Ternyata dalam 1.5 tahun ini, aku baru menyadari bukan hanya sedang bersekolah di sebuah Business Management School saja. Ilmu yang diperoleh (terlepas dari ilmu yang bikin kriting dan kusut rambut di kepala ini) ternyata sangat berharga dan tidak ada batasnya. “Sekolah Kehidupan”, mungkin itu kata yang lebih tepat untuk menggambarkan pengalaman berharga yang terdiri atas aneka warna dalam 1.5 tahun yang sedang berjalan ini. Mungkin juga bisa disebutkan per-chapter sebagai Sekolah Kehidupan Unpad, Sekolah Kehidupan IPB, dan seterusnya sampai masa-masa yang akan datang untuk menandai betapa banyak pelajaran hidup yang dapat ditandai khusus dengan“remarks” sebagai pengalaman yang sangat berharga.
Jika yang dibahas adalah “ilmu dan kepusingan” maka yang harus di listed down adalah tentu saja tak terhingga jumlahnya … hitungannya dimulai dari 4 mata kuliah matrikulasi + 4 mata kuliah triwulan 1 dan seterusnya sampai dengan menjumpai triwulan 5. Belum lagi ditambah berbagai tugas yang seringkali membuat heboh sampai di titik panic dan akhirnya pasrah. Jangan juga berbicara mengenai ilmu hitungan (yang absolutely merupakan titik kelemahanku) dimulai dari MKM, Akuntansi Manajemen sampai dengan Financial Managerial. Jangan juga dibahas mengenai tugas kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3, yang hampir jadi mimpi untuk sampai di akhirnya (saking banyaknya yang tak terhingga) …………. . Jadwal presentasi dan jadwal ujian yang berkejar-kejaran satu sama lain. Sebenarnya .. tidak pernah ada yang jadi benar-benar pemenang atas teman yang lain di pertempuran ini. Karena kemampuan memanage waktu, kesehatan dan stamina, kekuatan untuk menekan ego dan keinginan untuk bebas, kedisiplinan untuk menekuni setiap tugas adalah kemenangan atas diri kami masing-masing (and Thank God so far I really enjoy it so much) Masing-masing kami memiliki kebanggaan dan harapan atas “Sekolah Kehidupan” ini.
Jika yang dibahas adalah “waktu yang berjalan”, maka malam-malam panjang yang melelahkan yang harus dijumpai setiap hari (Senin-Kamis) sungguh luar biasa rasanya. Hitungan jarum jam yang seolah bergerak begitu lambat menjumpai angka jam 10 malam … setiap hari … 4 kali seminggu … selama 18 bulan. Ketika kemudian tiba di rumah dengan kelelahan memuncak, kepala yang sering berdenyut hebat, leher yang tegang dan mata yang menahan kantuk, maka masih perlu untuk membuka-buka beberapa lembar tugas untuk mengetikkan beberapa lembar kata dalam word dan menyelesaikan tugas berbagai mata kuliah L … OMG … Although I really enjoy this, but finally I came on to a point with a wish to end all this soon ……….
Jika yang dibahas adalah “pengorbanan keluarga”, maka itu berbicara mengenai reaksi anak-anak tercinta di rumah atas rutinitas bundanya yang selalu pulang di atas jam 10 malam ketika mereka semua sudah terlelap dan sudah menghilang jam 5.30 pagi saat kantuk masih menguasai mereka. Bunda yang tidak pernah cukup waktu bahkan untuk bermain mobil-mobilan dengan Ravind, mewarnai buku gambar dan bahkan membacakan buku cerita (karena semua sudah tergantikan oleh Suster Rus). Bunda yang terlalu sibuk untuk menanyakan dan menguji Veda atas kesiapannya dalam menghadapi ulangan IPA tentang pencernaan (karena Ayah Mono berusaha keras memenuhi hal ini untuk Veda). Bunda yang juga sudah lama tidak membuatkan sarapan untuk Ayah karena pontang panting mempersiapkan dirinya sendiri di pagi hari karena bisa terlambat ke kantor akibat bangun dari tidur yang kelelahan. Bunda yang waktu-waktu bebas nya di hari Jumat, Sabtu dan Minggu masih occupied dan dikuasai oleh setumpuk buku, lap top beserta kerutan di dahi ………………..Although I really enjoy this chapter of my life, finally I came on to a point with a wish to end all of this soon, as soon as I could ………………
Jika sesuatu hal selalu dapat dilihat dari 2 sisi Hitam dan Putih, Positive dan Negative, maka terlepas dari berbagai hal yang “memberatkan” seperti yang diuraikan di atas, maka “Sekolah Kehidupan” ini sekalipun memberikan beban bola besi yang merantai di kaki memberikan “warna” yang lain. Tidak melulu semuanya “kelabu, kusut, melelahkan, membingungkan, membuat kantuk, membuat pegal, dan memusingkan”, karena ternyata selalu ada warna dan nuansa lain yang kemudian bisa diperoleh.
Jika sesuatu hal selalu dapat dilihat dari 2 sisi Hitam dan Putih, Positive dan Negative, maka terlepas dari berbagai hal yang “memberatkan” seperti yang diuraikan di atas, maka “Sekolah Kehidupan” ini sekalipun memberikan beban bola besi yang merantai di kaki memberikan “warna” yang lain. Tidak melulu semuanya “kelabu, kusut, melelahkan, membingungkan, membuat kantuk, membuat pegal, dan memusingkan”, karena ternyata selalu ada warna dan nuansa lain yang kemudian bisa diperoleh.
Nuansa itu adalah “pertemanan, persahabatan, pengajaran bagaimana bersikap atas hidup, serta memandang berbagai contoh yang baik” atas hidup yang dijalani oleh berbagai teman-teman yang ada di kelas (40 an teman baru berarti 40 pelajaran hidup yang bisa dimaknai), dan terlebih lagi semakin bersyukur dan terus bersyukur merasakan adanya “kekuatan tangan yang terus menopang” aku sampai tidak pernah jatuh tergeletak.
Berbicara tentang Pertemanan, rasanya point ini menjadi “bahan bakar” utama di dalam Sekolah Kehidupan ini. Sebagai seorang Melankolis Sejati (is it true?) yang sebetulnya lebih menggemari kesendirian dan privacy, aku dikembalikan kepada kesadaran betapa seorang manusia tidak mungkin hidup di atas kedua kakinya sendiri (bahkan jika kedua tangannya akan dipakai untuk menopang tubuhnya sekalipun, perjalanan hidupnya akan tetap jauh dari sempurna). Jika di S1 HI yang semarak dulu, kehidupan diwarnai oleh kehadiran Ovie, Emeh, Dicky, Dikky, Thanon, Andit, BomBom, Adang, Inell, dan lain-lain (yang sampai hari ini mereka masih terus ada dan hanya sejauh SMS dan sejauh YM karena kedekatan di hati) maka di S2 ini persahabatan semarak dengan kehadiran Rina, Mbak Nia, Billa, Kiki, Abah, Pak Rezza, Adit, dan Bill. Teman seperjuangan yang banyak sekali membantu dan mendukung segala dalam pelajaran. Kisah tentang mereka telah dibahas di blog yang lalu (Yoook Sekolah ..). Namun berbagai catatan tetap layak untuk dituliskan … betapa dari seorang Abah di usia setengah abadnya, aku memperoleh pelajaran untuk bagaimana bersikap “bijaksana” menghadapi apapun juga, selalu positive sekalipun terkadang topic yang dibahas kurang dipahami, tidak berhenti berjuang dalam apapun rintangan yang dihadapi (Abah tidak menyerah diperhadapkan dengan kecanggihan computer beserta seluruh programnya, belakangan beliau bahkan memiliki Yahoo Messenger yang pernah hidup walau hanya sekali … he .. he … hebat ya!), belajar juga bagaimana menikmati setiap hal yang memang harus dijalani tanpa dirasakan sebagai beban. Abah sungguh mampu menjadi motor penggerak yang hebat. … Betapa dari seorang Pak Rezza, teman yang menjadi guru kami, aku memperoleh pelajaran untuk bersikap bagaimana “memberikan hati” bagi orang lain apapun juga itu rasanya. Beliau sangat pintar dan menguasai banyak hal dengan baik, namun selalu bersedia mengajarkan apapun juga pada kelompok kami dan membuka segala “kebuntuan” yang ada dalam berbagai mata kuliah. Sesungguh-sungguhnya tidak ada manfaat apapun bagi dirinya untuk mengajarkan kami. Tidak mudah untuk “rela” memberikan ilmu, hasil pemikiran, sampai dengan mensharingkan hasil tugas yang sudah terangkum dengan baik kepada orang lain. Dan hebatnya beliau selalu melakukan itu. Tanpa tendensi apapun … hanya keinginan untuk berbagi dan memberikan hati …
Selebihnya dari berbagai teman lain yang ada, aku dapat memetik makna “persahabatan” yang seharusnya yaitu berarti “ketulusan”, untuk membuka diri apa adanya, untuk (kembali) bersedia memberikan hati dengan porsi yang lebih, untuk saling mendukung dan mensupport menghadapi perjalanan perkuliahan ini (yang sekalipun pendek namun sangat berkelok), untuk “ada” ketika dibutuhkan (bahkan hanya untuk memberikan telinga jika bantuan sulit disumbangkan) dan banyak lainnya.
Hal yang menjadi catatan dalam tulisan kali ini adalah pelajaran baru dari presentasi kelompok salah seorang teman. Seorang teman di kelas yang tidak terlalu “dekat”, yang bahkan karena kesibukannya membuat beliau jarang hadir di kelas (atau selalu terlambat), seorang teman yang mana sempat di dalam hati aku menyimpan “kekesalan” karena “kesantaian dan ketidakpeduliannya” menghadapi sebuah tugas bersama aku. Pada akhirnya aku baru menyadari bahwa sikap hidup yang dijalaninya selalu memiliki makna “positive” yang baik untuk dipelajari. Beliau belajar selalu untuk “Balancing Energy” yang dimilikinya. Prinsip baru yang dijelaskan malam itu adalah bahwa pada prinsipnya manusia terdiri atas sekumpulan “energy” yang kemudian membentuk dirinya (mengacu kepada teori seorang Albert Einstein). Dan manusia yang dilingkupi oleh energy ini memiliki kemampuan untuk memberi, menerima, menyerap dengan paksa, memberi dengan rela berbagai energy dalam dirinya dalam berhubungan dengan orang lain (ini menjadi prinsip dasar teori ini). Betapa kita akan semakin baik jika mampu “memberikan energy” dengan rela ( dalam hubungan dengan orang lain mencoba terus untuk bersikap baik, bijaksana, memberikan hati seperti disebut di atas, dan hal positive lainnya), metode pemberian energy ini ternyata tidak akan menguras energy yang kita miliki bahkan akan semakin menambah energy yang ada dan menambah energy yang dimiliki orang lain (bagusnya konsep ini adalah membuat sesama manusia berada dalam Win Win situation). Hal yang sebaliknya terjadi adalah ketika kita negative kepada orang lain, maka kita “mengambil paksa” energy milik orang lain, dan membuat dirinya kehilangan energy sekalipun kita bangga dengan kelebihan energy paksa tersebut (situasi ini yang menciptakan kondisi Win Loose situation).
Makna permainan energy ini menurutku sangat mendalam. Perlu terus dipelajari dan disempurnakan untuk bisa diterapkan, paling tidak saat ini menyadari betapa energy yang aku miliki rasanya terkuras cukup banyak dalam perjalanan 1.5 tahun ini, namun …. Energy itu dapat terus diciptakan selama memang kita menghendakinya untuk bisa dibagikan dengan rela kepada lingkungan sekitar dan orang lain. Dengan demikian pasti hidup akan terasa lebih mudah dijalani. Thanks to Pak Peto atas teorinya …. Really valuable …..
Di atas semuanya … kesadaran paling utama adalah merasakan bahwa ada tangan yang sangat kuat menopang supaya aku tidak akan pernah jatuh tergeletak. Tangan yang memberikan kekuatan, memberikan kemampuan untuk berpikir dan berjuang, dan tangan yang secara mengejutkan memberikan nilai-nilai yang tidak pernah diharapkan, didengar, dan dipikirkan sebelumnya. Tangan yang akan menarik aku untuk segera tiba di akhir dari perjalanan Sekolah Kehidupan chapter IPB ini ……………. September 2008
Thanks to the dearest Father in heaven and all the friendship I got in IPB …..
Thanks to the dearest Father in heaven and all the friendship I got in IPB …..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar