekolah dengan langit-langitnya yang runtuh, misalnya. Pemandangan miris serupa pun ada di tempat ini – beberapa kilometer dari pusat kota Bogor. Bagaimana halnya dengan sekolah negeri di area Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera .....?
Membayangkan dan kemudian tak lepas-lepasnya bersyukur mengingat sekolah Veda, SD Marsudirini terbentang megah dengan fasilitasnya yang luar biasa di area Telaga Kahuripan Parung. Lapangan basket, bola, kebun tanaman, parkir yang luas semua terbentang. Kelas-kelas nya yang tersedia dengan megah di 3 lantai sekolah yang ada. Fasilitas perpustakaan, ruang makan, ruang berkesenian, yang lengkap dan nyaman ..... sekalipun semua harus dibiayai dengan nilai uang yang cukup besar dari kami para orang tua setiap bulannya ..... maka kembali bersyukur kalau Tuhan memberi kemampuan kami semua untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kami ..... karena ternyata pemerintah tidak bisa diharapkan bisa memberikan pendidikan dan fasilitas nya yang baik bagi mereka, anak-anak bangsa ini.
Pertanyaan berikutnya adalah .... kapankah dunia pendidikan dan management pendidikan Indonesia akan mampu berkembang dengan lebih baik? Membayangkan 30 tahun yang lalu sekolah ku di Bandung ... setara secara fasilitas dan kelengkapan dengan sekolah Veda saat ini. Sementara sekolah negeri dekat rumahku saat itu .... memiliki fasilitas yang bahkan jauh lebih baik daripada saat ini ... daripada SD Pondok Udik yang kami datangi ... pada 30 tahun setelah masaku ......
Artinya .... sebenarnya, apakah ada langkah yang nyata .... 1 langkah saja dalam pendidikan Indonesia yang terperbaharui setelah 30 tahun berlalu? Langit-langit yang runtuh, kursi bakso, papan tulis hitam berkapur, dan keadaan sekolah yang sederhana .... tidak menunjukkan progress yang berarti selama 30 tahun negara ini menambah usia dan pengalamannya dalam berbagai bidang termasuk pendidikan.
Dunia pendidikan dan management pendidikan negeri di Indonesia ... agaknya masih sangat memprihatinkan. Harus lebih banyak berharap ... agar kemajuan pendidikan dan teknology pendidikan juga profesionalisme para pendidik di sekolah swasta yang dibiayai dengan swasembada orang tua .... dapat menular dengan segera ke sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah ini. Tanpa perlu menunggu harapan perubahan baru terjadi 30 tahun yang akan datang nanti ............
Mengingatkan Veda terus untuk mengucap syukur atas sekolahnya yang luar biasa .... atas kesempatan belajar untuk dirinya yang terbuka lebar ..... atas berkat untuk kami orang tuanya untuk menyekolahkan dan memenuhi kebutuhannya .........
Mari melihat ke bawah .... untuk terus bersyukur dan menyadari betapa anugerah yang kita miliki sungguh berlimpah ...............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar