“Pfuihhhh .... lega rasanya, akhirnya ada kesempatan untuk bernapas!” Aku duduk di atas batu besar, di bawah pohon tarbantin yang rindang dan sejuk. Terik matahari siang itu terhalangi oleh dedaunannya yang lebat dan berjuntai-juntai melebar seperti payung meneduhkan kepala. Tanganku meraih gelas tembikar berisi air, yang ketika diminum isinya seteguk demi seteguk, dinginnya terasa mengalir perlahan di kerongkonganku,”Ehmmm segarnya!”.
Hatiku gembira tak terkira. “Akhirnya selesai juga!”. Memandang penuh takjub kemegahan yang hadir di hadapanku. Rasanya tidak pernah dapat dipercaya, bahtera besar dari kayu gofir itu bisa selesai dibuat pada waktunya. Memandang benda raksasa berwarna coklat kayu itu bagiku seakan memandang wujud ketaatanku pada “Dia”.
Dengan panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta, dibangun di atas bukit jauh dari pemukiman penduduk desa, siapapun sudah sewajarnya menganggap diriku gila. Pembangunnya tak kenal lelah selama berpuluh bulan, aku sendiri tidak bisa menjelaskan apa peruntukan kapal ini bagiku dan bagi orang-orang yang mencemooh aku.
Dari tempatku beristirahat, terlihat Sem, Han, dan Yafet, masing-masing berjalan perlahan menarik pasangan-pasangan binatang terakhir yang harus dimuat di dalam Bahtera. Itu merupakan salah satu “perintahNya”.
Sem tampak menarik-narik tali yang mengikat leher pasangan jerapah berbulu putih bermotif kotak-kotak coklat yang tampak membandel. “Ayo .. ayo hussssshhhh haaaa, masuk ... ayo masuk!” teriaknya memaksa kedua pasang jerapah yang tampak enggan melangkah itu.
“Pancing saja mereka masuk dengan wortel yang agak banyak Sem !!” teriakku pada putra pertamaku itu. Kulihat Han di belakangnya mentertawakan sang kakak yang kerepotan itu. Han sendiri tampak lebih santai menarik pasangan Gajah berwarna abu-abu yang berat tubuhnya mencapai beberapa ton itu. Sang binatang besar berbelalai tampak lebih penurut dibandingkan si leher jenjang.
Maju dengan perlahan tapi pasti memasuki pintu Bahtera. Sesekali Han memberi mereka kacang sebagai tanda penghargaan karena keduanya bersikap “santun”. “Gajah yang baik ! Ayo kita masuk mendahului jerapah!” teriak Han seolah sedang berbicara kepada manusia.
Masih agak jauh di belakang mereka, tampak Yafet dengan wajah yang penuh dengan peluh tampak berjalan sambil sesekali menarik dari depan dan sesekali mendorong dari belakang pasangan kuda nil gendut berkulit tebal lembab dengan pori-pori besarnya. Mereka berjalan sangat lambat dengan pantat besarnya yang bergerak ke kanan dan ke kiri perlahan.
“Bantu aku nanti Han !!” teriaknya kepada Han yang kelihatan sudah berhasil menempatkan pasangan Gajah di tempatnya. “Gak mungkin kuat nih mendorong 2 kuda nil begini!!” teriaknya lagi. “Okay ... siiiippp!” teriak Han dari dalam bahtera. Nampaknya sang Gajah sudah diletakkan di lantai paling bawah dengan sukses.
Aku tertawa-tawa saja melihat polah ketiga anak lelaki itu. Anak-anak baik dan penurut yang dianugerahkanNya kepada ku dan istri. Tak terbayangkan kalau tidak ada mereka bertiga. Mencari kayu gofir - bahan utama kapal besar itu, adalah pekerjaan yang sulit sekali. Kayu ini tidak mudah didapatkan dan tingkat kekerasannya sangat luar biasa. Ketika harus memotong dan melicinkannya sangat tenaga yang harus dikeluarkan. Memerlukan kekuatan anak-anak muda. Aku sih sebetulnya masih cukup kuat, jika mau dipaksakan. Di usiaku yang memasuki 600 tahun ini, rasanya apa saja masih bisa aku buat. Tapi perlu sesekali beristirahat dan berteduh seperti saat ini.
Dari kejauhan tampak istriku datang disertai ketiga menantu perempuan kami. Mereka berempat berjalan beriringan ke arahku. Membawa keranjang penuh berisi roti gandum dan buah-buahan juga susu. “Hmmmm akhirnya makan siang tiba juga” gumamku dengan riang. “Apakah mungkin ini makan siang terakhir di dunia saat ini ya?” Entahlah. Tidak ada yang pernah tahu. Setelah makan siang nanti, setelah pasangan Jerapah, Gajah dan Kuda Nil terakhir selesai diikat di lambung dasar bahtera, aku harus lapor pada “Dia” kalau tugas yang diberikanNya padaku dan anak-anak telah selesai.
“Ayoo Sem, Han, Yafet, makan siang dulu, kalian nanti terlalu lelah kalau tidak beristirahat!” teriakan istriku mengagetkan lamunanku. “Nuh, ini basin untuk mencuci tangan, cuci tanganlah dulu sambil menunggu anak-anak!” katanya lagi padaku.
Ketiga anak perempuan - menantuku itu tampak sibuk mempersiapkan makan siang kami. Semua tampak lezat. Roti gandum berdaging tebal diolesi madu terbaik dari sarang lebah yang menempel di pohon buah kami di halaman. Di dalam roti selembar daging asap diselipkan. Susu sapi segar yang baru saja diperah menjadi minuman kami, dilengkapi dengan buah anggur yang ranum berwarna keunguan dipetik langsung dari kebun di belakang rumah. Makan siang yang sangat sempurna. Perayaan kecil atas tugas besar yang telah selesai. Perayaan terakhir jika memang waktunya akan segera tiba.
Kami ber delapan duduk bersama di bawah Pohon Terbantin di atas beberapa batu dan sebagian di atas hamparan rumput hijau yang lembut nan empuk. Memecah-mecahkan roti dan mengucap syukur kepadaNya atas rahmatNya yang masih dapat kami rasakan.
Tiba-tiba terdengarlah suara berat “itu”.
“Nuh, masukklah ke dalam kapal. Kamu dan seisi rumahmu!” demikian kataNya. Bagiku, yang telah beratus-ratus tahun hidup dan mendengar suaraNya, ini adalah perintah yang cukup keras. Aku hanya mau taat saja dan tidak mau banyak bertanya.
Maka, setelah bersantap, bersiaplah kami ber delapan beranjak memasuki pintu sang bahtera. Beberapa penduduk desa tampak berjalan melintasi tempat kami berada. Mereka mau berburu ke hutan di kaki gunung. “Hallo Nuh, masih sibuk dengan bahteramu ya?” sapa mereka padaku dengan nada yang entahlah .. aku tidak mengerti, terdengar serupa ejekan dan cemooh.
“Iya!” jawabku. “Nampaknya sebentar lagi waktunya akan tiba, aku tetap bermaksud mengajak kalian serta, kalau memang mau!” kataku pada mereka.
Terdengar tawa sekilas dari Josafat - tetangga sebelah rumahku di desa, “Tidak Nuh, kamu lanjutkan saja kegilaanmu sendiri, jangan ajak-ajak kami !” Mendengar jawaban yang menyakitkan hati itu, aku hanya mengangguk. Lama-lama sudah terbiasa mendengar kalimat-kalimat hinaan seperti itu.
“Terserahlah!” pikirku, melanjutkan berjalan perlahan mendaki bukit untuk segera masuk ke lambung bahtera besar bertingkat tiga itu. Semua sudah lengkap di dalam, istri, anak, menantuku, dan semua pasangan binatang yang ada di dunia.
Sem, Han, dan Yafet membantuku mendorong pintu besar bahtera agar dapat bergerak dan menutup. Terdengarlah bunyi berdebam kuat ketika daun pintu yang tebal menutup rapat jalan keluar dan masuk bahtera. Tidak lagi bisa dibuka. Ketika “Dia” menutup sebuah pintu, maka tidak ada manusia seorangpun yang bisa membukanya lagi. Dan sebaliknya juga.
Tiba-tiba langit yang tadi cerah dan panas itu berubah seketika menjadi hitam kelam. Selayaknya malam saja rasanya. Kilat dan guntur bergantian menyambar sangat kuat. Sang cahaya matahari yang tadi masih terlihat jelas dari jendela Bahtera tingkat 3, hilang tak bersisa pantulannya. Semua berubah menjadi gelap dan kelam.
Tak berapa lama hujan yang seperti dicurahkan dari langitpun turun dengan derasnya. Sangat lebat. Luar biasa hebat. Seperti badai saja layaknya. Deru airnya terdengar maraung-raung seperti marah, tidak mau dikalahkan oleh bunyi guruh yang menggelegar seolah mengamuk hebat. Tidak pernah sebelumnya sepanjang usia aku mengalami hal ini. Mengerikan. Inilah pertama kalinya. Dan aku berharap, ini adalah yang terakhir kali juga.
“Nuh ... Nuh ... buka pintu, toloooong Nuh!!” pintu bahtera terdengar digedor kencang oleh tangan-tangan dengan suara panik yang aku kenal betul merupakan sahabat-sahabat di desa. Teman masa kecilku yang ketika beranjak dewasa memilih untuk tidak hidup sesuai kehendakNya.
Aku cukup khawatir mendengarnya, berusaha lari turun dari lantai tiga dan mencoba menarik kuat pegangan pintu besar di lantai dasar itu. Tidak bergerak sama sekali. Tidak bisa dibuka lagi. Pintu sudah ditutup olehNya. Rapat.
Deru hujan badai yang tiada henti dan seolah menumpahkan seluruh air yang ada di langit itu mulai tampak bergulung-gulung di permukaan bumi. Gelombang airnya seketika mulai menghanyutkan desa tempat kami menetap. Aku memandang ke bawah dari lantai 3 dan melihat kumpulan besar air bah menyerbu, mengalir deras, dan melumatkan seluruh desa dengan kekejaman yang ngeri rasanya. Semua seketika tak bersisa. Teriakan terakhir teman-teman yang menangis dan menjerit masih sempat terlintas di telingaku. “Maafkan aku teman!” gumamku dengan hati berduka.
Sem, Han dan Yafet tampak memeluk dan menenangkan istri mereka masing-masing. Ketiganya tampak menangis begitu sedihnya. Orang tua mereka di desa, adik dan kakak mereka, semua tergulung dalam gelombang air bah yang ganas. Tak mungkin ada mujizat keselamatan untuk kedua kalinya bagi mereka semua.
Istriku tampak jauh lebih tenang. Nampaknya saat ini telah lama dinantinya. Ia menunggu dan menunggu moment ini tiba namun tanpa pernah banyak bertanya kepadaku, kapan waktu sebenarnya akan datang. Ia tampak diam dan terus berdoa.
Tiba-tiba terasa kalau bahtera tempat kami berlindung ini terdorong kuat dan mulai bergerak perlahan. “Waaah ... berarti air bah telah naik ke puncak gunung tertinggi sekarang ini!” pikirku. Air naik semakin tinggi lagi, bahkan jauh lebih tinggi daripada puncak gunung dimana aku memarkir bahtera ini.
Mulailah pelayaran kami sekeluarga dimulai, meninggalkan setiap hal yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kami.
“Tak ada lagi teman, sanak keluarga, dan harta kekayaan. Semua yang tidak kekal di bawah sana telah habis terlumat oleh aliran air,” pikirku lagi dengan miris.
“Kalau saja mereka mau taat ... tentu saat ini mereka sedang bersama kami sekeluarga di dalam bahtera.”
TEMA : Sudut Pandang Orang Pertama dalam Suatu Masa
Latihan Menulis Novel Plotpoint
March 2012