
Membaca juga berbagai kutipan berita yang memuat seputaran keputusan pemerintah Indonesia atas hukuman yang paling pantas buat mereka …
Membaca juga bagaimana mereka bereaksi terhadap kematian nya yang sudah di ujung mata ……
Membaca juga berbagai reaksi orang terhadap apa yang mereka telah perbuat, terhadap hukuman yang harus mereka terima …
Mengenang 4 tahun yang lalu Bom Kuningan di lokasi kantor Isat di Plaza Kuningan …..
(mengutip salah satu artikel tersebut di bawah …. )
Di saat-saat penantian kematian dirinya pun mereka masih begitu bersemangat melontarkan berbagai kalimat-kalimat “pengutukan”, hasutan, dan ancaman seperti .. akan adanya balas dendam (smack down), akan dikirimkannya kita semua ke neraka dan berbagai lontaran kalimat lainnya (yang menurut ku reaksi mereka berisi “kalimat kepanikan” karena akhirnya menyadari mereka berada di ujung ketidakberdayaan).
Media Australia Beritakan Ancaman Amrozi CsJakarta (ANTARA News) - Media massa Australia memberitakan ancaman Amrozi, Ali Gufron dan Imam Samudera mengenai serangan balas dendam pendukungnya menyusul eksekusi mereka yang menurut Kejaksaan RI dilaksanakan awal November ini.Media massa Australia mengutip surat elektronik tertanggal 22 Okotber 2008 berisi ancaman Amrozi cs dalam satu laman yang tak disebutkan untuk mencegah publik mengaksesnya.Sumber lain yang mereka gunakan adalah wawancara eksklusif koresponden CNN Dan Rivers dengan ketiga pelaku Bom Bali yang akan ditayangkan setelah Amrozi cs dieksekusi.Dalam surat elektronik bercampur Bahasa Inggris, Imam Samudra menyatakan Barat dan para penghukum mereka tak akan mendapat apa-apa dari tindakannya mengeksekusi mereka.Sebaliknya, mereka akan mendapat "Smack Down" (satu tayangan populer televisi) dari para mujahid, demikian ABC (31/1)."Hey kalian, anak kecil, akan sangat mudah di-'Smack Down' (dibanting) oleh mujahidin. Kalian akan dikalahkan di dunia ini dan dikirim ke neraka," tulis Sidney Morning Herald mengutip pernyataan Imam Samudera.Bukan hanya Amerika Serikat, Australia dan dunia Barat yang diancamnya, ketiga terpidana mati ini juga mengancam pejabat pemerintah Indonesia yaitu Menteri Hukum dan HAM Andi Matalatta dan para hakim yang mengadilinya."Bagaimana bisa Andi Matalatta dan semua hakim Bali itu tidak paham soal ini (Amerika dikalahkan mujahidin)? Apakah mereka tidak tahu Amerika sedang 'klepek-klepek'?" kata Imam Samudera."Kalian kira dengan mengeksekusi kami bertiga, kalian bisa bebas berkeliaran? Jangan harap."Media massa Australia juga mengutipkan hasil wawancara CNN dengan Amrozi cs di mana di situ mereka mengingatkan warga Australia untuk jangan lagi mengunjungi Bali karena para pendukungnya tidak segan untuk mengulangi aksi mereka pada 2002.Ketika Dan Rivers dari CNN mengonfirmasikan bahwa Alquran melarang membunuh orang tidak berdosa, Imam Samudera menjawab sarkastis, "Saya lebih memahami (Alquran) ketimbang anda karena saya muslim, anda kafir."Dikritik Ekspos media massa terhadap Amrozi cs, apalagi dengan menayangkan dan mengutipkan pernyataan mereka, dikritik banyak kalangan di Australia.Sidney Jones dari International Crisis Group, menyatakan heran begitu mudahnya media massa memperoleh akses ke ketiga teroris itu sehingga mereka bisa menyampaikan hasutan dan ancaman ke tengah publik."Rasanya sulit dipercaya kejadian semacam ini bisa berlaku jika ada upaya untuk mencegahnya," kata Sidney seperti dikutip the Herald.Sementara itu, pakar terorisme International Centre for Political Violence and Terrorism Research, Singapura, Rohan Gunaratna mendesak para pemimpin politik dan agama Indonesia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa aksi terorisme Amrozi cs itu salah."Penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengumumkan bahwa apa yang dilakukan para pelaku Bom Bali itu tidak mewakili Islam," kata Gunaratna kepada kantor berita Australia, AAP.
Hanya bisa terpekur dan merenung …. Who we are (human) to judge (other human) ?
Kalau saja setiap orang mau menyadari bahwa ada suatu kekuasaan yang Maha Cipta menciptakan manusia hadir dan terbentuk di dunia dengan sangat sempurna ( baru saja selesai general check up tahunan dan selalu amaze dengan betapa kompleks nya struktur tubuh manusia) , Dia, sang arsitektur kehidupan, merancang struktur dan fungsi tubuh begitu kompleks tapi menciptakannya dengan begitu mudah setiap detail nya. Setiap organ pasti ditujukan untuk sesuatu yang baik. Dan semua kemudian bermuara di sumber segala tindakan dan pikiran yaitu di otak. Maka kembali otak manusia seharusnya mem-formulasikan dan mempertanyakan ……..
Mengapa kita hidup dan diciptakan Tuhan untuk ada di dunia? Kalau Tuhan berkenan, Dia bisa begitu saja memusnahkan, menghilangkan, dan kemudian menciptakan kembali sebuah dunia yang isinya orang “baik-baik” semua dan “enak-enak” semua – seperti ketika jaman Sodom & Gomora diluluhlantakkan dulu. (dunia yang benar-benar baru .. tidak akan ada perang, tidak akan ada kelaparan, tidak akan ada kejahatan, tidak akan ada penyakit, tidak akan ada kelelahan untuk bekerja, tidak akan ada kemacetan, tidak akan ada persaingan berbagai merk … semuanya baik namun tidak ada tantangan lagi dalam memaknai hidup … ).
Buat aku pribadi .. pesan yang paling nyata tersirat adalah Tuhan ingin dalam segala hal manusia kembali berserah kepada diriNya. Supaya pekerjaan Nya bisa dilakukan di dunia dengan baik. Supaya hidup yang kita jalani semata-mata untuk memuliakan diriNya.
Bisa bangun pagi dalam keadaan baik dan masih bernapas semuanya adalah Anugerah. Ketika kemudian berbagai hal yang baik dan buruk terjadi pada hari itu, Semua terjadi karena izin Nya. Dia ingin kita mengembalikan seluruh hidup kita, rencana kita, dan keinginan kita dan bersandar penuh pada kekuasaanNya. Maka nya sangat mungkin hal yang buruk sekalipun terjadi … karena dalam keadaan yang terburuk, di situlah Mujizat Nya akan lebih bisa disadari oleh manusia.
Kalau setiap manusia menyadari bahwa kekuasaan terbesar ada pada Tuhan dan bukan pada dirinya (manusia tidak berbentuk noktah sekalipun di jagat raya ini), maka atas dasar apa manusia bisa menjadi hakim atas manusia lainnya? Kan semua ada pada kedudukan yang sama ….
Sayangnya Amrozi dkk mungkin tidak terlalu menyadari akan hal ini. Keinginannya untuk menjadi “hakim” atas manusia lain yang berbeda (berbeda cara pandang, berbeda keyakinan, berbeda tujuan) menyebabkan terjadi nya berbagai hal buruk dalam bentuk bom yang memusnahkan ratusan umat manusia di Indonesia (dan bahkan di dunia). Di saat-saat terakhir hidupnya saat ini pun mereka masih terus melontarkan “kepahitan” yang sangat pahit pada lingkungan sekitarnya.
Jika saja setiap manusia menyadari bahwa hakim yang berhak menentukan kebenaran dan ketidakbenaran adalah Tuhan, maka (rasanya) dunia ini akan lebih baik daripada saat ini. Manusia tidak perlu memperdebatkan “perbedaan” yang ada (agama, status social, gender, pekerjaan, hobby, kesenangan, usia, dlsb) yang semuanya seringkali jadi akar dari pertentangan dan pertikaian. Jalanilah apa yang kamu yakini dengan baik dan benar. Tapi terimalah dan hormatilah perbedaan yang ada . Suatu saat nanti … hanya Hakim yang Agung saja yang dapat menentukan benar tidak nya setiap hal yang dijalankan manusia di dunia ini.
Namun … hal yang paling sulit diterima banyak manusia adalah kesadaran kalau Tuhan juga yang menciptakan Amrozi dkk teroris lainnya di dunia ini dan punya rencana yang sebetulnya baik atas hidup mereka (entah apa). Yang jelas juga, Tuhan pasti sangat mengasihi mereka sama seperti Dia mengasihi kita. Namun pilihan untuk menjalani kehidupan ada pada setiap pribadi manusia.
Jadi ….. kita semua pun sebenarnya tidak berhak menjadi hakim atas diri saudara-saudara kita yang kebetulan teroris ini. Ikut mengutuki mereka .. ikut menyalahkan mereka habis-habisan … dan berharap mereka mati dengan cara paling menyakitkan (?) …. Apapun itu, karena semuanya menjadi bagian dari keputusan hukum dan pemerintah untuk ditegakkan (Pemerintah dan Hukum adalah “perwakilan Tuhan” di dunia ini ) …. kita hanya bisa turut menghormati keputusan hukum (jangan turut mengotori diri kita dengan “kepahitan” di hati dan di mulut sama seperti yang mereka lakukan .... tidak ada keuntungan sedikitpun untuk kita .... ).


BOM KEDUBES AUSTRALIA ... 4 tahun tidak terasa sudah berlalu ....
Berbicara soal kejadian BOM. Honestly …. memang “sangat mengerikan”. Kantorku (Indosat) 4 tahun yang lalu terletak persis di samping Kedutaan Besar Australia – Gd. Plaza Kuningan terletak tepat di kanan kedutaan yang sejak jauh hari sebelum kejadian sudah sangat paranoid itu.
Hari itu 9 September 2004 sejak pagi hari ruangan kami disibukkan dengan berbagai “keriaan” … ada syukuran kenaikan pangkat, ada syukuran 2 hari ulang tahun …. Sejak pagi hari suasana kantor diwarnai dengan makan pagi bersama yang tidak habis-habisnya karena menu yang beragam …. (Lontong Opor Ayam session 1 – Somay dan teman-teman session 2 – Tiramisu cake session 3) waaah …. Sangat mengenyangkan …. Semua aktivitas pagi itu puji Tuhan menjadi “terhambat” karena setiap orang menyempatkan diri untuk berpesta sebelum mulai bekerja (berangkat meeting dll) - bayangkan jika aktivitas meninggalkan kantor dilakukan tepat pada saat bom meledak.
Tepat pk. 10 an, teman-teman baru selesai meninggalkan mejaku (setelah makan dan rumpi di pagi hari) ketika tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dan me “meka” kan telinga. Seperti bunyi barang yang besar jatuh berdebum dengan luar biasa kerasnya (awal nya aku pikir itu bunyi lift yang jatuh) dan kaca-kaca pecah berhamburan ke meja kerjaku. Plafond atas semua berjatuhan dan kepanikan mulai melanda ruangan. Yang ada di pikiran setiap orang adalah berlari keluar meninggalkan tempat.
Pemandangan di luar selanjutnya memang sangat mengerikan …. Seluruh kaca gedung di seputaran Rasuna Said hancur berantakan. Orang berlarian panic ke sana kemari …. Beberapa orang tampak berdarah-darah karena terkena pecahan kaca yang membuat luka. Teman-teman yang hamil besar kepayahan menuruni tangga (karena tidak boleh lewat lift) dan bayi dalam kandungan mereka berputar posisi semua … setiap orang tiba-tiba menyadari dirinya tidak dalam kondisi siap … tidak bersandal (padahal di luar panas terik dan penuh pecahan kaca) … tidak membawa handphone dan dompet (jadi tidak bisa menghubungi siapapun dan sulit pulang) .. larut dalam kepanikan dan juga tangis.
Keadaan di Kedubes Australia lebih mengerikan lagi … area itu langsung diisolir. Korban dan darah tampak berceceran di mana-mana.
Puji Tuhan .. teman-teman Indosat semua dalam keadaan baik. Hanya mujizat yang mengijinkan banyak teman “luput’ dari keadaan yang terburuk. Ketika setiap orang sudah tiba di rumah dan menonton berbagai liputan berita … barulah disadari betapa hebatnya kerusakan yang terjadi dan betapa dekatnya setiap orang dengan sesuatu yang bernama “akhir dari kehidupan” ….. di kepala terus berputar pertanyaan-pertanyaan WHAT IF … (bagaimana jika hal ini terjadi pk 12.00 ketika jam makan siang dan kami semua sedang berjalan melewati kedubes Aussie, bagaimana jika saat itu kami sedang dalam kendaraan untuk berangkat meeting di tempat lain, dan sejuta “bagaimana” lainnya ….) rasanya merinding dan tidak habis-habisnya bersyukur pada Tuhan untuk setiap hal yang boleh terjadi dan perlindungan yang diberikan ……..
Untuk selanjutnya tinggal “pemulihan” dari trauma yang tidak disadari (setiap malam, banyak teman dan aku juga bermimpi aneh-aneh …. Kadang mengerikan,kadang juga mimpi yang kocak, yang pasti bukan mimpi yang biasa dan wajar). Untuk selanjutnya tinggal menyesuaikan diri dari segala “kekagetan” hanya karena bunyi meja kerja tertendang keras, bunyi lift mati yang agak berdebum, dan lain-lain. Untuk selanjutnya … kami mulai bisa tertawa dan saling mentertawakan ….
Tidak dapat membayangkan apa yang harus dihadapi para korban bom Bali, bom Marriot dan bom di berbagai lokasi yang terjadi. Luka bakar yang membuat cacat dan terlebih lagi luka di dalam hati mereka yang entah kapan akan pulih. Kematian yang merenggut dengan begitu saja orang yang begitu dicintai. Kehidupan yang berubah total seolah seperti hanya menekan sebuah tombol, karena kepergian dan kesakitan yang dialami para korban. Pekerjaan yang hilang, kepercayaan diri yang luntur, ketakutan dan trauma yang tertanam sangat dalam ……………………. Memang semuanya sangat menyedihkan ………………….
Semuanya berakar pada Amrozi dkk, "saudara" kita yang kebetulan berprofesi sebagai teroris itu …. Seolah sangat benar rasanya jika mereka seharusnya dipaksa meninggalkan dunia dengan cara paling menyakitkan … supaya mereka semua "disempatkan" merasakan hal yang sama sakitnya ……. Seolah sangat benar jika setiap manusia boleh menghakimi mereka atas perbuatan mereka ……
Namun ... WHO WE ARE TO JUDGE? ..... akan lebih baik jika kita kembalikan semuanya pada Hakim yang paling berhak menentukan benar tidaknya tindakan manusia … supaya kita semua tidak saling mengotori hati dan pikiran dengan saling melontarkan kepahitan (Amrozi dkk terus mengutuki manusia yang tidak sepikiran dengan mereka dan di sisi lain kita semua juga berbalik terus mengutuki mereka … tidak akan ada habisnya sampai kapanpun … tidak juga ada yang akan menang … semuanya loose vs loose …. semua nya kalah melawan “makhluk kepahitan dan makhluk kebencian” ... karena justru yang menjadi pemenang adalah rasa pahit dan rasa benci ........... ).
.... mudah-mudahan Hukum dan Keadilan serta Pemerintahan (yang menjadi "wakil Yang Maha Kuasa" di dunia ini) selalu memiliki hikmat untuk memberikan keputusan yang paling baik dan benar untuk membela rakyatnya ......
Lets create only Peace to one another ................

















